Ceritaku · Pengalaman · Uncategorized

Road to Mitoni 2

Pagi masih baru menyapa. Wangi mbawang atau di sebagian daerah disebut bacang, menyeruak mesra menembus penciumanku. Ku tau, sejak semalam nafsuku mendorong untuk membuka kardus yang berisi butiran-butiran buah dalam keluarga mangga ini. Tetapi, karena mau dipakai untuk acara mitoni, aku urung.

Iya, insya Allah Sabtu ini buah yang telah diberi sejak dua hari lalu itu akan dikupas. Dicampur bersama nanas, kedondong, bengkoang, delima, jeruk bali, mangga, dan tentunya buah kesuburan : parijoto.

Kemarin, aku memasrahkan semua uang belanja pada bulek. Berdua bersama bulek satunya yang merupakan istri omku, mereka membantuku membeli semua keperluan hajatan. Aku hanya duduk diam di rumah, sebab kondisi perut yang sudah besar begini tak memungkinkanku untuk turut serta memilah-milih barang di pasar.

Sore harinya, suamiku dan mas Yadi memasang terpal di belakang untuk tempat masak orang-orang yang akan rewang. Rencananya, hari ini mereka akan mulai merebus air, menyiapkan kuah rujak, dan mengupas buah-buah.

Di musim hajatan seperti ini, harga buah rujakan melambung tinggi. Tak apa. Yang penting semua ada. Lengkap. Agar enak rasa rujaknya. Dan pagi ini, sejak pukul 06.30 beberapa orang yang membantu di acara hajatan sudah datang. Memulai masak. Melihat kemeriahan dan hiruk pikuk di kebon belakang membuatku antusias dan melupakan besarnya biaya yang kami keluarkan.

Orang Jawa bilang, sing penting rahat 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s