Ceritaku · Pengalaman · Uncategorized

Road to Mitoni 1

Sebentar lagi, insya Allah aku dan suami punya hajat. Sebut saja mantu cilikan untuk acara mitoni, tingkeban, atau syukuran tujuh bulan. Tadinya, ku pikir mau buat acara pengajian dan walimah sederhana. Ringkas. Praktis. Tapi… Nyatanya, berkenaan dengan satu bayi yang merasa dimiliki simbah-simbahnya, akhirnya acara pun membesar.

Bujet yang tadinya hanya sekian, berubah menjadi berkali-kali lipat. Rujak yang hanya mau bikin 100 kantong, membengkak lagi jadi 300. Itupun digadang-gadang akan kurang. Belum mie instan yang ku pikir hanya butuh empat dus, kini berubah jadi 20 dus. Kata bude wajar, karena aku tinggal di kampung. Kalau di kota, berkat bisa diganti roti. Di kampung, berkat ya harus komplit ada telur, daging/ayam, sambel goreng kentang, dan nasi dalam porsi banyak dalam besek.

Dalam hati aku membatin “Wow, sebegini meriah perayaan kehadiranmu, nak.”

Memang dari awal, suami ingin tetap ada acara rujakan. Ditambah dengan simbah-simbahnya yang mendorong agar semakin banyak orang tau, semakin banyak pula yang mendoakan. Sebagai ‘direktur keuangan’ rumah tangga, pasti aku memilih untuk hemat. Lalu, lambat laun aku mencoba memahami kondisi psikologis orang-orang terdekatku.

Suamiku..

Ibuku..

Bapakku..

Mertuaku..

Mereka ingin merayakan keselamatan cucunya tujuh bulan di kandungan. Tentunya dengan teriring doa agar bisa lahir dengan selamat. Maklum, ini anak kedua yang ku kandung setelah yang pertama gugur. Ditambah aku dan suami merupakan anak pertama, jadi insya Allah dia akan jadi cucu pertama pula di keluarga kami.

“Wis, ora sah bingung. Mitoni ki ngko awake dewe insya Allah entuk pahala sedekah bagi-bagi panganan karo nek ono rejeki yo mesti podo nyumbang. Sing penting ono wong ngaji diundang neng omah.” Kata Bapak. (Sudahlah, tak usah bingung. Mitoni tuh insya Allah jadi sarana kita bersedekah lewat makanan yang dibagi. Selain itu, kalau ada yang nyumbang, lumayan bisa jadi tambahan rejeki. Yang penting ada orang ngaji diundang.)

Aku dan suami pernah berkali-kali membahas masalah ini. Apakah sebegitu pentingnya mitoni? Lalu dia pun menjawab “Yang cari uang aku. Aku mau bikin acara buat anakku. Kamu atur aja semuanya. Jangan mikir apa-apa. Masalah uang tinggal bilang.”

Simbah-simbahnya pun maju. “Nek duite kurang, ngomong.”

Akhirnya, aku pun tenang. Yaaahhh bagaimanapun juga, bikin hajatan pasti berurusan dengan duit kan maak ๐Ÿ˜‚. Menjelang masa lahiran gini, pasti fokusnya uang yang ada buat jaga-jaga biaya persalinan, beli perlengkapan bayi, dan juga printilan lainnya. Toh habis lahir nanti pasti ada acara aqiqah, bayar dukun beranak, jamu, dan uba rampe lainnya.

Kelihatannya ribet ya? Tapi ku menikmatinya mak. Pertama kalinya dalam hidup, aku menyukai kegiatan melakukan hajatan dengan biaya besar yang melibatkan tetangga kanan kiri ikut rewang ๐Ÿ˜„๐Ÿ‘

Yang penting, dalam acara syukuran nanti aku konsisten tak ada sound system yang berisik, atau acara-acara yang kurang perlu lainnya. Intinya hanya bagi rujak, ngaji, lalu bagi besek ke tetangga di kampung. Beres ๐Ÿ‘

Advertisements

2 thoughts on “Road to Mitoni 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s