Pendidikan · Pengalaman · Rumah Belajar

Ngajar, Manajemen Diri dan Amal

Diam-diam, ku coba kalkulasi jumlah jam mengajar selama semester ganjil tahun lalu dan sekarang. Mengapa tahun lalu? Karena saat itu aku sering jatuh sakit kecapean. Ternyata hanya selisih dua jam. Pada bulan Agustus-Desember 2017 aku mengajar 30 jam dalam seminggu, sedangkan tahun 2018 ini 28 jam. Tapi kok, capeknya beda ya?

Aku coba mengingat kembali. Dulu, jumlah anak yang belajar di tempatku ada 28 orang. Sekarang 25 orang, di luar yang ngaji. Kalau ditotal, lebih banyak sekarang, yaitu 32 orang.

Dulu, aku mengajar Senin-Jumat. Sekarang pun sama, hanya bedanya untuk jadwal ku selang-seling dan ku bagi harinya. Setiap kelas hanya 3x pertemuan dalam seminggu. Dulu, semua kelas jadwalnya sama : Senin-Jumat.

Dan… Inilah yang paling penting menurutku. Dulu, aku masih mencampur kelas. Sekarang semuanya ku pisah. Satu kelas hanya ada lima anak. Sisanya, kalau mau privat.

Sistem begitu sebetulnya sudah lama ku pikirkan. Tetapi, kata suami sebaiknya jangan dibatasi. Biar semua anak yang mau belajar di sini bisa bergabung. Karena banyak juga anak-anak kurang mampu yang ingin turut belajar.

Awalnya ku ikuti, tapi lama-lama aku berpikir. Beramal tuh gak segitunya. Masih banyak cara-cara baik dan cerdas untuk peduli pada sesama. Berhubung aku menyediakan jasa bimbel, ya harus fokus sama anak-anak yang memang punya minat belajar. Bukan hanya untuk mereka yang berpikir “Belajari di Bu Epik yuk, orangnya menyenangkan.”

Yah, nak. Kalau hanya sekedar menyenangkan kalian, tanpa di kelas pun kita masih bisa interaksi. Sebab itulah, aku memutuskan membuat sistem belajar yang lebih baik. Ada yang bolos lebih dari 3x, ku sms orangtuanya. Pokoknya lebih ketat dan terkontrol.

Pemikiran seperti ini sama seperti akhirnya ku memutuskan resign dari sekolah. Aku merasa bukan orang yang bisa berada pada tempat dengan hasil kecil, tapi dituntut suatu pekerjaan besar. Bicara amal dan keikhlasan, kembali lagi. Masih banyak cara untuk melakukan kebaikan. Lagipula, kalau uangku sedikit, maka sedikit pula lah yang bisa ku bagi.

Saat itu usiaku masih 25 tahun. Untuk sertifikasi agar bisa dapat gaji dua kali lipat seorang guru tetap, setidaknya harus mengajar minimal 5 tahun. Jika benar aku bertahan di sekolah, maka usiaku 29 tahun saat bisa mengajukan sertifikasi guru. Itupun aku harus kuliah lagi dengan jurusan keguruan. Biaya lagi, berkorban waktu, pikiran, dan tenaga lagi. Demi gaji sekian?

Berapa gajinya setelah sertifikasi? Ternyata bisa ku peroleh bersama suami setelah menikah di usia 28 tahun. Tanpa harus lama menanti 5 tahun, dan dengan tambahan biaya kuliah lagi untuk pendidikan keguruan. Itulah, aku selalu merasa salut pada kawan-kawan guru yang mampu bertahan. Mereka melawan segala gejolak jiwa antara ingin keluar dan bertahan. Tetapi, pada dasarnya diriku bukan orang yang suka terkungkung pada suatu tempat dengan aturan ketat.

Tidak, bukan sekolahnya yang bermasalah. Dibanding sekolah lain, yayasannya cukup baik. Sepupuku yang lebih dari 5 tahun ngajar malah belum diajukan sertifikasi. Sedangkan di sekolahku dulu, guru yang telah 5 tahun mengabdi langsung diajukan. Memang tuntutan guru jaman sekarang sungguh berat. Tak sebanding dengan gaji yang hanya cukup untuk seperlima kebutuhanku dalam sebulan pada masa itu.

Terpikir bahwa setelah anak lahir, mungkin aku ingin mengurangi jam ngajar. Tetapi, mengingat cita-cita ini pun telah pernah ku miliki dan ternyata tidak terealisasi (pengen ngajar sedikit malah jadi banyak), akhirnya aku hanya bisa berjanji pada diri sendiri : yang penting gak sampai kecapean ngajar, biar bisa ngasuh bocah.

Jadi, untuk semester depan insya Allah aku akan membuka kelas maksimal 5 saja. Siapa cepat, dia dapat. Tapi kalau jadi banyak, ya pikir-pikir dulu kondisi buah hati gimana. Anak anteng ibu ajar semua, anak rewel ya ibu ngajar sedikit saja 😆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s