Ceritaku · islam

Tentang Zuhud dan Keinginan Duniawi

Semakin bertambahnya usia dan naiknya jenjang kehidupan, pikiran kita pasti akan sibuk dengan keinginan-keinginan. Kalau dulu saat lajang tiap punya uang hanya memikirkan mau ganti gadget apa, makan enak di mana, jalan-jalan ke mana, sekarang aku mulai berpikir menabung untuk bangun rumah, beli mobil, dan investasi untuk pendidikan anak.

Pikiran yang sibuk itu sempat membuatku terobsesi mengejar dunia. Untuk rumah, aku memang tak terburu-buru membeli KPR. Pun tak begitu bernafsu menempati rumah warisan yang diberikan pada suami. Kami sepakat, harus punya sesuatu hasil kerja keras berdua. Agar puas dan nikmat dirasa. Untuk mobil, aku dan suami tak begitu mementingkan memiliki mobil mewah. Kendaraan lama pun tak apa asal mesinnya masih bagus. Sebab sebentar lagi kami punya anak.

Kerabat suami banyak yang tinggal di luar kota, jadi kasihan kalau kami harus membawa si kecil dengan motor. Bisa kehujanan dan kepanasan di jalan. Sedangkan investasi, aku ingin menyiapkan rencana pendidikan terbaik untuk anak-anakku. Kalaupun kelak tak mampu memberi warisan harta, setidaknya telah ku berikan pendidikan dan ilmu yang bisa mereka pergunakan dalam hidup.

Di tengah kesibukan pemikiran akan dunia itu pun aku masih teringat akan rencana umroh kami yang tertunda. Awal tahun 2018 ini, aku dan suami telah sepakat akan berangkat ke tanah suci. Rencananya tahun depan. Kami mulai menabung dan mencari sebanyak mungkin informasi paket-paket umroh. Selain ingin bisa melakukan ibadah, kami juga ingin meminta anak di sana. Tetapi, tabarakallah anak itu sudah dihadirkan sebelum kami berangkat.

Dan ternyata… Kebutuhan hidup hanya dengan berdua dan saat hamil sangat jauh berbeda. Jika biasanya kami berdua bisa hidup -katakanlah- dengan uang kurang dari dua juta sebulan, tetapi selama hamil ini uang segitu masih kurang. Bahkan kadang membengkak hingga dua kali lipatnya. Kami bersyukur karena tidak kekurangan, sebab meski kebutuhan bertambah, Allah masih memberi rejeki lebih. Jadi tetap tidak minus. Berapapun yang kami keluarkan, pasti Allah akan hitung sebagai sedekah terbaik untuk keluarga. Itulah alasanku tak begitu ambil pusing dengan pengeluaran yang naik drastis.

Di saat kesibukan akan pikiran duniawi dan kebutuhan membengkak inilah, Allah punya cara yang indah untuk memperingatkanku. Ada tulisan lama yang tersimpan dalam kenangan. Tentang zuhud.

Jaman dulu, para sahabat cukup waspada dengan ujian kekayaan. Bahkan pernah, Ali bin Abi Thalib menangis dan menolak ketika dunia mendekatinya. Orang-orang terkasih Rasul jauh lebih takut jika dunia menguasai hati mereka dibanding hidup miskin. Bahkan, Abdurrahman bin Auf pernah mengatakan bahwa ujian kemiskinan lebih baik dibanding kekayaan. Karena saat kaya, orang kebanyakan lupa akan Tuhannya.

Lalu, aku pun mencari tahu tentang apa itu arti zuhud. Dalam islam, tak ada larangan untuk menjadi kaya. Yang tak boleh hanyalah diperbudak kekayaan sehingga lupa ada Rabb-nya. Aku tak terobsesi menjadi kaya. Hanya ingin punya rumah, mobil, pergi umroh, dan pendidikan terbaik untuk anak-anakku (terlalu banyak maunya ya 😁) Dan zuhud punya dua ciri, yaitu :

1. Tidak merasa senang saat kekayaannya bertambah.

2. Tidak merasa sedih saat hartanya berkurang.

Itulah yang dimaksud dengan menggenggam harta cukup di tangan, tetapi tidak di hati.

Setelah mengetahui arti zuhud ini, hatiku menjadi tenang. Tak perlu buru-buru mengejar target kapan rumah harus dibangun, kapan punya mobil, dan kapan akan umroh. Yang perlu ku lakukan sekarang hanyalah istiqomah berada di jalan-Nya. Sebab ketika Allah ridho, hidup akan jadi indah meski kita belum punya apa-apa. Aku juga bersyukur karena Allah hadirkan anak-anak untuk ku ajar. Keberadaan mereka selalu ku anggap berkah. Bahkan, banyak keajaiban dalam hidup yang ku peroleh sejak mengajar. Lain kali insya Allah akan ku ceritakan.

Dan yang terpenting… Setidaknya kami punya uang saat ada dalam sebulan ada sederet tetangga hajatan, teman kawinan, bisa beli beras dan lauk pauk, suami punya pekerjaan, aku punya penghasilan, serta bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk tanpa perlu memikirkan kapan akan digusur. Kalau kata hadits sih, keadaan kami ini sudah masuk kategori kaya raya 😂 maasya Allah! Yang perlu ku lakukan sekarang adalah fokus pada apa yang telah Allah berikan dan mengusahakan yang belum diberi dengan sabar dan tawakkal.

“Barangsiapa yang pada hari itu punya cukup bahan makanan, memiliki rasa aman dan tenteram di hatinya, maka dia termasuk orang yang kaya.” (Hadits. Lupa perawinya)

Advertisements

One thought on “Tentang Zuhud dan Keinginan Duniawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s