Ceritaku · Pengalaman

Tentang Jin, Anak Orang, dan Anakku Sendiri

Ada satu orang anak yang kelakuannya cukup aneh. Tiap ngaji, pasti susah fokus. Saat kami sedang murojaah ayat kursi, dia lari-larian. Aku jadi curiga terjadi ‘sesuatu’ padanya. Akhirnya ku coba sentuh ubun-ubunnya sambil berniat ruqyah. Saat aku mulai membaca ayat-ayat ruqyah pada anak itu, tanganku serasa tersengat listrik.

Akhirnya kegiatan itu ku hentikan, mengingat sedang ada janin yang ku kandung. Dugaanku benar. Reaksi demikian menandakan bahwa anak tersebut terkena gangguan jin. Jika dalam kondisi normal, aku bisa mengusahakan agar jinnya keluar. Tetapi saat ini tidak. Trauma keguguran karena gangguan jin membuatku berhenti.

Mungkin hatiku lemah. Kalah pada gambaran masa lalu. Aku pun ingin anak itu bisa punya semangat seperti teman-temannya. Namun, mengingat ada hal berharga yang dinanti seluruh keluarga, maka aku urung melanjutkannya. Semoga keluarganya bisa mencarikan orang lain untuk meruqyah.

Aku sendiri sudah lama menolak untuk meruqyah orang lagi. Selalu ku sarankan mereka untuk menggenapkan solat, rajin baca alquran, dan sering-sering sedekah. Sebab percuma saja ruqyah kalau solat masih bolong.

Ibarat rumah, kalau jendelanya saja masih terbuka lebar pasti akan ada tamu tak diundang yang masuk. Meski pintunya telah ditutup rapat. Begitulah gambaran ibadah sebagai benteng diri. Jangankan yang malas solat. Yang genap lima waktu pun masih bisa diganggu lewat celah-celah maksiat lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s