Uncategorized

Buku dan Adab, Sebuah Perjalanan Menuju Pusat Ilmu

Memiliki buku-buku adalah hal yang menyenangkan. Sebab kita bisa menyelami pikiran beragam orang yang tentunya berkualitas baik. Pilihlah buku yang ditulis orang-orang berkompeten, agar menjadi nutrisi bagi tubuh. Hindari membaca buku-buku stensil yang hanya memperkeruh pemikiran.

Buku yang baik sama seperti sumur bor. Semakin dibaca, kita akan sadar bahwa masih jauh sekali tujuan kita sampai ke pusatnya. Atau seperti kapal. Semakin banyak kita baca, semakin terasa bahwa selama ini kita hanya bermain di tepian pantai. Belum sampai ke tengah, bahkan hingga menjelajah luasnya samudera ilmu.

Buku adalah sebuah representasi keinginan diri untuk melawan ketidaktahuan menjadi tahu. Kalau bisa, sampai taraf paham. Untuk tingkatan terakhir memang lebih sulit. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang menekuni suatu bidang. Para ilmuan, profesor, dan ahli-ahli bidang tertentu pasti telah banyak melahap bacaan-bacaan yang berhubungan dengan minatnya. Sedang bagi kita yang hanya orang awam, setidaknya membaca akan mengikis sedikit demi sedikit penghalang menuju cahaya keemasan itu. Pengetahuan.

Memiliki buku, seperti yang pernah ku katakan sama halnya dengan menggenggam aset warisan terbaik. Kita tak akan pernah memperebutkan siapa yang berhak punya ilmu ini atau itu. Sebab pengetahuan adalah sesuatu yang hanya bisa diserap bagi mereka yang mau. Maka janji Tuhan akan terbentang untuknya, sebuah peningkatan derajat bagi orang-orang berilmu. Berbeda dengan warisan berupa harta benda yang justru bisa merusak persaudaraan. Bahkan, hubungan antara anak dan orangtua pun bisa hancur hanya karena harta.

Keistimewaan ini bukan sesuatu yang bisa diakui oleh diri pemiliknya. Namun, pengakuan dari mereka yang merasakan manfaatnya lah yang akan menentukan apakah benar diri kita punya sesuatu yang patut dihormati. Ada kaidah-kaidah lain yang membuat seseorang tercermin baik, terutama sikap. Hal inilah yang menentukan suatu diri patut dianggap bermartabat atau justru rendah di mata orang.

Di atas ilmu, masih ada akhlak yang harus diutamakan. Itu sebabnya ulama dulu tak langsung mengajarkan ilmu pada murid-muridnya. Setelah yakin mereka telah menjadi sosok-sosok beradab, barulah orang-orang berilmu itu mengajarkan pengetahuan. Jika teko yang diisi air sudah bersih, mana mungkin akan mengeluarkan kotoran di dalamnya?

Itulah ilmu yang didahului akhlak mulia.

Dalam membaca buku, kita memang tidak diajari adab. Semua kontrol ada dalam diri. Mata kita bisa melahap bacaan apapun. Otak kita bisa menyerap semua informasi tanpa batas. Tak akan ada yang menegur jika kita mempelajarinya sambil duduk, berdiri, atau tertawa-tawa. Begitulah ilmu dari sebuah buku. Semua orang bebas memilihnya, tetapi buku yang baik akan mampu mengubah seseorang memilih untuk beradab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s