Pendidikan · Rumah Belajar

Bu Epik Masih Ngajar? Kan Lagi Hamil…

Ada banyak yang bertanya apakah aku masih aktif mengajar bimbel. Ku jawab saja, kalau ada yang masih butuh ya tetap ngajar. Tapi kalau tak ada lagi, aku bisa berdiam di rumah tinggal makan, tidur, dan masalah uang cukup terima jatah dari suami. Entah dari mana asalnya kabar yang menyatakan diriku berhenti ngajar. Yang pasti banyak laporan katanya aku berhenti karena hamil.

Ku katakan bahwa apa yang ku lakukan tak sebanding dengan perempuan-perempuan hamil lainnya. Ada yang dari subuh bekerja dan baru pulang saat matahari terbenam. Dalam kondisi membuncit. Dan mereka menjalaninya dengan tabah. Apalagi aku yang hanya sekian jam saja meluangkan waktu untuk anak-anak.

Justru pada yang bilang aku tak lagi aktif karena hamil, ku katakan pada mereka, “Kalau semua guru yang hamil berhenti ngajar, lalu bagaimana nasib siswanya?” Aku memang ingin berhenti, ketika ilmu dan keberadaanku tak lagi diminati. Namun, selama ada yang membutuhkan, kenapa harus mengakhiri?

Hasil dari bimbel memang… Hemm kalau ku katakan sedikit, aku takut kufur. Tapi kalau ku katakan banyak, nyatanya hanya sepersekian dari gajiku dulu. Ditambah dengan beberapa orangtua yang tidak amanah membayar biaya les anaknya kadang membuatku berpikir apakah salah dan dosaku sayangggg 😂. Baiklah, intinya masih masuk kategori lumayan dan patut disyukuri.

Setidaknya, semester ini aku mendapat kado istimewa dari orangtua yang anaknya naik dua peringkat. Beliau juga termasuk orang yang selalu mencari di saat aku dulu berhenti ngajar karena ikut suami. Padahal sudah ku katakan padanya, “Anak ibu memang rajin. Dia juga selalu penuh perhatian dan fokus. Wajar kalau nilainya naik.” Dipuji begini sebetulnya malah membuatku takut. Aku khawatir kelak jika nilai anaknya turun, lagi-lagi aku akan disangkutpautkan. Seremmm 😱

Aku sendiri sadar diri. Kelahiran anakku dinantikan calon kakek neneknya dari kedua belah pihak. Oleh sebab itu kandungan ini ku jaga baik-baik. Tetapi, mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak juga bisa membuat otak anakku turut berkembang. Dia akan terbiasa berpikir sejak dalam kandungan. Makanya, aku memilih tetap berkarya. Apalagi, sampai detik ini masih banyak yang mengamanahkan anaknya untuk ku ajar lagi.

Jadi, jika ada yang bertanya “Bu Epik masih ngajar?”

Selalu ku jawab, “Tentu. Datanglah ke rumah dan isi formulir, karena Bu Epik akan mengajar anak dengan jumlah terbatas” 😄

Sedangkan untuk ngaji, orangtua di sini pastinya banyak yang lebih mempercayakan anaknya masuk TPQ. Aku sendiri tak masalah, sebab aku pun dulunya pernah TPQ. Ada prosesi wisuda yang dinantikan baik anak dan orangtua. Berbeda jika mereka ke tempatku. Yang ada hanyalah ku ajari melagukan alquran, hafalan surat pendek, dan beberapa sirah nabawi. Selain membaca iqro dan alquran, tentunya.

Tak ada wisuda. Bahkan ingin membuat kelas hafalan pun masih terkendala konsistensi anak-anak. Sebab bimbingan belajar yang ku dirikan bukanlah rumah tahfidz secara khusus. Aku pun tak mengharap jumlah yang banyak, karena murid sedikit tapi serius jauh lebih berharga dibanding banyak tetapi ogah-ogahan.

Aku cukup senang, ketika anak kelas 5 SD yang belum lama ngaji di sini bisa naik panggung meraih prestasi. Meski dalam hati aku juga beristighfar. Itu bukanlah karenaku. Memang kuasa Allah, dan karena anaknya pintar. Mudah diajari untuk paham ilmu agama. Logikanya, kalau gurunya yang hebat pasti semua muridnya sukses. Gemilang. Kalau cuma beberapa sih memang bakat si anak dan kuasa illahi 😄

Tapi, jujur saja aku sangat bahagia setiap mendengar bibirnya melantunkan ayat suci dengan nada yang ku ajarkan. Ternyata, mendengar alquran dari mulut orang lain bisa sebegitu sejuknya. Apalagi, kita yang mengajarkan nadanya. Pernah aku merasa meriang dan tak ingin beraktivitas apa-apa. Tetapi setelah bertemu anak-anak ba’da maghrib melantunkan kalamullah, semua lelahku hilang. Hatiku damai.

Dan untuk anak yang masih kecil-kecil, aku masih berupaya mengajari mereka adab. Sungguh, aku belum bisa masuk sebagai kategori guru yang baik. Lebih mudah mengajari anak ilmu, tetapi berat untuk menyampaikan adab. Mereka bisa menyerap informasi dengan cepat, tetapi tidak dengan bersikap. Inilah PR terbesarku.

Jadi, kalau ada pertanyaan, “Bu Epik ngajar ngaji juga?”

Selalu ku jawab “Enggak, kami justru belajar bareng” 😁

Jujur saja, rumahku dekat dengan musola. Aku tak enak kalau terlalu banyak anak datang ke tempatku dan musola jadi sepi. Sebab itu pernah terjadi sebelumnya, dan aku merasa sungkan bertemu pengurusnya.

Advertisements

3 thoughts on “Bu Epik Masih Ngajar? Kan Lagi Hamil…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s