Pengalaman

Yang Terjadi Ketika Berhenti Food Combining

Melakukan pola makan sehat adalah keharusan ketika berpikir tentang hidup kita dalam jangka panjang. Sebab syarat sakit tak harus tua. Apalagi, jaman sekarang banyak pula orang-orang dengan kategori usia muda yang terjangkit penyakit berat. Memikirkan hal itu, aku memilih pola makan food combing sebagai ikhtiar menuju hidup sehat. Selain itu, aku juga melakukannya untuk program hamil. Bersama suami, pola makan yang cukup mudah dilakukan ini kami terapkan kurang lebih selama tiga bulan.

Pada awalnya, aku ber-FC karena ingin sembuh dari segala macam keluhan yang ku derita. Tadinya, setiap habis makan pedas, aku pasti pup darah. Kadang juga (maaf) lubang duburku rasanya sampai keluar. Belum lagi rasa perih melilit yang menyerang perutku.

Awal tahun 2018 ini, aku berikrar ingin sehat. Karena punya keinginan memiliki keturunan, aku juga sekaligus meniatkannya sebagai usaha untuk hamil. Aku banyak membaca testimoni orang-orang yang sukses hamil dengan food combining (atas ijin Allah). Dan memang, setelah tiga bulan FC, anugerah itu dihadirkan. Tabarakallah.

Ada perbedaan besar ketika masih menerapkan FC dan tidak. Sebetulnya, awal hamil aku masih berusaha konsisten. Namun, karena lama-lama dirasa berat akhirnya aku menyerah. Aku makan apapun yang lidahku bisa menerima agar tidak mual. Karena aku sudah tidak FC, akhirnya suami pun ikut mundur. Tetapi, ku katakan padanya “Nanti kalau kita mau promil lagi, FC lagi ya.”

Yang paling terasa ketika FC dan tidak adalah konsumsi beras kami yang membengkak 😂 Saat masih FC, kami hanya menghabiskan beras 7 kilogram dalam sebulan. Namun sekarang menjadi 25 kilogram. Sungguh, naik tiga kali lipat lebih. Biasanya kami makan nasi seolah menjadi selingan, tetapi setelah berhenti FC, nasi kembali mendominasi permukaan piring.

Lalu bagaimana efeknya dengan tubuh? Dampak yang paling terasa bagiku yaitu jadi mudah mengantuk. Memang tidak lemas, karena aku masih rutin jalan-jalan di pagi hari. Tetapi setelah makan, rasa kantuk pasti menyergap dengan segera.

Meski tidak FC, aku masih mengkonsumsi banyak sayur dan buah. Ditambah olahraga rutin tadi, mungkin itu penyebab tubuhku masih segar meski telah banyak mengkonsumsi nasi. Hasil yang berbeda terlihat jelas pada suami sebab dia tidak pernah olahraga. Jika kelelahan atau begadang, sekarang jadi mudah demam. Itu sebabnya aku cukup ketat mengatur jam tidur dan juga porsi makan suami.

Demikian. Intinya, tidak ada efek terlalu ekstrim ketika kita berhenti FC. Aku pernah membaca testimoni pelaku pola makan lainnya, tubuh mereka kejang dan kaku ketika berhenti diet. Pernah aku sendiri mengalaminya. Sebab itulah aku memilih FC, yang meski berhenti tak akan membuat kita menderita.

Insya Allah aku mau ber-FC lagi. Jika belum mampu di kehamilan trimester akhir, mungkin ketika menyusui. Sebab menjadi sehat dan enerjik itu menyenangkan. Apalagi bagiku yang sudah bersuami 😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s