Ceritaku

Suara Mahasiswa yang Hilang dan Masalah Surgawi

Lagi-lagi, bbm naik. Yang menjadi sorotanku adalah minimnya suara mahasiswa yang dulu sering ku dengar sebagai agent of change. Aku tak tau kalau di pelosok sana mungkin ada yang melakukan aksi. Tapi, media manapun tak pernah memberitakan demo mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Padahal di era presiden sebelumnya, aku sering diajak demo oleh kawan-kawan. Bahkan aku masih ingat ketika senior masuk ke dalam kelas saat pelajaran jurnalistik sastra. Tapi, kami menolak ikut demo dan memilih belajar di kelas.

Mengapa? Pasalnya, aku dan kawan-kawan yang juga anggota organisasi mahasiswa eksternal tau. Demo yang saat itu berlangsung sarat akan kepentingan lainnya. Sama seperti ketika ku lihat demo-demo yang bagaikan versi buku. Berjilid-jilid bagai tak pernah habis. Mungkin yang di bawah melakukan aksi damai ini dengan tujuan benar-benar mulia. Namun, coba lihat yang di atas. Para komandonya. Aku tertawa lepas ketika tau ada organisasi bentukan dari demo itu. Bahkan mengusung capres segala. So pathetic.

Era sebelumnya, suara mahasiswa masih terdengar. Walau aumannya tak sekeras tahun 98. Sekarang yang ramai justru ujaran-ujaran penuh hasutan di sosmed. Dan ini lebih mengerikan bagiku. Jika demo mahasiswa ribut dan ricuh, polisi akan mengusir dan menghajar mereka para provokator. Tapi, hasutan di dunia maya ini lebih susah disingkirkan. Masyarakat banyak yang tumpul logikanya ketika mereka dibenturkan dengan pernyataan-pernyataan ‘panas’ setiap harinya.

Orang-orang membenci presiden. Membenci sesama manusia. Bahkan, membenci sesama muslim hanya karena memiliki pandangan berbeda. Apakah aku tidak membenci? Sungguh, aku juga sempat benci keadaan yang serba mahal saat ini. Tarif listrik naik terus, bbm naik, tapi orang-orang hanya ribut masalah agama. Tapi, aku memahami satu hal. Membenci keadaan berarti kita tak radhiiitu billah. Tidak ridho pada ketentuan-Nya. Padahal naik atau turunnya harga, pasti ada campur tangan dari Allah. Aku menikmati pembayaran listrik dan bbm yang terus naik. Toh kami juga makin lama diberi tambahan rejeki oleh-Nya. Tabarakallah.

Kegagalan rezim saat ini bukanlah pada isu SARA. Tapi, dalam hal ekonomi. Sayangnya, kebencian mendalam terkait agama oleh orang-orang membuat kesalahan itu menjadi bias. Pihak pembela akan menganggap bahwa para hater hanyalah manusia-manusia sok suci yang menganggap agamanya paling benar. Ditambah sekarang, demo yang ada kebanyakan hanya untuk aksi bela Palestina dan berbagai hal berbau keagamaan lainnya.

Jangan bilang aku tak suka dengan aksi itu. Sungguh, aku pun mencoba memahami apa arti membela agama Allah. Dan aku menemukan makna sesungguhnya, bahwa membela agamanya adalah dengan beribadah, berbuat baik, dan juga takwa. Aku lupa kalimat Allah ini tertera pada surat apa dan ayat berapa. Sering ku menemukan ayat bagus, tapi tak mencatatnya.

Dengan keadaan demikian, masih enak di jaman dulu. Kita bebas mengkritik kebijakan pemerintah secara obyektif. Tanpa perlu membenturkan isu SARA. Sehingga, kritik yang diberikan pun lebih bisa diterima dan diaminkan oleh semua golongan. Bukannya seperti sekarang, suara terpecah hanya karena isu surgawi.

Bisakah keadaan itu kembali? Mampukah kita melihat dan menilai kinerja pemimpin secara obyektif? Dan duhai mahasiswa, mana taringmu?

Tulisan ini bukan berarti aku suka mengenang masa lalu yang indah tanpa bisa move on. Hanya saja, aku mengalami masa menjadi mahasiswa dengan berbagai ajakan aksi saat presiden sebelumnya menjabat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s