Ceritaku

Tom, Keluarga Berbulu Kami

Tom the cat
Pose tidur Tom sore ini setelah sukses menyelinap ke kamar

Sore ini hujan mengguyur cukup lebat. Aku baru saja membuang hajat dan saat masuk kamar, ada yang berlari menyelinap lewat pintu yang sedang ku tutup. Sosok berbulu itu tak langsung naik ke kasur, melainkan menungguku dengan tenang di samping tempat tidur.

Sambil geleng-geleng, ku katakan padanya “Tom.. Kamu kedinginan ya?” Aku pun merebahkan diri dan Tom mulai merapatkan tubuhnya tepat di punggungku. Seketika dia tertidur.

Saat aku masuk kamar, Tom memang selalu ikut naik ke kasur. Kemudian dia akan tidur di bawah kakiku. Kadang meringkuk tepat di perutku. Kalau ada suami, biasanya Tom langsung diangkat atau dipanggil keluar. Tak boleh dekat-dekat denganku. Aku sendiri terbiasa membiarkannya berada di sisiku selama tidak menggigit. Aku merasa, selama hamil Tom lebih sering di rumah. Seolah menjaga dan menemaniku saat suami dan adikku tidak ada. Makhluk berkaki empat ini pernah manja padaku dan dia naik di atas perutku yang tengah membuncit. Seketika aku meraung kesakitan. Ku lihat Tom agak ketakutan, seakan tau perbuatannya salah. Sejak saat itu dia tak pernah lagi berusaha naik ke atas tubuhku.

Saat lebaran kemarin, Tom diperlakukan seperti manusia oleh ibu dan bapakku. Mereka senang karena kucing yang ku adopsi empat bulan lalu ini termasuk anak baik. Pernah, saat bapakku makan, Tom mendekat. Bapak bilang padanya “Jangan ke sini ya. Gak boleh minta.” Kucing yang sekarang berusia enam bulan ini pun pergi menjauh dari bapak. Ibu dan bapakku girang melihatnya. “Waaah pinter ya.”

Saat malam hari, ibu malah menyuruh Tom tidur bersamanya di depan TV. “Sini-sini, tidur. Naaah gitu. Udah, merem ya.”

Meski tak sambil dielus-elus, Tom menuruti apa yang ibu katakan. Dia merebahkan tubuhnya dan mulai terpejam. Huaahhh kucing berwarna abu-abu ini memang lebih tepat disebut sebagai anggota keluarga kami. Sikapnya yang manja dan penuh perhatian mendapat tempat tersendiri di hati kami.

Ada kalanya aku dan suami mengkhayal akan nasib Tom setelah anak kami lahir. Mungkin dia akan dipermainkan oleh anak kami. Sebab ada anak tetanggaku yang masih kecil, ketika melihat Tom pasti langsung menyeretnya. Menggendongnya ke mana-mana. Anak berbulu kami yang baik hati ini ajaibnya tak menggigit atau mencakar gadis kecil yang baru akan berusia dua tahun itu. Biidznillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s