Ceritaku

Tentang Kesendirian dan Gairahku Akan Ketersembunyian

Aku adalah tipikal orang yang saat fokus, bisa melupakan semuanya. Mendadak menjadi orang yang seolah bisu dan tuli. Menutup diri, masuk sangat jauh ke dalam duniaku sendiri. Saat lajang, itu bukan masalah. Aku akan ‘terbangun’ saat fisikku lelah. Membuang hajat, makan, dan juga tidur. Namun, semua itu tak bisa ku lakukan setelah menikah.

Contohnya saat merintis usaha agen popok bayi, jujur aku lah yang memulai semuanya. Memikirkan berbagai strategi penjualan dan pemasarannya. Aku menjalankan semua fungsi. Memesan ke pabrik, mencatat ketersediaan stok, membuat pembukuan, dan membalas para pelanggan. Suamiku hanya melakukan pengemasan dan pengiriman.

Lama-lama, aku merasa lelah. Aku kurang bisa berinteraksi dengan orang-orang yang mengganggu ketenanganku. Duniaku yang bebas merasa terenggut. Memang awalnya aku bahagia, banyak dari pelanggan kami yang curhat dan berbagi cerita padaku. Ada juga yang seolah menjadi saudara. Tetapi, aku punya satu sisi yang sejak dulu tak pernah berubah. Aku adalah penyendiri.

Ku akui aku bukan orang yang introvert. Masih tergolong ambivert. Pada beberapa kesempatan, aku suka bertemu dengan banyak orang. Membicarakan banyak hal. Aku juga bisa memulai topik pembicaraan ketika bertemu dengan mereka yang pendiam. Kegiatan-kegiatan inilah yang membuat hidupku seolah menyala terang. Aku merasa bahagia. Berbicara dan bertemu banyak orang membuatku kaya akan pengalaman dan bahan renungan hidup. Aku senang berbincang di dunia nyata. Melihat ekspresi dari semua lawan bicaraku. Merasakan emosi mereka dari raut wajah yang berubah-ubah saat berbicara. Itulah interaksi yang ku sukai. Aku tertarik pada hubungan interpersonal yang mampu mengikat kedekatan dengan lawan bicara.

Di satu sisi, ada bagian dari diriku yang menyukai sepi. Aku suka menyendiri. Sejak sekolah, terkadang aku hanya terdiam di sudut kelas dengan buku bacaan. Tak jarang teman-teman meledekku bahwa aku mulai gila ketika aku tertawa-tawa sendirian karena buku yang ku baca. Bahkan setelah mengenal handphone, kebiasaan itu semakin parah. Aku menghabiskan lebih banyak waktu menatap layar kecil dibanding berceloteh dengan teman-temanku.

Tetapi, dulu aku bukan orang yang kuper seperti dalam tokoh anime. Tak ada yang membully atau menjauhiku. Saat duduk di bangku sekolah aku tetap memiliki banyak teman. Aku belajar, main, dan melakukan banyak hal dengan teman-temanku. Begitupun menginjak bangku kuliah. Aku aktif dalam beberapa organisasi baik di dalam maupun luar kampus. Kekuranganku hanya satu, aku tak bisa lepas dari bahan kesendirianku.

Aku menyadari bahwa setelah menikah, kebiasaan itu harus berhenti. Pernah suamiku sangat kesal ketika aku terlalu sibuk mengurus usaha kami. Sejak itulah aku melepasnya, membiarkan suamiku yang mengurus sebagian besar. Dan aku, aku memainkan peran yang sejak dulu ku idamkan. Bermain di belakang layar. Sekarang, tiap aku sedang memainkan peranku, aku akan meminta suamiku untuk membiarkanku setidaknya satu jam. Lalu aku akan mulai mengeksplorasi semua isi pikiranku, mencurahkannya dalam berbagai bentuk karya.

Setiap usaha pasti butuh ide dan strategi. Di situlah posisiku. Terdengar gila memang, tapi aku kagum pada teori-teori konspirasi. Mereka, segelintir orang yang memainkan keadaan dunia. Di situlah aku bermain. Aku mendorong kemajuan usaha rumah tanggaku lewat sesuatu yang tak terlihat orang lain.

Dan aku merasa bergairah melakukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s