Rumah Tangga

Banyakin Anak, Yuk!

Bicara soal anak selalu menjadi faktor ampuh pengingat usia. Biasanya aku selalu merasa masih 22 tahun, tetapi ketika ada yang tanya “Mau punya anak berapa?” Sontak memori otakku mengingatkan hey, kamu hampir tiga dasawarsa hidup di dunia. Selalu ku jawab, insya Allah minimal empat. Terserah nanti dikasih sama Allah berapa.

Beberapa memang kaget, di jaman sekarang masih ada yang berani program anak banyak-banyak. Biasanya kan maksimal dua. Namun, aku selalu berpikir bahwa anak pasti berkaitan dengan rejeki. Sebetulnya, semua orang paham akan hal itu. Sayangnya banyak yang takut dilanda ketidakcukupan.

Memang, pada awalnya aku dan suami juga ingin punya dua orang anak. Agar tercukupi semua kebutuhan hidupnya, terjamin pendidikannya, dan terjaga pemberian kasih sayangnya. Lalu, aku melihat hal yang berbeda.

Seperti yang pernah ku bilang, segala keruwetan hidup kadang berasal dari pikiran kita sendiri. Ah, kalo anak banyak nanti gak mampu kasih makan. Ah, kalo anak banyak nanti gimana biaya pendidikannya. Wajar, namanya juga manusia. Namun, tidakkah kita malu telah mengkerdilkan Allah dengan pemikiran-pemikiran semacam itu?

Aku tak keberatan rahimku diberi berapapun amanah. Selama Allah menjamin rejeki anakku. Di alquran sudah jelas. Dalam al isra ayat 31, Allah berfirman “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” Bahkan aku mendapat pelajaran dari muridku. Ada beberapa yatim yang belajar di tempatku. Namun, hidup mereka tidak kekurangan. Banyak orang yang menyantuni dalam bentuk banyak hal. Ada yang memberi makan, uang, dan biaya sekolah.

Di situlah aku berpikir. Anak yatim yang tak punya bapak saja masih Allah kucuri nikmat dan cukupkan rejekinya. Jadi, bukan orangtua kan penjamin rejeki anak? Saat masih di Bekasi dulu aku juga punya banyak kenalan yang anaknya lebih dari tiga tetapi hidupnya berkelimpahan (bukan berkecukupan lagi). Jadi, bisa mematahkan mitos anak banyak membuat hidup sengsara.

Keluarga suamiku menjadi contoh lain. Bapak mertua punya anak pertama di usia hampir mendekati 40 tahun. Saat suamiku dan adiknya masih kuliah, beliau sudah pensiun. Bagi sebagian orang mungkin tak masuk akal seorang di usia lanjut berhasil menguliahkan kedua anaknya hingga tuntas. Malahan, adik iparku masuk universitas swasta yang biayanya cukup tinggi. Nyatanya, atas ijin Allah suamiku dan adiknya mampu menyandang gelar sarjana. Hanya dengan penghasilan bapaknya.

Di sinilah mataku terbuka. Anak yang lahir pasti membawa rejeki tersendiri. Dan tak akan mati seseorang sebelum jatah rejekinya habis. Yang penting jadi orangtua jangan pelit ke anak. Misal waktu masih lajang gajinya cuma sejuta, lalu sekarang berdua dengan suami punya gaji dua juta. Setelah anak lahir pasti akan Allah tambah jadi tiga juta. Yang sejuta tuh jatah anak. Musti diingat baik-baik 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s