Ceritaku

Menulis, Sebuah Parameter Diri

Menulis adalah salah satu bentuk dialog dengan diri sendiri. Namun jika tulisan itu bisa dibaca banyak orang, ada pertanggungjawaban moral yang harus dipikul. Tak bisa lagi aku menyetujui kalimat “Ini halaman gue, terserah gue mau nulis apa.” Karena setiap perbuatan ada balasannya. Kalau kita mau panen kebaikan, tanamlah benih yang baik.

Seperti blogging. Salah satu alasanku lebih aktif di blog saat ini, sebab aku sadar bahwa aku tipikal orang yang suka banyak ‘bicara’ saat posting sesuatu. Kadang setelah menekan tombol publish, aku berpikir sendiri. Apakah orang-orang benar butuh tulisanku ini? Dulu aku sempat punya keinginan menjadi penulis yang menghasilkan karya cetak. Tetapi sekarang tidak lagi. Yah, meskipun sebetulnya sempat terwujud saat jadi wartawan. Namun, aku menemukan kesenangan lain. Dengan 100 orang yang mengunjungi blogku tiap hari, berarti ada 3.000 orang yang membaca tulisanku dalam sebulan. Bagaimana dalam setahun? Sepuluh tahun? Maka jumlah eksemplar dan pencapaian ketenaran tak lagi ingin ku raih.

Dan meski telah beralih ke media yang lebih membebaskan akan isi pikiranku, menghubungkan monolog diri dengan jejaring dunia, aku tetap memegang prinsip : bagilah yang bermanfaat. Karena punya anak, beramal soleh, belum tentu cukup menjadi bekal selama banyak keburukan yang kita tebar meski hanya sebuah tulisan.

Sampai saat ini aku masih menulis diary meski hanya pada sebuah aplikasi hp. Aku tetap punya hal-hal yang meski bukan sebuah aib atau hal memalukan, tetapi lebih suka ku buat sebagai kenangan pribadi. Adapun yang ku tulis di sini adalah hasil pemikiran yang akan ku jadikan sebagai tolok ukur diriku beberapa tahun ke depan.

Aku punya beberapa blog. Sejak SD aku sudah suka menulis buku harian dan ketika SMP aku telah memiliki blog pribadi. Bahkan tulisanku saat kuliah, bekerja, merantau, bahkan hingga detik ini selalu ku bandingkan. Bukan hanya soal diksi, tetapi rasa. Contohnya saat kuliah dan labil, aku kebanyakan menulis sesuatu berisi kritikan dan tak segan menulis beberapa umpatan meski itu dalam bahasa asing. Tetapi sekarang, ungkapan semacam itu tak pernah ku lakukan lagi. Diriku telah berubah. Aku bisa mengukur sejauh mana perubahanku lewat tulisanku. Lewat hasil pemikiranku.

Sebab bagaimanapun juga, kata adalah inti jiwa. Teko yang berisi teh tak mungkin mengeluarkan susu. Tak akan bisa pula berubah menjadi madu jika isinya tak pernah diganti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s