islam · Pendidikan · riba · syariah

Lebih Baik Mana, Hutang Bank atau Teman?

Ada pertanyaan menarik seputar utang piutang. Kalau dulu aku selalu bilang jangan hutang bank, kini pemikiranku mulai berubah. Biasanya orang itu balik ku tanya “Tujuanmu menghindari hutang bank karena apa? Beneran takut riba? Takut dosa? Apa cuma takut dikejar setoran sama debt collector?” Kalo niatnya yang pertama, go on. Carilah hutang ke siapapun itu. Tapi kalau cuma mau mendzolimi orang lain, meminjam dengan niat bisa mengulur-ulur waktu pembayaran bahkan berdoa semoga si pemberi hutang lupa, mending hutang bank aja.

Setidaknya kalau hutang bank, hanya kamu sendiri yang berdosa. Kamu tau kan, riba dosanya paling ringan bagai menzinahi ibunya sendiri? Kalau memang berniat menghindari riba, tanpa hutang ke siapapun Allah pasti cukupkan rejeki dan kebutuhan kita kok. Malah akan terkejut dengan pertolongan dari Allah yang tak disangka-sangka (kami udah buktikan sendiri, jadi ini bukan pernyataan omdo).

Lain halnya kalau kita menghindari hutang bank karena takut mikir cicilan. Belum lagi harus serahkan sertifikat, bpkb, dan surat berharga lainnya. Dengan ketakutan itu semua, kita kontak teman, saudara, atau kenalan yang mau pinjamkan uang. Sayangnya, karena niatnya tidak tulus menghindari riba, Allah pun mempersulit pembayaran hutang itu.

Kok bisa?

Dalam hadits sudah jelas kok. Barangsiapa yang berhutang dengan niat tidak melunasinya, maka Allah akan mempersulit dirinya. Bisa jadi salah satu faktor musibah dan segala kesulitan hidup yang kita alami juga karena hutang yang tak kunjung dibayar. Sebetulnya bisa nyicil, tapi uangnya dipakai untuk yang lain dulu. Sms atau telpon orang yang ngasih hutang, bilangnya belum ada uang. Padahal? Bohong.

Sebab itulah, kebanyakan dari penghutang dicap munafik dalam hadits. Mereka suka berbohong. Kalau niatnya baik, Allah pasti memudahkan. Wah, saya punya hutang dua juta. Gaji cuma tiga juta. Kalo dibayar sekaligus nanti anak istri makannya kurang. Cicil ah…

Pemikiran seperti itu jauh lebih baik dibanding Ah, nanti aja bayarnya. Si anu kan orangnya baik. Pasti gak akan marah.

Demi Allah, pasti akan susah pelunasan hutangnya. Kenapa aku bisa berkata demikian? Karena aku sendiri mengalami. Kami pernah berhutang dengan ibuku, saat ada uang aku selalu berpikir untuk tambahan modal dulu, untuk ini itu dulu. Nanti kalau keuntungan sudah banyak, akan kami lunasi sekaligus. Yang ada jualan kami malah stuck, uang tak juga bertambah dan hampir gulung tikar. Namun, saat kami langsung melunasi walau tahu awal bulan hanya akan punya uang sedikit, maasyaa Allah. Allah beri kami kenikmatan luar biasa. Orderan popok langsung membludak, makan apapun rasanya nikmat. Pikiran bebas merdeka karena tak punya hutang. Bahkan tabarakallah sampai saat ini kami bisa bertahan.

Jadi, pikirkan baik-baik. Daripada sok menghindari hutang bank hanya untuk menyakiti orang lain, lebih baik sakitilah diri sendiri. Telat bayar hutang itu bikin sakit hati loh. Malah kalau si pemberi hutang luar biasa marah, bisa-bisa putus hubungan kekerabatan. Walau biasanya sih, yang suka menghindar itu si pihak peminjam.

Soal hutang bank itu jelas hukumnya. Banyak ahli muamalah yang melarang selama ada unsur riba dan gharar. Namun, hutang pada kerabat dengan tujuan bersantai-santai pun aku yakin tak ada satupun dalil yang membolehkan. Bahkan Rasul saja tak mau menyolati jenazah orang yang masih punya hutang.

Semoga jadi renungan untuk kita semua. Jangan lupa selalu cari jawaban dari ahli. Dalam hal ini, carilah ahli hukum muamalah agar mendapat jawaban shahih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s