asuransi · Pendidikan · Rumah Tangga

Tips Tabungan Anak dan Investasi Jangka Panjang

Judulnya mirip sinetron kacangan ya? Tapi ada pertanyaan nih. Apa yang mak lakukan saat ini untuk pendidikan anak? Berapa usia anaknya sekarang? Punya tabungan pendidikan untuknya? Sudah siapkan dana sampai mereka sarjana? Atau sudah beli tanah dan sawah sebagai aset kalau kelak tak sanggup membiayai kuliahnya? Atau jangan-jangan tak memikirkan sama sekali. “Urusan nanti aja, sekarang pikir yang lain dulu,” Begitukah?

Belum lama ini aku bertemu dengan seorang kawan. Usia pernikahannya sama denganku. Justru duluan dia menikah. Tetapi, Allah belum menghadirkan amanah dalam keluarganya. Karena kawanku ini seorang laki-laki, berpendidikan tinggi, dan hidup di kota sebagai perantau, pikirannya cukup luas.

Dia tak buru-buru soal anak. Baginya, yang penting saat anugerah itu hadir, kondisi ekonominya sudah jauh lebih baik dibanding pasangan lainnya. Persis seperti pikiranku sebelumnya. Setelah kehilangan yang pertama, aku berikrar bahwa anak kami berikutnya harus lahir dalam kondisi berkecukupan. Jangan sampai dia menjadi anak orang susah.

“Coba aja sekarang kita lihat. Berapa banyak orang mengharapkan anak. Tapi setelah anaknya lahir, malah cerai. Karena apa? Faktor ekonomi. Cuma pengennya aja digedein, tapi usahanya nol besar. Emangnya anak bisa hidup makan rumput? Cari rumput jaman sekarang aja susah.” Katanya dengan nada kalem.

Aku mengamini ucapannya. Semua yang dikatakannya benar. Beberapa orang teman masa kecilku cerai hanya karena sang suami tak bisa memenuhi tuntutan istri. Akhirnya si istri selingkuh atau minta pisah begitu saja. How ironic!

Aku banyak mendengar keluhan orangtua murid yang akan memasukkan anaknya sekolah. Harus beli ini itu, bayar sekian, dan urusan keuangan lainnya. Lalu aku pun bertanya, apakah sejak bayi tabungan pendidikannya tak pernah disiapkan?

Mereka menjawab tidak. Sebagian lagi menyimpan dalam bentuk perhiasan. Kalau saat waktunya kekurangan uang, setidaknya masih ada simpanan yang bisa dijual. Lalu, bagaimana kalau nominal yang dibutuhkan melebihi harga jual perhiasan simpanan itu? Cari hutangan ke saudara, pinjam ke rentenir, atau malah dengan berat hati meminta anaknya memilih sekolah yang lebih murah dengan kualitas buruk?

Sebelum semua itu terjadi, pendidikan anak harus dipersiapkan bahkan sebelum anak itu ada. Hingga saatnya tiba, kita tinggal ambil jatahnya. Syukur kalau rejeki kita selalu dicukupkan Allah tanpa harus tarik tabungan anak. Jadi, uangnya bisa kita berikan padanya saat dia dewasa. Untuk modal usaha saat anak dewasa, membelikannya rumah, atau diwariskan padanya. Inilah nasehat para orang sukses yang ku tanam dalam benak. Investasi itu penting. Uangnya tak boleh diotak-atik. Apalagi untuk anak, investasi terbaik dunia akhirat.

Hidup penuh rencana itu indah, bukan? Yang penting konsisten dan tau apa tujuan hidup kita.

*definisi hidup berkecukupan versiku: tidak punya hutang, mau beli kebutuhan uang selalu ada, lancar sedekah, bisa punya tabungan dan investasi, pendidikan anak terjamin. Intinya, hidup berkah bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s