Ceritaku · Pengalaman

Menyiapkan Warisan Ilmu

Pada saat mata kuliah Komunikasi Bisnis sedang berlangsung, dosenku pernah berkata “Tinggalkanlah warisan yang baik untuk anak. Kalau tak punya harta, berilah ilmu untuknya. Kuliahkan, sekolahkan yang tinggi, dan berilah buku selain pengajaran akhlak yang baik.”

Ya, buku. Aku pernah punya buku sangat banyak. Semuanya berakhir di tukang loak. Saat aku ke Bekasi untuk kuliah, simbahku di kampung menjual beberapa karung buku yang telah ku miliki sejak SD pada tukang loak keliling. Seingatku sudah ratusan jumlahnya.

Di Bekasi, aku kembali mengumpulkan buku. Setiap ada uang, aku jalan-jalan ke Kwitang, Pasar Senen, Gramedia, atau Gunung Agung membeli buku. Sungguh buku-buku yang tak murah. Aku ingat, ada buku seharga 250 ribu yang ku beli.

Bagiku saat itu sangat mahal karena aku masih mahasiswa. Sebagian lagi hasil pemberian dari teman-teman dan beberapa lelaki yang suka padaku. Aku tak pernah meminta. Saat mereka tanya aku suka apa, ku jawab buku. Jadilah buku-buku itu mendarat di tanganku. Memenuhi lemari buku milikku. Lalu, akhir tahun 2012 musibah menyapa. Rumah kami kebanjiran dan banyak buku yang jadi kurang baik kondisinya.

Sebagian masih coba ku selamatkan dengan menjadikannya ebook. Namun karena prosesnya memakan waktu yang banyak, aku pun menyerah. Tahun 2015 aku kembali ke kampung halaman. Ibuku mengabari kalau ada tukang loak yang berminat membeli buku-buku milikku.

Kesal sebetulnya. Jika ditotal, uang yang ku keluarkan untuk membeli buku-buku itu sudah jutaan. Oleh tukang loak hanya dibeli beberapa puluh ribu. Betul-betul tak sebanding.

Saat itu aku tak begitu peduli. Pikirku, nanti bisa dibeli lagi. Masa sih, aku tak akan cukup rejeki membeli buku-buku baru?

Dan semuanya baru terasa sekarang. Aku bukan tipikal pengandai-andai. Tetapi aku sempat berpikir, kalau saja buku-buku milikku tetap tersimpan dengan baik, aku akan bisa mewariskannya pada anakku. Sebuah pemberian dan peninggalan sempurna untuk kehidupan manusia. Ilmu.

Bicara soal warisan, aku lupa di surat apa dan ayat berapa. Saat masih menjadi agen asuransi, kalimat Allah itu selalu dikutip dan dijadikan senjata pamungkas para agen menjual produk kepada calon nasabah. Laki-laki sebaiknya memiliki harta yang cukup untuk anak istrinya jika dia meninggal. Jadi, sebisa mungkin kita jangan mati dalam keadaan menyusahkan anak dan keluarga. Kaitannya dengan warisan berupa harta benda, itu masih bisa dikumpulkan selama hidup. Apalagi bagiku dan suami yang baru menginjak tahun kedua pernikahan. Insya Allah masih banyak waktu bagi kami mencukupkan diri membeli aset-aset.

Toh dalam kehidupan nyata, harta biasanya jadi sumber prahara. Anak dan orangtua saling lapor ke polisi, saudara saling membunuh, dan putus hubungan antar keluarga karena berebut tanah atau rumah. Lain halnya dengan ilmu. Warisan yang satu ini mencerahkan. Menyinari kehidupan penerimanya. Tentunya harus dilandasi dulu dengan pemahaman akhlak yang baik. Agar mampu menjadi penerang cahaya hidup si anak.

Kini, aku memulai dari awal lagi mengumpulkan bahan warisan untuk keturunanku kelak. Sebagian buku anak sudah ku miliki karena aku sempat hunting buku dari satu pameran ke pameran lain untuk membelikan anak-anak yang belajar di sini. Namun, banyak buku yang dulu mengubah dan membentuk jalan pikiranku tak bisa dengan mudah ku dapat di toko atau pameran manapun.

Beruntung, ada online shop yang menjualnya. Dan petualangan mengumpulkan buku pun kembali ku mulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s