Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah Bagian 4 : Sebuah Petunjuk

Pekatnya langit malam ini mulai memudar. Bintang gemintang masih setia menghias cakrawala yang gelap. Kokok ayam jantan mulai terdengar di seluruh penjuru kompleks, berbarengan dengan gema azan subuh. Tubuh gadis itu menggeliat. Telinganya serasa mendapat bisikan gaib untuk bangun. Dia pun terkerjap. Bergegas bangkit sekaligus takjub. 

Aku bisa bangun saat azan subuh?

Sesaat dia tak percaya pada dirinya sendiri. Hampir tiga dasawarsa hidup, dirinya tak pernah sanggup bangun membersamai panggilan menghadap Tuhannya. Masa kecilnya selalu lelap oleh lelah karena membantu ibunya membuat jajan pasar. Ketika remaja, dia pun kalah oleh penat tubuhnya melakukan pekerjaan sambilan berjualan keliling desa. Dan ketika dewasa, rutinitas kantor membelenggunya untuk tetap di atas tempat tidur dengan mata terpejam. 

Tak pernah genap solatnya selama ini. Bahkan setelah berkawan dengan Dinda yang alim pun, Nasya masih bolong-bolong ibadahnya. Agaknya hari ini ada semangat yang berbeda. Entah mengapa. Semalam sebelum tidur, dilakukannya dulu qiyamul lail. Dinda pernah bilang, solat malam tak haruslah di sepertiga malam terakhir. Namun, waktu terbaik untuk berdoa memang di saat itu karena Allah sedang turun ke langit dunia.

Nasya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kakinya yang jenjang dilangkahkan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lantas diraihnya mukena yang selama ini selalu tergantung di sudut kamar. Dia pun solat. Melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba.

Ketika solat, seluruh tubuh Nasya bergetar. Selama ini, dia selalu cemburu pada Reva. Namun, tak disangka sosok yang dianggapnya sebagai rival itu justru sangat peduli padanya. Teringat obrolan kemarin, ketika Nasya bertanya mengapa Reva memilih dirinya sebagai kandidat untuk kakak sepupunya. Jawaban Reva membuatnya terkejut dan dia pun langsung memalingkan wajah karena malu.

“Aku tau kamu itu baik. Kamu pekerja keras, tegas, dan sayang keluarga. Mas Bimo adalah orang yang cukup keras kalau berhadapan sama orang. Tapi di dalam, kadang dia suka bimbang. Ketegasan kamu insya Allah cocok untuk melengkapi kekurangannya.” Reva menjelaskan alasannya dengan tenang dihiasi bibir penuh senyum.

Nasya merasa malu. Ternyata Reva memiliki penilaian yang baik tentang dirinya. Minggu pagi itu pun mengubah sikap dan pandangan Nasya terhadap Reva. Dia menghapus segala kecemburuan pada Reva. Kini tak ada lagi Reva yang lebih beruntung. Sekarang yang ada, Reva calon adik sepupunya.

Mengingat pikiran itu, pipi Nasya memerah. Wajahnya terhias bahagia dari khayalan yang diciptakannya sendiri. Aaah belum tentu kakak sepupunya mau sama aku.

Bicara soal mas Bimo, Reva telah memberikan nasehat bijak. “Mulai malam ini kamu solat ya, Sya. Minta petunjuk sama Allah. Kalau memang kalian berjodoh, semoga disegerakan. Kalau enggak, ya semoga nanti pas ketemu, Allah tunjukkan hal yang membuat hati kamu gak sreg.”

Itulah sebabnya, semalam Nasya sudah bersimpuh mengharap petunjuk. Sekaligus memohon ampun atas ketidaksukaannya pada Reva selama ini.

Selesai solat, Nasya meraih ponselnya. Masih belum ada kabar tentang Rio. Nasya tak peduli. Jika diingat-ingat foto di galeri milik Reva, mas Bimo nampak lebih gagah dibanding Rio. Wajahnya lebih berwibawa. Entah karena usia yang memang sangat matang atau karena karakter mas Bimo lah yang membentuk aura magnetik bagi Nasya.

Dengan wajah penuh senyum membayangkan mas Bimo, Nasya membuka Facebook. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika melihat tampilan pada home feeds. Di sana, terpampang foto Rio bersama seorang perempuan. Dari sosoknya, Nasya tau perempuan itu bukan mantan istri Rio ataupun saudaranya. Mana ada saudara yang berfoto mesra dengan baju seksi?

Hati Nasya serasa dihantam palu godam. Memang, bukan Rio yang meng-Upload foto itu. Dirinya hanya ditandai oleh si perempuan. Tertulis caption di sana “Dua hari yang sangat menyenangkan bersamamu, sayang.”

Sayang!! What? Dua hari? Jadi, tidak adanya kabar dari Rio karena dia pergi dengan wanita lain. Bukan Geby, anak hasil perceraian dengan mantan istrinya. Nasya merasa tertipu. Namun anehnya, dia tak merasa sakit hati. Segera dikliknya tombol save picture. Dibukanya whatsapp, lalu dikirimkannya gambar itu pada Rio.

“Kok Geby udah segede ini ya. Montok, seksi. Pantes papanya sampe lupa kasih kabar.” 

Pesan itu dikirimkannya pada Rio. Kemudian, dia menambahkan,”Oya, mulai hari ini lo gak usah hubungi gue lagi. Anggep aja kita gak pernah kenal.”

Sungguh hari yang penuh kejutan. Setelah Reva menyatakan ingin mengajak Nasya taaruf dengan kakaknya, Allah menunjukkan kuasa-Nya akan keburukan Rio. Dan anehnya, dia tak sakit hati.

Apakah ini petunjukmu, ya Allah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s