Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah Bagian 4

Malam terus merangkak. Nasya masih gelisah di atas tempat tidur. Baju tidur babydoll-nya basah oleh keringat, sebab malam ini terasa lembab. Langit berkali-kali mengumandangkan guruh, tetapi hujan tak kunjung turun. Keadaan yang sesuai dengan suasana hati gadis berusia mendekati kepala tiga tersebut. Apa yang disampaikan Reva tadi pagi masih membekas dalam ingatan. 

“Sya, aku punya kakak sepupu. Usianya udah matang. Kelewat matang. Tahun depan dia udah seusia Nabi Muhammad waktu mendapat wahyu pertama kali. Tapi, dia belum pernah nikah kok. Jadi memang perjaka tua.” Reva berbicara dengan hati-hati, takut membuat Nasya tersinggung.

Wah jahat banget sih, sodara sendiri dibilang perjaka tua. Hahaha.” Nasya berusaha menimpali kalimat Reva dengan bercanda.

“Hehe.. Ya untuk menegaskan ke kamu aja. Nanti dikiranya dia udah punya istri atau duda gitu.”

Dinda hanya diam saja menyimak obrolan mereka berdua. Seminggu yang lalu, Reva telah mengungkapkan keinginan itu pada Dinda. Mencarikan istri untuk kakak sepupunya. Dinda yang juga ingin melihat sahabatnya menikah, langsung menyetujui. Apalagi, Dinda kenal Reva. Tak mungkin dia mencarikan calon yang buruk untuk sepupu dan temannya sendiri.

“Emang kenapa kok sampe sekarang belum nikah?” Nasya akhirnya tertarik untuk mengetahui latar belakang sepupu Reva.

“Dia itu workaholic. Sebetulnya dulu sempet mau nikah, tapi calonnya kabur dibawa orang. Sejak saat itu mas Bimo gak pernah lagi deket sama cewek.”

Nasya membayangkan wajah laki-laki di usia 40-an yang frustasi ditinggal kekasihnya. Pfff pasti jelek dan tua!

“Insya Allah mas Bimo udah sangat mapan, Sya. Kamu tinggal duduk di rumah pun dia bisa mencukupi kebutuhan kamu. Kalaupun kamu mau kerja, kalian diskusikan aja berdua. Aku udah bilang kamu ini wanita karir dan dia mengerti. Jaman sekarang gitu loh…”

“Mmm…” Nasya hanya menggumam.

Reva tanggap. Dikeluarkannya ponsel miliknya dan dia nampak scrolling dengan jarinya. Sejenak, dia tersenyum. “Ini foto mas Bimo, Sya. Lumayan kok tampangnya. Dinda aja sempet naksir.”

Dinda yang namanya tiba-tiba disebut langsung tersedak kacang bali yang sedang dikunyahnya. “Iiih Reva jangan kitu atuh. Kalo ayang beb misua tercinta tau, bisa ada aksi cemburu buta.”

Reva tertawa. “Gak papa Din, santai aja. Pandangan pertama itu anugerah. Berikutnya baru musibah.”

Dinda manyun, lantas ikutan tertawa. Sedangkan Nasya tertegun sambil memandangi wajah yang ada di galeri Reva. Benarkah itu mas Bimo? Wajah lelaki itu tak nampak sudah berusia 40 tahun. Tubuhnya terlihat cukup atletis dibalut kaos kerah Polo. Sorot matanya nampak tajam dan rahangnya kokoh. Kulitnya agak kecoklatan namun bersih terawat. Wajah Nasya memanas. Secara fisik, mas Bimo adalah tipe pria yang disukainya.

Reva menangkap perubahan wajah Nasya. Dia tersenyum paham. Sebagai sesama wanita, Reva tahu bahwa Nasya tertarik pada sepupunya itu.

“Oke, lihat muka Nasya yang ter-WOW ini, minggu depan aku atur jadwal kalian ya biar ketemu langsung. Kamu free kapan, Sya?”

“Haaah? K..kok cepet amat mutusinnya. Aku kan belum bilang mau.” Nasya makin memanas karena malu.

“Wajah kamu udah ngasih jawaban, tau. Kamu lupa ya aku suka jadi psikolog amatir.”

“Tapi… Apa mas Bimo udah kamu kasih liat fotoku?” Nasya mendadak ber-aku kamu. 

“Udah. Aku kasih liat foto pas kita bertiga makan-makan sebelum pernikahanku.”

Nasya merasa lega. Karena seingatnya, dia selalu memakai jilbab ketika jalan dengan kedua orang temannya itu. Kemudian merasa malu, kenapa kali ini dia ingin nampak alim di mata lelaki?

“Jadi, kamu bisanya kapan Sya? Biar aku atur jadwal ketemu mas Bimo.”

“Emm Minggu depan aja gimana? Malam minggu?” Nasya sengaja memilih malam minggu, karena untuk menguji apakah mas Bimo bisa atau tidak. Cowok seganteng itu gak punya gebetan? Gak mungkin! Malam minggu biasanya laki-laki tampang don juan begitu pasti punya jadwal kencan sama cewek.

“Oke, deal. Aku kabarin ya tempat dan waktunya di mana.”

Itulah percakapan antara mereka bertiga yang kini membuat Nasya gelisah. Dia baru sadar, ada Rio yang harus dipikirkan. Bagaimana dengan hubungannya? Bagaimana kalau akhirnya Nasya memilih mas Bimo? Maukah Rio ditinggal? Ugh! Nasya tak ingin dicap selingkuh.

Memikirkan Rio, Nasya baru sadar laki-laki itu belum menghubunginya sejak sabtu malam. Dia membuka ponsel. Tak ada sms ataupun miskol dari Rio.

Nasya tak peduli. Diletakkannya kembali ponselnya dan mencoba tidur. Baru kali ini dia bisa melewati malam tanpa kabar dari Rio dengan tenang. Baru kali ini, setelah hatinya terpana melihat sosok di galeri milik Reva.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s