Pendidikan · Rumah Tangga · Seksologi

Seksologi Suami Istri : Orgasme untuk Bahagia

Menurut majalah “Men’s Health”, berdasarkan survei, ditemukan kondisi bahwa:

94.7% pria tidak bisa memuaskan wanita di ranjang

91.7% wanita memanipulasi orgasme.

74.6% wanita hanya berpura-pura karena sebenarnya mereka tidak puas secara seksual.

Dunia telah berubah, banyak hal yang dahulu dianggap tabu untuk dibicarakan, namun sekarang demi kemashlahatan dan kesamaan hak dan kewajiban malah perlu dibicarakan dan didiskusikan. Termasuk di sini yang berkaitan dengan The Big “O”. The Big “O” merupakan bagian dari kehidupan suatu rumah tangga, bagian dari kehidupan pasangan suami istri. Nah, kalau ia merupakan kehidupan maka adalah tugas masing-masing kita untuk menghidupinya bukan?

Tidak ada keinginan untuk mendiskusikan masalah ini dalam rangka pornografi ditinjau dalam bentuk apapun juga. Diskusi ini hanya sebagai upaya untuk lebih menyadarkan kaum wanita bahwa mereka memiliki hak (dan tentu juga kewajiban) untuk mendapatkan The Big “O” dalam kehidupan mereka, begitu juga sebaliknya, kaum pria juga perlu menyadari bahwa pasangannya berhak untuk mendapatkan The Big “O” tersebut sebagaimana ia juga berhak mendapatkannya. Ya, pria dan wanita dalam konteks rumah tangga perlu menghidupi kehidupan itu, dan di sinilah kita perlu melihat bagaimana peran Ketofastosis dalam masalah ini.

Tadi telah disinggung selintas mengenai pengertian orgasme, bahwa orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

Di sini terlihat bahwa seharusnyalah orgasme itu dalam konteks hubungan suami istri menghasilkan perasaan puas dan relaksasi pada kedua belah pihak. Terkait dengan hal ini, maka ada beberapa pertanyaan yang mungkin sering muncul di pikiran. Dengan mengetahui konsep-konsep dasar sebagai penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, diharapkan muncul gambaran utuh mengenai hal-hal terkait dengan orgasme itu.

Apakah pria dan wanita mengalami sensasi yang sama saat orgasme?

Tidak ada jawaban yang pasti mengenai pertanyaan ini. Tiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda-beda dalam mendeskripsikannya. Tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa dalam orgasme, ada dua organ tubuh yang terkait yakni penis dan klitoris. Mengapa? Karena keduanya berasal dari jaringan yang sama saat embrio berkembang. Dan hebatnya lagi, selama kita hidup, syaraf tulang belakang (spinal cord) dan otak itu terhubung pada penis dan klitoris melalui rute syaraf yang sama (syaraf pudendal). Oleh karena itu, untuk jawaban pertanyaan ini, para peneliti mengatakan patut diduga, secara umum baik pria maupun wanita memiliki perasaan yang serupa.

Mengapa tidak semua orgasme mempunyai “rasa” yang sama?

Pada wanita (pertanyaan ini sering muncul pada wanita), menurut penelitian, organ intimnya dihubungkan ke beberapa pasang syaraf yang melayani pasangan syaraf yang berbeda. Oleh sebab itu, “rasa” suatu orgasme akan bergantung pada pasangan syaraf mana yang saat itu distimulasi. Untuk wanita, kualitas sensorik suatu orgasme tergantung dari organ mana yang terstimulasi, apakah klitoris, vagina atau serviks. 

Tiap organ berhubungan dengan syaraf pudendal, sehingga bisa dilihat suatu orgasme terjadi pada bagian apa. Sekalipun menstimulasi tiap bagian bisa menghasilkan orgasme, tidak tertutup pula kemungkinan adanya kombinasi stimulasi pada beberapa bagian yang lain, sehingga menghasilkan tingkat orgasme yang lebih hebat.

Pada pria, syaraf pudendal membawa rangsangan dari syaraf pada jaringan kulit penis dan skrotum. Selain itu, syaraf hipogastrik membawa rangsangan dari testis dan kelenjar prostat. Sama seperti wanita, stimulasi pada masing-masing bagian ini akan menimbulkan “rasa” yang berbeda.

Apa yang disebut dengan Multiple Orgasm?

Bila suatu orgasme terjadi berulang dalam periode yang sangat dekat mulai dari interval beberapa detik hingga beberapa menit, kejadian ini disebut dengan multiple orgasm atau orgasme berulangan. Umumnya, bila berbicara tentang orgasme berulangan, maka pihak yang sering dikaitkan dalam hal ini adalah wanita, sekalipun orgasme berulangan (meski jarang) bisa terjadi juga pada pria. Ada teknik dan pelatihan tertentu agar pria juga bisa mengalami orgasme berulangan.
Apa itu anorgasmia?

Anorgasmia merupakan situasi kurangnya atau menurunnya kemampuan orgasme. Pada pria sering disebut disfungsi orgasme yang disebabkan karena faktor fisik maupun psikologis. Dengan kata lain, terdapat gangguan kemampuan orgasmik entah itu orgasme yang tertunda, ketidakmampuan untuk ejakulasi hingga penurunan fungsi ejakulasi. Sedangkan pada wanita, dikatakan sebagai kurangnya kemampuan orgasmik yang ditandai dengan menurunnya intensitas sensasi orgasme, atau lamanya waktu pencapaian orgasme sekalipun telah dilakukan berbagai cara stimulasi.
Apakah Kemampuan Orgasme Menurun di Usia Tertentu?

Boleh jadi. Tetapi, dengan melakukan olah raga teratur serta mengonsumsi makanan dengan gizi yang cukup sebenarnya keadaan ini bisa ditunda. Pada pria biasanya gangguan kemampuan orgasme terjadi karena disfungsi ereksi, apalagi bila pada pria tersebut ditemukan gejala penyakit diabetes mellitus, karena kadar gula yang tinggi pada darah akan mengganggu pasokan darah ke organ reproduksi.
Pada wanita, kecendrungan penurunan terjadi saat memasuki masa menopause, dimana tidak lagi mengalami menstruasi, dan beberapa hormon seperti tidak lagi bekerja seperti seharusnya. Keadaan ini membuat vagina menjadi kering. Dengan stimulasi tertentu, sebetulnya kelenjar Bartholin masih mampu bekerja dan memasok pelumas untuk vagina.
Berapa Lama Waktu Untuk Bisa Mencapai Orgasme?

Tidak ada ukuran angka yang pasti, karena tiap pasangan berbeda-beda. Pada pria bisa tercapai mulai dari satu menit hingga 10 menit sejak melakukan penetrasi.  Pada wanita, pencapaian orgasme jauh lebih lama dibandingkan pria. Di sinilah letak pentingnya memahami hak dan kewajiban tiap pasangan, sehingga masing-masing merasa kewajibannya terlaksana tetapi juga mendapatkan haknya secara adil. 
Dalam keadaan normal, setiap pria dan wanita bisa mendapatkan dan meraih  atau menggapai orgasme itu. Sekali lagi, dalam keadaan normal. Normal di sini artinya, tidak ada kelainan-kelainan pada organ genitalia (internal maupun eksternal) pun tidak ada hambatan psikis yang membuat ketakorgasmean itu muncul.
Dengan struktur internal maupun eksternal yang berbeda, maka memang terdapat perbedaan tipe orgasme antara wanita dan pria. Tuhan menganugrahi wanita dengan tipe orgasme yang paling banyak, begitu juga dengan kemampuan multiple orgasmicnya, sedangkan pria lebih sedikit tipenya. 

Mungkin ini dikaitkan dengan posisi pria sebagai pemimpin bagi wanita dalam ajaran agama, sehingga dengan tipe orgasme yang tidak sebanyak wanita diharapkan ia lebih fokus dalam melaksanakan kepemimpinannya terhadap wanita, fisik maupun psikis. Sebaliknya, pada wanita karena “tugas” kerumahtanggaan yang banyak dan juga menjadi ladang pahala baginya, termasuk mengasuh anak, mengelola rumah tangga dan sebagainya, ia diberi “bonus” berbagai tipe orgasme yang bisa diraih sebagian maupun seluruhnya pada saat berhubungan suami istri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s