Ceritaku · Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah bagian 2

Malam belum terlalu larut. Kawasan padat penduduk di belakang pasar induk tersebut masih amat ramai. Suara celoteh anak-anak dan kumpulan orang dewasa terdengar jelas dari dalam kamar berukuran 6×4 meter itu.

Hembusan udara dingin dari AC menyegarkan ruangan yang hanya dihuni oleh Nasya. Dia ngekos sendirian di Bekasi, meninggalkan keluarganya di Sukabumi. Pertemuan dengan Cici tadi sore membuat Nasya berpikir keras.

Cici memang baik. Dia selalu ada menemaninya. Gayanya juga biasa saja. Low profile meski menempati jabatan tinggi di kantor. Cici memang masih membiayai adik-adiknya sekolah. Menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal. Berbeda dengan teman-teman kantor Nasya yang sering membuatnya terintimidasi. Hp baru, tas bermerk, semua adalah makanan sehari-hari Nasya di tempat kerja. Mau tak mau, dia pun terbawa arus. Dia sering membobol tabungannya sendiri untuk ikut tampil gaya di hadapan teman kantornya.

Bahkan, berhutang. Nasya masih ingat ketika dia ditagih oleh debt collector karena tak mampu melunasi cicilan kartu kreditnya. Saat itulah dia meminta bantuan Dinda. Hutang Nasya beralih. Dari bank, berganti sahabat. Meski sudah dekat dengan Cici, Nasya tak pernah menampakkan kesusahan dirinya. Hanya pada Dinda lah dia berani tampil miskin. Bahkan, pernah berhutang hanya sekedar untuk makan. Gajinya sudah habis untuk membayar cicilan dan beli kamera.

Hanya pada Dinda, Nasya merontokkan seluruh harga dirinya. Dia tak berani menghubungi Reva dan terlihat susah di matanya. Meski mereka dekat, Nasya masih menganggap Reva sebagai saingannya. Reva yang selalu beruntung.

Terbayang Reva di matanya. Gadis itu sebetulnya sosok yang biasa saja. Namun, entah mengapa setiap Reva menatapnya, Nasya selalu merasa rendah diri. Reva disukai banyak lelaki. Dia tau bahwa tak sulit bagi Reva untuk berganti gandengan kapanpun dia mau. Otaknya pun cerdas. Dia melakukan pekerjaan freelance dengan skill-nya tanpa harus repot kerja 9 to 5 seperti Nasya.

Reva adalah gadis Jawa. Kulitnya lebih coklat dibanding Nasya. Namun, mata dan bentuk tubuh Reva adalah dambaan banyak pria. Ditambah dengan kecerdasannya, maka sempurnalah Reva di mata laki-laki. Sayangnya, Reva sama seperti perempuan kebanyakan. Terlalu setia hingga dikhianati pacarnya. Setelah itu, Reva mengikuti jejak Dinda untuk berjilbab. Dia pun tak mau lagi pacaran.

“Aku harap kamu juga segera nyusul kami, Sya. Aku tadinya awal make jilbab juga masih jilbab toples. Suka buka tutup. Tapi, kalo dirasa-rasa, kasih sayang Allah gak nanggung. Masa kita ngikutin perintah-Nya juga setengah-setengah?”

Itu adalah kalimat Reva saat mereka bertemu secara kebetulan di mal. Nasya yang saat itu sedang di gerai kopi dengan konsep terbuka, nyaris tersedak melihat seorang gadis berjilbab mendekatinya. Reva, si sintal cerdas itu telah menutupi tubuhnya.

“Kamu gak sayang bodimu ditutup gitu, Va?” tanya Nasya ketika akhirnya Reva bergabung dengannya. Segelas frappacino yang dipesannya sudah tandas. Dan dia memesan lagi segelas ketika Reva memilih untuk duduk dan ngobrol dengan Nasya.

“Enggak, Sya. Justru aku merasa nyaman sekarang. Kamu tau, dulu aku gak pernah sadar kalo aku ini seksi.”

Uhugh! Nasya nyaris tersedak mendengar pengakuan Reva. “Serius lo, Va? Terus kenapa sekarang lo bisa sadar?”

Pipi Reva bersemu merah. Dengan kulitnya yang kecoklatan itu, Reva terlihat mirip Irina Shayk sedang memakai blush on. “Awalnya aku pedekate sama cowok. Kami saling bertukar foto. Tapi aku kaget waktu dia bilang ‘kamu punya bodi yang bagus’. Aku gak percaya. Aku pikir dia gombal.”

“Terus kenapa sekarang jadi percaya? Lo masih hubungan sama cowok yang ngomong bodi lo seksi?”

Reva menggigit bibirnya. “Enggak lah. Dia terkesan mesum jadi aku hindari. Mmm aku kirimin dia foto full body hasil jepretan temenku. Terus aku liat semua foto temenku, memang lebih fokus ke bodiku. Aku malu, Sya.”

“Kenapa malu? Kan itu anugerah. Kamu jadi gampang dapet cowok. Gak kayak aku. Move on dari satu cowok aja susah banget. Tampangku biasa. Dadaku rata. Pinggul bukan bodi gitar. Makin susah nyari pelarian.”

Nasya mengenang laki-laki yang membuat statusnya bagai layangan. Dia bilang tidak bisa terikat dengan Nasya karena statusnya masih sebagai suami orang, tetapi di lain sisi, dia memperlakukan Nasya seperti kekasih. Kondisi ini membuat gadis berkulit langsat itu galau. Hatinya perih dipermainkan, namun justru karena rasa sakit itulah Nasya tak ingin kehilangan Rio, lelaki yang telah setahun menawan hatinya.

Hal yang jauh berbeda dibanding Reva. Meski tak satu kampus dengannya, Nasya tau bahwa Reva banyak didekati laki-laki. Di dalam komunitaspun, Reva banyak yang suka. Bahkan Andre, cowok ganteng berhidung mancung itupun kerap mendekati Reva secara terang-terangan. Namun, Reva bergeming. Justru meminta Andre menjauh karena tak ingin membuat pacarnya marah.

Maka, amat terkejutlah Nasya. Melihat Reva si magnet kumbang mulai menutup dirinya. Memang masih terkesan gaul. Reva memakai rok batik lebar dipadu dengan jump suit abu-abu. Jilbabnya yang berwarna coklat dimasukkan ke dalam jump suit. Tubuhnya yang bak gitar spanyol itu tenggelam dalam pakaian serba kebesaran. Dengan penampilan yang amat-tidak-aduhai ini, siapa yang mau melirik Reva?

Nasya masih mengamati her rival on sexiness-nya ketika dia melihat Reva tersenyum. Reva mendesah pelan, gadis yang memilih terjun dalam bisnis kuliner ini lalu berkata “Sya, apa gunanya kita menarik perhatian laki-laki lewat bentuk tubuh. Suatu saat, mereka bisa berpaling kalo ada yang lebih seksi dari kita. Mungkin selama ini aku yang bodoh. Aku pikir laki-laki tertarik pada diriku. Hatiku. Tapi kalo itu benar, kenapa mereka selingkuh?”

Nasya terdiam sejenak. Dia berpikir apa yang dikatakan Reva ada benarnya. “Tapi Va, yang nikah aja bisa cerai. Kita gak bisa mengharap hubungan penjajakan macam pacaran pasti langgeng dong.”

Nasya tercekat. Apa yang telah dikatakannya justru menohok dirinya sendiri. Apalagi dengan hubunganku yang statusnya gak jelas? Mau bubar susah, lanjut aja gak tau bisa apa gak. Hati Nasya meradang mengingat HTS (hubungan tanpa status) nya.

Lagi-lagi, Reva tersenyum. “Bener Sya. Hubungan yang dilandasi cinta saja, baik cinta karena tubuh, kecerdasan, atau lainnya, pasti berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Makanya perlu pondasi lainnya biar lebih kuat, yaitu karena Allah. Ini aku lagi usaha nyari suami, Sya. Aku gak perlu cinta orangnya, yang penting mau nikah lillah. Aku juga butuh partner buat ngelola kafeku.”

Nasya tersedak. Kali ini lebih hebat. Nikah tanpa cinta? Emang bisa? Nasya tak habis pikir dengan jalan pikiran Reva. Si idol among the men itu telah berubah total. Namun bagaimanapun, Nasya tetap menghargai keputusan Reva. Setidaknya, Reva bisa melupakan mantannya yang brengsek itu dan berubah menjadi baik. Berbeda dengan dirinya. Rio amat sayang untuk dilepaskan. Nasya merasa rugi harus melepaskan segala kenyamanan yang telah dia dapatkan dari Rio. Ada kalanya, rasa nyaman memang candu paling mematikan.

***

Im’a slave for you

I can not hold it

I can not control it

Lagu Britney Spears yang menjadi ringtone hpnya berbunyi. Nasya terlonjak dari lamunannya tentang Reva. Tertera nama Rio di layar. Huff.. Maybe im your real slave. Gumam Nasya dalam hati. Dia menekan tombol OK dan mendekatkan hpnya di telinga.

“Halo, Sayang.. Maaf ya hari ini aku gak bisa ajak kamu jalan. Geby nangis minta diajak main ke Kidzania. Kamu gakpapa kan?” Geby adalah nama anak Rio.

“Oh.. Gakpapa. Ya udah kita ketemu minggu depan aja. Kamu senengin Geby dulu sana.”

“Ok, love you honey. Bye

Nasya tercekat. Telepon itu sudah ditutup sebelum Nasya sempat membalasnya. Do you really love me, Rio? Hati Nasya terasa digesek sembilu mengingat lelaki yang katanya sedang dalam proses perceraian itu. Bukan, Nasya bukan penyebab Rio dan istrinya bercerai.

Dulu, mereka menikah karena kecelakaan. Tiga tahun setelah hasil perbuatan mereka lahir, istri Rio mengajukan cerai. Kini, mereka sudah pisah rumah. Oleh sebab itulah, Nasya sering dibawa Rio ke rumahnya. Mereka dulu berkenalan saat Nasya melakukan company visit ke perusahaan tempat Rio bekerja. Mereka bertukar nomor hp dan pin bbm, hingga akhirnya jadi akrab dan amat dekat.

Hati Nasya gamang. Meski dalam sedang proses cerai, tetapi Rio tak pernah mengajaknya menikah. Menggantikan istrinya yang sekarang. Bahkan, setiap kali Nasya membicarakan khayalannya tentang pernikahan, Rio terkesan menghindar.

Rio, cintakah kau padaku? Nasya menarik selimut dan menenggelamkan kepalanya. Mencoba tidur, melupakan Rio dan segala sakit yang dia rasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s