Pengalaman

Karena Orang-Orang Seperti Inilah, Kami Jualan Popok

WhatsApp Image 2017-10-07 at 5.58.19 AM.jpeg

Siang yang menyengat. Matahari di bulan Agustus panas menjerang. Suamiku baru saja selesai mengemas pesanan popok. Ada lima orang yang harus kami antarkan orderannya hari ini. Setelah selesai berganti pakaian, suamiku berangkat dengan gundukan popok di keranjang popoknya. Aku sendiri bangkit, teringat pakaian yang sudah ku rendam namun tak kunjung dikucek. Ya, ‘tugas negara’ku harus diselesaikan.

Hanya sekitar satu jam suamiku pergi, dia telah kembali. Hari ini memang rute yang ditempuh hanya jarak-jarak pendek. Setelah mengucap salam dan masuk, suamiku mengatakan hal yang membuat kami tertegun berdua.

“Tadi ibunya si anu bilang, gajinya dia sama suami habis cuma buat beli susu sama popok.”

Aku tau, dari dulu memang kami mengawali jualan popok karena curhatan seorang temanku. Kami pernah satu sekolah dan satu pabrik. Ketika mendengar dirinya bilang bahwa setiap gajian pasti cari promo popok murah, maka saat suamiku diterima kerja di pabrik popok, aku langsung memintanya menemui bagian penjualan di kantornya.

Prosesnya lama, kami harus melewati beberapa prosedur. Baru ketika bulan Desember, kami sudah bisa order sendiri di pabrik. Itupun tidak selalu mulus. Padahal, suami masuk kerja mulai bulan September. Kadang kala, pesanan kami tidak bisa langsung diambil hingga harus menunggu sekian hari. Tetapi, begitu aja sudah cukup. Kami bersyukur, meski dengan proses yang ribet, sampai saat ini kami bertahan dan bisa membantu orang-orang seperti di atas untuk bisa membeli popok bagi anaknya.

Biasanya, orang cenderung menanyakan merk ternama dan sanksi. Sebagian langsung mundur ketika mendengar merk yang kami jual bukan merk terkenal, sebagian lagi memesan untuk tester. Kebanyakan mereka pesan lagi, dan bergabung jadi reseller. Melihat ibu-ibu rumah tangga yang tadinya tidak punya penghasilan lalu beralih jadi seorang pedagang membuat kami senang. Sama seperti kami saat memulai. Berawal dari sedikit, lama-lama omset merekapun lumayan.

Kami sadar, tidak semua orang butuh produk murah. Bahkan anti. Segalanya mau yang mahal dan bermerk ternama. Tapi akan selalu ada yang terbantu apabila kami menjual produk yang membuat budget pengeluaran bisa ditekan. Itulah tujuan kami. Sebab saya sendiri seorang ibu rumah tangga yang menemani suami dari nol. Meski sekarang kondisi kami telah membaik, namun saya tak akan lupa rasanya terhimpit oleh kebutuhan hidup.

Ya, saya pernah hidup teramat susah. Sebetulnya, penghasilan saya dari dulu cukup besar. Hanya saja, saya kurang pandai mengelola keuangan. Selalu boros dan banyak belanja hal yang tidak perlu. Oleh sebab itu, saya sering mengalami paceklik di hari kesekian setelah menerima gaji. Namun, berkat pengalaman hidup yang susah itu saya berusaha belajar mengelola keuangan dengan baik. Justru dari buku orang hebat seperti Heppy Trenggono dan Robert Kiyosaki, ditambah dengan pengalaman hidup lah yang membuat saya memutuskan untuk bermental kaya. Orang kaya bukan berarti yang selalu bisa mengamburkan uang demi gengsi atau kesenangan. Tetapi, mereka adalah orang yang bisa menahan diri dari godaan dan cerdas mengendalikan uang. Kita harus jadi tuannya uang. Bukan budaknya. Bahkan sampai sekarang, saya menjunjung tinggi falsafah Jawa “Ojo gumunan, ojo kagetan, ojo getunan”. Hidup ibarat roda. Setelah susah pasti ada senang. Begitupun sebaliknya.

Dan semoga lebih banyak lagi rumah tangga yang bisa kami bantu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s