Pengalaman

Obat Alami Biduran/Biduren/Kaligata

Aku pernah mengalami biduran yang hebat. Seingatku, ketika pulang merantau dari Semarang di bulan Maret. Entah mengapa penyakit yang sudah sangat lama tak pernah ku derita kembali muncul. Dulu, aku pernah mengalaminya saat masih SD. Ketika biduran menyapa, simbah pasti mengambilkan abu hangat dari tungku dan memasukkannya ke dalam kain. Lalu, dengan kain itulah bagian tubuhku yang mengalami biduran ditekan-tekan sehingga rasa gatal yang amat hebat melanda perlahan berkurang.

Namun, aku tak tau mengapa di usia dewasa kembali mengalaminya. Bahkan, aku sering tak bisa tidur ketika penyakit kulit itu hadir. Aku gelisah dan sering hampir menangis. Puncaknya adalah saat aku mengalami radang usus pasca lebaran. Tak terbayangkan betapa menderitanya aku saat itu. Tubuh begitu panas karena demam, perut sakit melilit dan senantiasa ingin muntah, kepala berat, ditambah lagi dengan bentol-bentol besar menghias tubuh. Dan teramat gatal.

Semenjak biduran, aku selalu membawa Dextim ke mana-mana. Jadi, saat penyakitku itu kambuh, aku langsung meminumnya untuk mengurangi rasa gatal. Tetapi, aku merasa lama kelamaan obat itu tidak mempan. Mungkin tubuhku sudah resisten.

Aku tak pernah tau apa penyebab biduran yang ku derita. Tak pula mencoba berobat ke dokter. Meski menderita, aku cukup menikmatinya. Biar jadi peluruh dosa, pikirku 😀 Mungkin terdengar sinting, tetapi sama seperti caraku menghadapi penyakit tumor yang 9 tahun bersarang di payudara kananku, aku juga santai saja. Itung-itung ngurangin dosa 😀

Setelah sembuh dari radang usus tadi, biduranku juga ikut sembuh. Aku senang, karena Allah memberiku penyakit berat untuk menghilangkan penyakit lainnya. Seperti biasa, selalu ada hikmah di balik musibah. Akan tetapi, kesembuhan itu tidak lama. Aku kembali mengalami gatal yang hebat belum ada sebulan sejak sembuh dari radang usus.

Aku kembali menderita. Segala macam makanan hewani mulai ku batasi. Hanya tahu tempe dan sayuran yang ku makan. Cara ini memang tidak menyembuhkan, tetapi bisa mengurangi rasa gatal dan area kulit yang terkena saat biduran itu muncul. Better lah ya, daripada saat mengkonsumsi makanan hewani.

Namun, sejak dua mingguan aku sudah tidak mengalami biduran lagi. Kalau diingat-ingat, dalam waktu terakhir ini aku sudah mulai rutin mengkonsumsi jus di pagi hari saat perut masih kosong. Aku ingat pada blog seorang food combiner yang mengatakan bahwa dia juga sembuh dari biduran saat menjalani pola makan sehat. Dan mulai kumat lagi saat dia melakukan banyak cheating (istilah untuk melanggar pantangan para pelaku pola hidup sehat).

Para food combiner mengkonsumsi buah di pagi hari sesuai dengan circadian cycle. Sebab pagi hari, tubuh sedang dalam masa pembuangan sisa pengolahan makanan di dalam tubuh. Aku memang tidak menjalani FC, tetapi aku termasuk penganut prinsip bahwa buah harus dimakan saat perut masih kosong, minimal 15 menit sebelum makan besar. Karena itu merupakan sunnah rasul.

Lalu, jus apa yang aku konsumsi? Nah, ini dia. Bahannya murah meriah. Aku rutin meminum jus wortel dicampur tomat dan apel. Sebetulnya seadanya buah dan semaunya. Tapi karena aku sedang ingin menyeimbangkan hormon pasca keguguran, maka jus yang dikenal juga dengan nama 3 diva ini rutin ku konsumsi tiap hari.

Wortel dan tomatnya ku pilih yang lokal. wortel setengah kilo 6 ribu, tomat sekilo 6 ribu. Untuk apelnya, aku memilih apel malang yang kecil-kecil dengan harga sekilo di pasar 16 ribu, di depot buah 20 ribu. Kalau mau lebih enak, ditambahi madu asli. Di sini, harga madu per botol marjan 200 ribu. Murni dari hutan dan di sini juga banyak petani lebah. Madu ini bisa dipakai sebanyak yang kita mau. Bisa juga diganti dengan madu apapun kalau susah cari madu murni. Tapi biasanya, satu sendok makan untuk segelas belimbing jus sudah cukup manis. Jangan pakai gula.

Untuk wortel dan tomat bisa kita konsumsi selama seminggu, apel dua minggu. Setiap ngejus, aku memakai 2 tomat + 1 apel + 1 wortel.

Rincian pengeluarannya sebagai berikut :

Wortel 6rb x 4 = 24rb

Tomat 6rb x 4 = 24rb

Apel 16rb x 2 = 32rb

Total pengeluaran sebulan = 80rb. Jika ditambah madu, maka menjadi 280rb. Masih tergolong murah untuk kesembuhan, kesehatan, dan juga vitalitas tubuh.

Aku pernah membaca, penyakit hadir karena dosa-dosa kita. Bukan hanya dosa maksiat, tetapi juga dosa makan sembarangan. Dengan pola makan yang sembarangan, tubuh terdzolimi dan akibatnya akan menimbulkan penyakit tertentu.

Bukankah cara terbaik mengobati adalah dengan memberantas penyebabnya? Dan yang terpenting, jangan lupa berdoa. Sebab manusia hanya bisa berupaya, sedangkan kesembuhan semuanya dari Allah.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s