haram · islam · Pengalaman · syariah

Happy 1st Anniversary, Toko Mumu! Agen Popok Bayi Murah

Alhamdulillah, setahun sudah kami jualan popok bayi. Segala lelah, penderitaan, dan air mata telah kami lalui. Loh kok pake menderita? Iya, kami pernah mengalami segala bentuk kesusahan untuk usaha ini. Kepanasan di jalan, kehujanan, berdempet-dempetan di atas motor untuk mengangkut popok dari Semarang ke Batang, hingga pernah juga kami kehilangan popok sebanyak tiga bal karena jatuh di jalan. Kami juga pernah beberapa kali (merasa) dicurangi orang lain hingga usaha kami hampir mati. Alhamdulillah, setelah pencarian jawaban yang lumayan panjang akhirnya kami memilih bertahan.

Itu semua adalah cerita dulu. Amat manis dikenang. Kini kami sudah memakai supir untuk mengambil stok. Tak perlu lagi harus susah-susah duduk berhimpitan di jok motor yang sempit, menempuh perjalanan ratusan kilo. Kami hanya perlu menerima orderan di rumah. Apalagi sekarang di Tegalsari, kami tak jauh dari banyak kantor ekspedisi. Pekerjaan suami menjadi lebih ringan. Pelanggan pun sudah banyak. 80% dari luar kota, sedangkan sisanya adalah tetangga rumah dan beberapa reseller kami di Batang.

Jualan popok ini juga pernah mengantarkan kami pada hikmah yang besar. Saat itu, kami amat membutuhkan uang untuk penambahan modal. Hampir saja kami meminjam di lembaga keuangan, tetapi setelah ingat betapa besarnya dosa riba, kami pun urung. Maasyaa Allah, Allah menunjukkan kuasanya. Bantuan modal mengalir dari keluarga kami meski tanpa pernah kami minta.

Kami tak tau sampai kapan Toko Mumu akan bertahan. Ada visi yang besar daripada sekedar berjualan popok. Bagi kami, usaha ini harus bisa berkembang sebesar mungkin. Kami ingin merekrut tenaga kerja. Membuat unit usaha lain sehingga lebih banyak orang yang bisa mendapatkan pekerjaan, serta lebih banyak uang yang kami peroleh untuk bisa dimanfaatkan di jalan yang baik.

Sebab itulah kami menghindari utang. Ada contoh yang baik soal utang ini. Salah seorang teman suami sewaktu kerja di pabrik popok juga jualan. Usahanya sudah besar. Ordernya ratusan hingga ribuan karton. Namun, sayangnya mereka terjerat utang. Hingga saat ini masih berkutat pada jualan dan belum berkembang menjadi sebuah bisnis. Padahal dengan total yang fantastis itu, mereka bisa merekrut karyawan. Nyatanya, semua masih dilakukan sendiri.

Contoh lainnya adalah reseller kami. Pada saat jualan, banyak tetangganya yang minta popok dengan kemasan. Memang, popok yang kami jual tidak ada kemasan seperti yang dijual di pasaran. Kami mendapatkan popok dari pabrik dalam kemasan kartonan. Satu karton terdiri dari dua bal. Jika ada yang pesan, kami akan mengemasnya sesuai jumlah orderan. Tetapi, kualitasnya sama. Daya serap sama, hanya saja beberapa dari popok kami mengalami cacat produksi berupa gambar yang kadang miring hingga ke tengah. Itulah popok grade B yang kami jual. Bukan barang reject seperti yang ditakutkan beberapa orang. Kami juga sadar bahwa jualan bukan hanya sekedar untung rugi. Ada halal haram yang harus dijunjung tinggi. Sebab itu, kami menjual barang yang baik dipakai.

Kembali bicara soal utang, reseller kami itu akhirnya meminjam uang di bank. Dia memesan puluhan karton dari sebuah merk ternama sebab syarat pembelian adalah sekian puluh karton. Naas, barang sudah dibeli, tetapi para tetangganya yang tadi nyinyir malah tetap memilih popok yang dijual Toko Mumu. Reseller kami itupun kolaps. Usahanya berhenti karena barang menumpuk tak laku, sedangkan utang dan bunganya terus berjalan.

Kami sendiri memulai jualan popok ini dengan modal 300 ribuan. Waktu itu tak ada satu karton. Hanya setengah karton lebih. Reseller yang kami dapat adalah Bunda Witi, orang Limpung (Bunda, kami akan terus mengingat Bunda sebagai the very first reseller). Dikarenakan suami bekerja di Semarang dan saya di Subah, maka penjualan kurang maksimal dilakukan. Saya tak bisa bolak-balik mengantarkan pesanan dari pembeli yang mayoritas dari wilayah Batang kota (FYI : Subah sangat jauh dari kota).

Akhirnya, kami pindah ke Semarang. Melupakan popok. Lalu setelah saya mengalami keguguran, lagi-lagi Bunda Witi lah yang melakukan order pertama kali. Tidak tanggung-tanggung, langsung tiga karton. Kami pun mengirimkannya dari Semarang dengan menggunakan JNE.

Order dari Bunda Witi itulah yang membuat saya jadi punya inisiatif untuk jualan popok lagi. Kondisi tubuh saya masih lemah karena keguguran. Tetapi, jemari saya bisa bergerak bebas bermain sosial media untuk memposting popok yang kami jual. Lambat laun, teman-teman kami sendiri akhirnya beli. Beberapa bahkan jadi reseller. Pembeli pun berdatangan dari banyak kota.

Keadaan berbalik drastis. Kehilangan anak di dalam kandungan memberikan berkah lain yang luar biasa bagi kami. Ya, kami tak pernah tau berkembangnya Toko Mumu ini berkah atau musibah. Yang bisa kami lakukan adalah berprasangka baik pada-Nya.

Happy first Anniversary, Toko Mumu :*

TOKO MUMU's1st ANNIVERSARY (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s