Pendidikan · Rumah Belajar · Uncategorized

Salah Satu Faktor Pasti Penentu Kebodohan Anak = Orangtuanya

Setahun yang lalu, aku pernah mengajar mereka berdua. Sebut saja namanya N dan R. Ada perbedaan yang besar pada mereka dibanding dulu. Kini, N yang tadinya dominan seolah tertinggal jauh dari R. Dalam waktu hampir sebulan ini, ku akui mereka berdua tetap rajin. N lebih enerjik, tapi redup dalam hal membaca.

Berbeda dengan R yang malas tetapi hasil pekerjaannya nyaris sempurna. Dalam hal membaca, R jauh melampaui N yang dulu meninggalkannya jauh.

Ada apa gerangan?

Ketika orangtua R datang, aku memanfaatkannya untuk menggali informasi latar belakang keduanya. Tersebutlah cerita bahwa N selalu dimarahi oleh ibunya ketika memperoleh nilai di bawah 100. N harus selalu unggul. Bahkan tangan pun tak segan melayang ketika N dinilai nakal oleh ibunya.

Hatiku pilu mendengarnya. N ku yang lucu memang masih selalu ceria. Tapi, aku tak tau dia mengalami tindakan separah itu dari orangtuanya. Dibanding teman-temannya, N termasuk anak yang sangat antusias dalam belajar. Dia paling cepat bergegas mengerjakan soal, paling semangat bernyanyi, dan bermain ice breaking bersamaku.

N tak menampakkan kerapuhan sama sekali !

Hanya saja.. Melihat kemampuan membacanya berkurang drastis, aku amat miris. N ku yang malang seolah takut salah membaca jika ku sodori beberapa potong kalimat. Aku sedih.

Berbeda dengan R, orangtuanya tak pernah menuntut apa-apa. Mau dapat nilai 100 oke, dapat 50 pun tak masalah. Yang penting anaknya sudah berusaha. Maka, orangtua R telah memetik hasilnya tahun ini. Anaknya tumbuh gemilang. Jauh di luar dugaan, sebab dulu banyak yang menganggap anaknya bodoh dan lambat berpikir.

Apakah kalian tau, kebodohan anak bukan hanya karena malas belajar. Ucapan kalianlah yang menjadi doa mustajab bagi mereka. Aku jadi ingat seorang sahabat di Bekasi.

Anaknya tidak pintar dalam hal akademis. Bahkan anaknya ini dulu sangat nakal. Tapi sang ibu selalu memarahi dengan kalimat baik.

“DASAR KAMU ANAK SOLEH! BAKALAN JADI BOS LU NANTINYA!”

Ungkapan kemarahan sang ibu memang belum menampakkan hasil akhir doanya. Anaknya belum jadi bos. Tapi soal kesolehan, jangan ditanya. Maasyaa Allah pokoknya!

Jadi, apakah kita masih mau mendoakan anak sendiri bodoh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s