islam · Pengalaman · riba · Uncategorized

Asuransi dan Riba. Alasan Saya Berhenti Jadi Agen Asuransi

Bicara soal riba dalam asuransi memang menjadi pro kontra. Ada yang menyanggah dengan keyakinan bahwa asuransi adalah usaha manusia dan Allah menjadi penentunya, ada juga yang teguh pendirian asuransi haram. Pasalnya, banyak orang yang dikenal alim, bahkan ustad pun jadi agen asuransi. Saya akan menceritakan pengalaman menjadi agen asuransi syariah dan alasan mengapa saya keluar.

Pada tahun 2014, saya diajak oleh ibu waka kurikulum di tempat saya mengajar (semoga Allah merahmatinya). Beliau mengajak saya bergabung menjadi agen salah satu perusahaan asuransi terbesar. Saya tau maksud beliau baik. Ingin mengajak saya mengubah nasib dan membantu orang lewat asuransi.

Saya pun memutuskan bergabung di lini syariahnya. Saya banyak kenal orang-orang baik muslim maupun nonmuslim di sana. Tentunya tak sulit bagi nonmuslim untuk menjual paket asuransi, berbeda dengan halnya kami yang muslim. Ada pertentangan besar soal hukum asuransi.

Pertama, leader menunjukkan semacam keputusan MU* bahwa unit asuransi yang saya jual tidak menyalahi aturan agama. Mungkin ini dimaksudkan agar kami para agen tidak ragu mencari nasabah. MU* gitu loh.. Tapi, bagi saya yang kritis ini, itu bukanlah jaminan. Sebab saya tau, dulu MU* pernah memfatwakan facebook haram namun tak ada efek apapun bagi muslim di indonesia. Kedua, saya kenal anggota MU*. Akhlaknya tak begitu bagus, sehingga saya pun berpikir keputusan MU* tidak bisa dijadikan jaminan.

Bahkan hadits shahih saja derajatnya bisa turun ke hasan atau malah dhoif kalau akhlak perawinya tidak baik kan?

Maka, saya tidak ambil pusing soal keputusan MU* itu. Yang perlu saya cari tau adalah : ini riba atau tidak?

Alhamdulillah, setelah lulus ujian keagenan asuransi, saya diajari cara menghitung premi. Misal ada nasabah invest 500 ribu sebulan harus dialokasikan berapa untuk kesehatan dan berapa untuk dana pensiun. Saya diajari jangan serakah. Harus pro nasabah agar kelak jika nasabah sakit, mereka bisa mendapatkan layanan yang prima dan maksimal dengan uangnya tersebut.

Sangat bagus memang. Perusahaan asuransi ini sangat pro nasabah. Saya juga tergiur, bahkan sempat meminta ibu saya ‘menabung’. Hanya dengan 500 ribu sebulan, dalam waktu tiga tahun ibu saya bisa mendapatkan uang 18 juta, plus layanan kesehatan kelas VIP. Kalau 20 tahun tidak diambil, nilainya bisa sampai 500 juta. Padahal kalau menabung sendiri, 500 ribu selama 20 tahun hanya akan memperoleh tabungan 120 juta.

Fantastis!

Tapi, dari mana uang tambahannya? Mengapa bisa berkembang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuin saya. Maka, pada kelas yang diisi oleh leader, saya memberanikan diri bertanya.

Leader itu tersenyum manis. Dia mengatakan bahwa uang nasabah diinvestasikan perusahaan asuransi kami pada berbagai sektor riil. Dan untuk asuransi syariah, hanya diinvestasikan pada perusahaan-perusahaan yang menjalankan usaha non riba. Contohnya tambang, perkebunan, dan lembaga non ribawi lainnya. Tapi dia tidak pernah menyebutkan nama perusahaannya. Mengapa harus dirahasiakan?

Ketika saya mengikuti islamic economy class, ada kajian tentang riba. Hati saya rasanya mau meledak. “Semua pertambahan uang yang dilakukan dengan cara batil adalah riba. Termasuk asuransi”

Loh, kita kan invest uang. Yang ngelola perusahaan asuransi. Jadi gak batil dong? Gak riba dong?

Baiklah.. Apa niat kita berasuransi? Membeli produk kan? Ingat buibu.. Kami para agen disuruh menjual paket jaminan kesehatan dan investasi. Yang pakai setoran bulanan itu namanya jaminan kesehatan. Sedangkan investasi beda lagi. Dan hanya sekali saja dilakukan, misalnya invest langsung 100 juta. Bukan disetor tiap bulan.

Jadi, jamkes + invest adalah dua akad yang berbeda. Dalam jual beli, haram hukumnya.

Kedua, soal investasi. Kita tidak pernah tau berapa prosentase keuntungan dalam investasi. Di dalam aplikasi asuransi, ada pilihan low risk low profit dan high risk high profit. Nasabah disuruh memilih, mau jenis resiko yang mana.

Kalau pilih yang low risk low profit, maka pertambahan uangnya ajeg. Tetap. Dan tidak mengalami kebangkrutan. Tetapi kalau memilih high risk high profit, saat perusahaan untung maka uangnya langsung bertambah banyak. Namun saat merugi, nasabah pun ikut rugi. Bukankah ini bentuk perjudian?

Atas dasar semua itulah saya memutuskan berhenti. Alhamdulillah, dua tahun berselang, saya chat dengan leader saya (semoga Allah merahmatinya) dan mendapatkan kabar bahwa beliau juga sudah keluar dari keagenan asuransi. Sekarang beliau sedang berusaha keluar dari jerat riba. Semoga Allah memudahkan.

Apa yang saya tulis hanyalah isi curahan hati saya. Mengenai hukum riba dalam asuransi, silakan tanya pada ahlinya. Jangan tanyakan pada sembarang ustad atau kiyai, apalagi ustad atau kiyainya (maaf) sudah jadi budak riba. Naudzubillahi min dzalik

Advertisements

4 thoughts on “Asuransi dan Riba. Alasan Saya Berhenti Jadi Agen Asuransi

  1. alhamdulillah…saudaraku…
    semoga kita semua dijauhkan dari riba,
    dan tak tergiur dengan iming2 sesaat baik nasabah maupun agennya…
    percaya dan yakin hanya pada Allah.

    Liked by 1 person

  2. Malah sekarang ane yang menghibahkan diri jadi agen asuransi syariah, dulu ane sempat berfikir seperti agan ini 🙂
    Tapi setelah masuk kedalamnya, misi kita saling bantu, gotong royong, saling menyantuni, bersedekah dll. Ikhtiyar setiap kepala memang berbeda2, ikut asuransi juga termasuk salah satu ikhtiyar suami sebagai tulangpunggung keluarga 🙂

    Like

    1. Barakallah pak, semoga ikhtiarnya senantiasa dipertemukan jalan lurus yang diridhoi Allah. Untuk tau halal haram itu gampang pak, selama gak ada gharar dan riba berarti asuransinya halal. Yang dulu saya jalani ada riba dan juga gharar. Jadi saya keluar. Karena saya pikir untuk beramal dan menolong orang ada banyak cara lain yang lebih halal 😄

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s