islam · Pengalaman · riba · Uncategorized

Hutang, Idealisme, dan Janji Allah

Saya ingat. Waktu masih SD, kumpulan rumpinya almarhum simbah sering membahas tetangga kami yang doyan ngutang. Beli TV ngutang, bangun rumah ngutang. Terlihat amat nista.

Sekarang, belasan tahun berlalu. Tren di kampung kami bergeser. Lebih banyak orang ngutang dibanding yang beli apa-apa cash. Maka, gosip si anu ngutang dengan nada nyinyir pun musnah seiring perkembangan jaman.

Ngutang adalah candu. Sekali utang, akan ketagihan ngutang lagi.

Saya pernah mengalaminya, ketika di 2016 mengalami keguguran, saya butuh biaya banyak. Maka, saya pun utang pada ibu.

Karena saya tau utang itu tidak baik, saya mengangsur pembayarannya perbulan. Itupun kadang utang lagi untuk tambahan modal usaha jualan popok bayi. Sebab rasanya enak, tinggal pinjam, kita langsung dapat sejumlah uang yang kita inginkan. Nyandu!

Alhamdulillah, di bulan April 2017 saya dan suami nekat. Tak apa kami hidup pas-pasan asal tanpa utang. Maka, gaji suami dan modal usaha kami pakai untuk bayar utang. Totalnya 4,5 juta.

Masih sedikit memang, bila dibandingkan dengan senyumanmu… Eh, dengan yang utang ratusan bahkan milayaran rupiah.

Namun, entah mengapa hidup kami terasa lapang setelah utangnya lunas. Pikiran terasa ringan walau uang tak tau akan cukup sampai akhir bulan atau tidak.

Alhamdulillah, Allah menunjukkan kuasanya.

Ibu saya justru mentransfer uang selang beberapa minggu setelah utang dibayar. Untuk modal katanya. Dan tak usah dilunasi karena itu pemberian. Bukan utang.

Maka, saya dan suami pun langsung memakainya untuk modal usaha. Bahkan sebetulnya kami sudah dipercaya pihak pabrik popok untuk menjual dulu baru bayar. Tapi saya tidak berani karena alasan tertentu.

Bicara soal utang memang tak ada habisnya. Allah tidak melarang, namun Rasul pun tidak menganjurkan. Saya sendiri bukan tipikal orang yang bisa hidup tenang dengan utang.

“Kalau tidak utang tidak akan punya apa-apa”

Iya, itu omongan manusia. Tapi Allah punya janji yang lain.

Kita tak akan pernah dianggap beriman sebelum diuji. Termasuk idealisme saya untuk tidak berhutang. Saya dan suami pernah hampir utang ke bank. Di bulan April itu kami merasa kekurangan modal. Maka terbersitlah keinginan untuk utang.

Saya sendiri ragu, antara butuh uang dan takut laknat Allah. Ditambah dengan sharing dari kawan-kawan pengusaha muslim yang bangkrut setelah utang uang riba.

Bismillah, saya pun menjauh dari bank. Padahal, permohonan kami hampir di acc. Nyatanya keajaiban memang selalu ada bagi mereka yang percaya. Saya dan suami tetap hidup tenang tanpa utang dan kejar target setoran. Maasyaa Allah.. Nikmat! 😍

Qadarullah, jauh sebelum saya menikah, pakde Toni juga pernah memberi nasehat jangan pernah ngutang. “Hidup seadanya. Mampu beli, gak mampu ya sabar aja dulu.”

Jadi, masih ragu akan janji Allah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s