Rumah Belajar · Uncategorized

Memulai Kembali, Terima Kasih Utsman!

Pasca lebaran, saya mengalami sakit. Gejalanya mirip radang usus yang pernah saya derita di Januari 2016. Selama sakit itulah saya menyibukkan diri dengan membaca. Buku sirah nabawiyah yang lama tergeletak akhirnya dibuka kembali. Dan saya tertohok.

Utsman bin Affan. Lelaki-tidak-enakan yang amat dermawan itu membuat angan saya melambung. Orangnya sudah lama mati. Namun namanya kekal dalam berbagai bisnisnya yang tak henti mengalirkan amal jariyah. Seketika saya bertanya pada hati, “Bagaimana caranya seperti Utsman?”

Akal ini pun kembali mengingat pada permintaan ibu-ibu yang anaknya pernah ku ajar. Mereka mengeluhkan minat belajar anaknya yang turun sambil menunjukkan rapor. Lalu saya pun bertanya, “Bu, di sini kan udah banyak guru les yang baru buka. Kenapa gak di les kan di sana?”

“Gak mau Bu. Maunya sama bu epik katanya”

Hati saya berbunga-bunga mendengarnya. Aah soal kesetiaan, anak-anak memang jujur. Mereka tau siapa yang bisa membuatnya merasa nyaman. Kadang orangtuanya lah yang memaksa pindah πŸ˜„

Ingat pada iblis, saya pun beristighfar. Mungkin bukan karena saya, tapi Allah lah yang telah menanamkan rasa senang anak-anak itu pada saya.

Akhirnya setelah meminta ijin pada suami, saya memulai lagi rumah belajar yang sejak dua tahun lalu saya bangun. Bersama pasangan halal yang telah Allah jodohkan, saya membeli meja, buku, dan perangkat bermain. Papan tulis pun sekarang ada dua.

Tiga minggu sejak memulai, murid saya kini ada 23 orang dengan murid tetap 15 orang. Sebagian yang angot-angotan ini mengalami penyakit minder yang cukup parah, sehingga tidak mau datang belajar kalau dilihatnya banyak anak yang belajar. Tapi kalau sepi, mereka jadi orang yang paling antusias belajar. Ini menjadi PR besar bagi saya. Hingga saat ini pun, saya masih belajar cara membuat mereka percaya diri. Sebagian berhasil, sebagian lagi masih terpengaruh teman-temannya yang malas belajar.

Baiklah, saya tidak tau apakah kami akan bisa seperti Utsman yang namanya dijamin Rasul tidak akan bisa ada yang membahayakannya. Kami tidak sekaya Utsman, yang mampu menyumbang ratusan uqiyah dinar dan dirham kala perang Tabuk. Tapi setidaknya, saya punya ilmu. Suami punya uang yang bisa saya minta untuk melengkapi fasilitas belajar (hehehe semoga ini morotin syar’i 😁).Formasi tidak lengkap, karena kloter pertama sudah pulang dan kloter ketiga belum datang 😁Dan semoga, impian kami mendirikan sekolah anak yang ramah anak bisa terwujud. Kami pun ingin menamainya, Sekolah Utsman. Laki-laki yang amal dan namanya kekal diingat orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s