Uncategorized

Tentang Aiko dan Janji Surga Untuknya

Aiko adalah nama anak pertama kami, setelah sebelumnya saya dan suami tau apa jenis kelaminnya. Dia saya lahirkan di usia 14 minggu, dengan bentuk gumpalan darah. Ada haru yang menyelinap di hati ketika mengingat putri pertama kami.

Waktu itu, saya selalu mengalami mimpi buruk. Di dalam mimpi, saya hendak dibunuh oleh orang yang belakangan saya tahu oknum pengirim sihir. Aiko datang menghalau dan mengajak saya bermain. Saya pun menuruti permintaannya.

Di dalam mimpi, hati saya bergumam. Ya Allah, alangkah cantiknya anak ini. Putih, mancung, matanya berbinar, dan sangat cerdas.

Lalu, anak kecil nan manis itu pamit. “Aku mau pulang. Aku mau bobo.”

Seketika saya terbangun. Darah mengalir deras disertai dengan gumpalan darah. Hati saya mendung. Kalut, mengingat kalimat terakhir anak kecil di dalam mimpi itu.

Saya ingin menelepon suami yang sedang kerja, tapi saya tahan sebab tak ingin membuatnya panik. Mata saya bersimbah air mata, bercucuran tiada henti.

Sore hari ketika suami pulang, saya langsung mengajaknya ke dokter. Dalam kondisi kepayahan, saya tanya pada tetangga kos di mana dokter kandungan terdekat?

Teman saya menunjukkan tempat praktek dokter Krisna di Jatingaleh. Saya dan suami pun segera meluncur ke sana.

Pukul 18.00, kami sampai di lokasi. Masih sepi. Akhirnya, saya dan suami memutuskan solat dulu. Selesai solat, kami kembali ke tempat tadi dan sudah ada sepasang suami istri. Hmm alhamdulillah, gakpapa lah jadi yg kedua walau tadi datang duluan 😃😃

Lama kami menanti. Antrian makin panjang, bahkan sampai ada yang pulang karena jam buka molor terlalu lama dari yang seharusnya.

Pukul 20.00 kurang, pintu dibuka. Rasa sakit yang mendera bagian bawah tubuh saya amat mencengkeram. Saya memandang suami, matanya sayu kelelahan. Tapi kami memutuskan menunggu dengan sabar.

Setelah sekian lama, kami dipanggil. Dokter melakukan USG, dan… Terlihat rahim saya kosong. Suami terlihat pias. Saya tabah, sudah duluan sedih ketika bangun tidur tadi.

“Anak kita sudah pamit padaku tadi. Dia anak yang sangat cantik. Dia juga baik, karena telah menyelamatkan ibunya dari gangguan jin. Tak sia-sia kita bacakan surah Maryam dan Yusuf untuknya setiap hari”

Suami saya terdiam. Menangis tanpa air mata.

Kalau bukan karena janji surga untuknya, saya pun pasti masih akan menangisi putri cantik kami.

Advertisements
Rumah Tangga

Istri Wajib Masak Gak?

Nemu postingan anak muda yang bilang demikian, “Kamu itu cari istri buat dicintai. Bukan buat masak. Jadi gak wajib seorang istri harus bisa masak.”

Baik dek. Seorang istri gak harus masak. Tapi wajib bisa masak. Kenapa?

Ya kamu nikah dulu, masak, hidangkan ke suami. Ada bahagia tiada tara saat kau lihat suamimu makan masakanmu dengan lahap.

Capek masak? Beli. Jangan pusing. Tapi bisa masak adalah salah satu keahlian yang akan membuatmu bisa bahagia dengan cara sederhana.

Parentalk

Imunisasi? Yes!

Tiap tanggal 8 ada program imunisasi di sini. Chihaya tentu saja ikut. Seperti biasa, sebelum disuntik, aku deg-degan luar biasa. Loh kok malah emaknya? Yhaaa sejujurnya aku ini takut jarum suntik. Pengalaman beberapa kali disuntik, kebanyakan bengkak. Entah di pa*ntat ataupun lengan.

Kok imunisasi anak sih? Padahal sendirinya takut.

Baik… Pertimbangannya karena ku ingin putriku terproteksi. Di jaman yang jendela informasinya terbuka lebar begini, kita bisa memilih bacaan yang bermutu. Adapun tentang vaksin, aku sudah mengikuti tulisan dokter dan ahli-ahli berkompeten. Bukan hanya omongan orang-yang-sok-tau-segalanya padahal dia cuma copas.

Dalam islam sudah dijelaskan bahwa kehancuran terjadi jika kita menyerahkan suatu perkara pada bukan ahlinya. Maka jika kita mau menolak sesuatu dengan mengikuti omongan ibu-ibu biasa yang anaknya pernah demam habis divaksin, rasanya kurang pas. Atau malah mempercayai tulisan tukang jualan herbal dan penulis buku antivaksin. Kurang bijak.

Adapun ketika orang tak mau memvaksin anaknya, itu hak mereka. Aku selalu hati-hati dalam hal ini. Ketika ku tau temanku ada yang antivaksin, aku tak pernah membahas program pemerintah ini di depannya. Jadi, obrolan kami tetap enak.

Sebetulnya aku cukup menyayangkan mengapa orang-orang yang nampak lebih soleh dariku menolak vaksin karena tulisan sumber yang kurang berkompeten. Padahal, ada sosok macam dokter Raehanul Bahraen yang ahli ilmu agama dan juga medis. Tapi, mereka justru memilih mendengarkan ceramah ustad biasa.

Ustad biasa??? Hehehe… Maksudku, yang kurang paham soal proses pembuatan vaksin. Jadi, akan langsung bilang haram. Yang aku herankan, mereka die hard ke-Arab-an, tetapi dalam hal vaksin sangat menentang. Padahal di negeri onta tersebut, semua anaknya wajib vaksin.

Orang antivaksin selalu berkilah bahwa anak mereka tetap sehat meski tanpa imunisasi. Yesss itu betul ketika Anda hidup di daerah yang imunitas kelompoknya baik. Cobalah hidup di daerah yang menolak vaksin seperti di salah satu provinsi di Sumatera, di sana sedang terjadi wabah difteri yang mengerikan karena majelis ulama provinsinya mengharamkan vaksin. Kontras dengan pernyataan MUI pusat yang membolehkannya.

Coba saja ikuti postingan dokter-dokter di sana yang setiap hari selalu ada anak terjangkit difteri. Mengerikan.

Ada lagi orang yang antivaksin karena sebelumnya anaknya demam setelah disuntik. Untuk satu hal ini, sebetulnya imunisasi itu tergantung pada kekebalan tubuh anak. Alhamdulillah Chihaya dua kali vaksim tak pernah demam. Hanya intensitas nenennya saja jadi lebih sering.

Apapun keputusan orangtua untuk anak, pasti itu hal yang terbaik. Jangan baperan, nyolot, dan hilang logika ketika berargumentasi. Jaga pertemanan meskipun aku pro vaksin dan kamu tidak 😀

Ceritaku

Tiga Bulan Chihaya

Singkat saja ya, karena mamake malas ngetik panjang hehehe. Di usia tiga bulan ini Chihaya udah bisa ditinggal masak, ngepel, dan melakukan aktivitas rumah tangga lainnya yang tadinya sempat ku tinggalkan.

Malu juga, rumahku kan banyak didatangi orang tapi kok jarang dipel. Sebetulnya ada adek yang ngepel, cuman… Masih terasa berdebu. Beda pokoknya.

Sekarang, anak yang sembilan bulan ku kandung, namun lahirnya malah mirip suamiku ini juga mulai ngemut tangan, angkat kaki, dan merespon saat ibunya membuka bra dengan memiringkan badan. Iya, aku biasa menyusuinya dengan posisi miring.

Tiga bulan ini, Chihaya telah melalui masa wonder weeks-nya yang ketiga di usia 11 minggu kemarin. Kini dia jadi lebih ceria, pandangan matanya lebih tajam dan berbinar, dan mulai merespon ketika diajak ngobrol.

Ketika aku ngajar, dia ku dudukkan di bouncer dan dengan tenang akan mendengarkanku memberi materi pada anak-anak TK dan SD kelas satu saat pagi hari. Untuk ngaji ba’da maghrib aku masih kerepotan karena memang itu jadwal Chihaya tidur.

Sejak usia tiga minggu, dia telah ku ajarkan tidur saat malam dan bangun pagi hari. Tentunya tanpa melewati masa nenen dan ganti diaper tengah malam.

Walaupun ngempeng payudaranya kadang bisa berjam-jam, tapi aku senang karena dia bisa tertib tidur tanpa sedikit-sedikit minta gendong. Untuk satu hal ini, aku memang berusaha mengurangi intensitas anakku diemong bulekku, agar tidak kebanyakan minta gendong 😁

Dan… Chihaya juga mulai pakai popok ukuran M celana. Biar nyaman, juga karena yang S sudah sesak. Di usia dua bulan, beratnya 5,1 kilogram. Entah bulan ini berapa, jadwalnya besok akan ku imunisasi DPT sekaligus nimbang 😀

Parentalk · Rumah Tangga

Anakku Berhak Atas Ibunya

Ku perhatikan, sejak aktif ngajar anakku memang jadi agak ‘sulit’. Tidur maunya digendong dulu, sering nangis, dan agak pemarah. Aku pikir itu wajar karena bayi punya masa wonder weeks yang membuatnya lebih rewel, manja, dan penuh drama.

Namun, agaknya aku berpikir ulang. Selama tiga hari ini, aku kembali mengasuh anakku seperti sebelum aktif mengajar karena bulekku, orang yang biasa membantuku mengasuh, sedang sibuk acara wisuda anaknya. Bulek juga sibuk berjualan gamis. Jadi, aku memegang penuh pengasuhan atas anakku. Dan… Ajaib! Dia kembali seperti semula. Mau tidur tanpa digendong, tak pernah ngajak begadang, dan yang pasti jarang nangis.

Lantas, aku pun merenung. Mungkin selama ini aku salah. Aku terlalu menyepelekan waktu dan diriku yang semestinya menjadi hak anakku. Ku akui, aku ingin menunaikan janji pada ibu-ibu yang ingin anaknya belajar di tempatku. Tetapi, melihat keadaan anakku yang demikian membuatku seolah terpukul.

Jujur saja, sejak aku aktif ngajar, aku sering sakit. Tubuhku sering kecapean. Seperti yang ku bilang, anakku jadi sering begadang dan itu menambah beban serta rasa lelah yang ku rasa.

Sore ini, sambil melihat wajah anak yang dua tahun ku nanti, aku pun memantapkan hati. Mungkin sebaiknya aku berhenti mengajar. Ketika anak-anak kehilangan diriku yang merupakan gurunya, mereka bisa mencari guru lain.

Tetapi, ketika anakku kehilangan perhatian dan waktuku selaku ibunya, dia tak akan pernah bisa mencari ibu lain. (TAK AKAN!)

Dua malam ini anakku mudah tidur. Sehabis Isya sudah nenen, lalu tertidur sampai pagi. Bangun hanya beberapa kali untuk menyusu dan ganti diaper. Oh nak, sungguh ibu menyesal karena mengabaikanmu saat sedang sibuk mengajar 😭😭😭

Ceritaku · Pengalaman · Tips

Mitoni dan Urgensinya : Kalau Bisa Nolak, Kenapa Harus Nurut?

Adakah yang sekarang sedang galau mau mitoni? Pengen nolak tapi tak bisa karena desakan orangtua? Atau… Justru pengen mitoni, tapi minim dana?

Baikkk… Kembali lagi pada bahasan mitoni setelah beberapa waktu lalu ku tulis pengalaman melaksanakan acara adat Jawa tersebut. Pasalnya, aku dan temanku kemarin membahas hal ini.

Sungguh guys, misal kalian minim dana, sebaiknya kegiatan yang tidak ada tuntunannya dalam hadist maupun alquran ini dihindari saja. Bukan unfaedah sih, tapi kurang penting saja.

Mitoni itu gimana?

Sebetulnya, inti mitoni sendiri katanya rujakan. Bikin rujak, lalu dibagikan ke tetangga dan kerabat di kampung. Ada juga yang harus pakai pembacaan macapat. Lalu, ada degan cengkir yang digambari Arjuna dan Dewi Sinta. Ada juga yang dituliskan huruf-huruf arab. Tau cengkir? Itu lho… kelapa muda yang masih sangat muda 😂

Kemarin saat mitoni, aku tidak mengijinkan adanya sajen dan pembacaan macapat. Untuk sajen sudah jelas dong, bikin syirik. Sedangkan macapat, dipikir-pikir buat apa fungsinya? Sungguh unfaedah.

Maaf, bukannya aku tak menghargai budaya suku sendiri. Tetapi aku memang tak suka kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Macapat buat lomba, kesenian, masih oke lah. Namun jika untuk acara syukuran, aku lebih suka pembacaan ayat suci alquran.

Pada awalnya, aku dan suami berencana mengadakan acara syukuran sederhana. Cukup pesan nasi kotak yang didalamnya sudah diberi rujak mitoni. Biaya sudah dihitung, per 100 kotak nasi dibutuhkan 2,5 juta rupiah.

Sedangkan untuk ngaji tentu ada acara makan dan snack serta air minum. Estimasi biaya paling sejuta. Yap, hajatan tujuh bulanan itu ku perkirakan akan menghabiskan dana sekitar 3,5 atau 4 juta lah. Kalau uang segitu, kami pikir tak masalah untuk sedekah. Apalagi, mengundang orang untuk ngaji dan makan di rumah insya Allah varokah 😂

Nyatanya apa gaeees? Biaya membengkak. Acara sederhana tersebut berubah total menjadi mini hajatan. Bedanya tak ada sound system dan tratak saja. Sungguh ku pusing memikirkan uang yang keluar. Padahal, kami belum beli perlengkapan bayi.

Rasa tidak enak itu masih berlanjut ketika belanja kebutuhan anak kami. Cukupkah uang sejuta dua juta? Tidaaakkkk 😂 Apalagi anak pertama, kalau bisa serba baru. Yaaah walaupun akhirnya, ada sepupu-sepupuku yang memberi lungsuran baju untuk anakku. Aku juga bersyukur banyak sekali orang yang peduli pada buah hati kami. Alhamdulillah, lemari penuh dengan kado.

Kenapa kami mengadakan mitoni? Jelasss untuk ‘mengademkan’ hati dan mulut orangtua kami. Kami tau bahwa sedekah bisa mengundang keselamatan dan menolak bala. Oleh sebab itu, sebetulnya acara selametan bayi sudah kami lakukan tiap bulan. Termasuk mengundang makan anak-anak di bulan keempat saat ruh ditiupkan pada janinku. Tapi biasalah, namanya wong mbiyen, hal seperti itu dianggap belum memenuhi kaidah syukuran versi wong Jowo.

Kalau di kampung, saat mitoni pasti ada tetangga dan kerabat yang menyumbang. Ya memang mirip hajatan. Kemarin saat bermitoni, alhamdulillah uang yang terkumpul lumayan banyak. Walaupun lebih besar yang dikeluarkan jumlahnya, tapi alhamdulillah karena hampir menutupi pengeluaran yang boncos tadi.

Saranku, sebelum mitoni coba pikir ulang seberapa banyak dana yang kamu punya. Harus berani ‘melawan’ dorongan orangtua atau kerabat yang memintamu melaksanakan acara yang tidak ada dalilnya tersebut. Kalau kamu berniat melakukannya untuk syukuran dan sedekah, BAGUS! LANJUTKAN!

Namun, jangan lupa bahwa bayimu nanti membutuhkan biaya yang besar untuk perlengkapan, kelahiran, hingga setelah dia berada di dunia ini. Kamu masih perlu meng-aqiqah, membeli baju baru, mainan, dan mencukupi nurisi ibunya agar ASI melimpah.

Jangan takut untuk berkata TIDAK atau nego. Uangmu, kamu yang capek mencari. Abaikan saja cibiran orang yang sama sekali tak ada kontribusinya dalam hidupmu.

Parentalk

Bekerja dan Menitipkan Anak. Perlu Sih, Tapi…

Sudah menjadi hal wajar jika ibu bekerja, anak biasanya dititipkan. Entah pada asisten yang dibayar, embahnya, atau anggota keluarga yang lain. Perkara pro kontra ibu bekerja tak akan ku bahas karena setiap orang punya standar kebutuhan dan kebenaran masing-masing sesuai kondisi rumah tangga mereka. Aku hanya ingin membahas tentang yang terjadi pada anakku, sehingga aku berpikir ulang untuk menitipkannya pada orang lain.

Baiklah. Namanya ibu muda, pengalaman pertama, dan hidup hanya bersama suami pasti mengalami gegar kebiasaan. Punya anak bayi yang butuh perawatan serta perhatian ekstra, diriku merasa bimbang apakah harus melanjutkan kegiatan mengajar atau tidak. Ketika tanya suami, jawaban awalnya seperti lagu Glenn Fredly jaman dulu : Terserah.

Pada awalnya, suami mendorongku melanjutkan kegiatan membantu anak-anak belajar tersebut dengan pertimbangan agar anak kami terbiasa mendengar dan ikut ‘belajar’. Kesannya memang maksa banget ya, bayi masih kecil kok disuruh belajar. Bukan seperti itu. Aku paham maksud suamiku.

Bayi adalah makhluk pembelajar cepat. Apalagi di usianya yang saat itu baru mau dua bulan, aku tau anakku adalah tipikal yang suka keramaian. Masuk akal jika aku sebaiknya mengajar lagi. Sebab suasana rumah pasti akan ramai.

Dan jujur saja… Terkadang aku juga capek harus ngoceh sendiri menemani anakku ngobrol. Sampai aku membeli banyak buku dongeng agar tak kehabisan bahan obrolan hahaha.

Kembali pada topik kegalauan tadi, akhirnya aku memutuskan untuk mencari jawaban dengan cara terbaik. Gimana tuh? Ya biasa… Solat, lalu buka al quran. Keluarlah surat An Nahl ayat 91-92 yang intinya, Allah tidak suka pada orang yang ingkar melanggar sumpah. Allah juga melarangku menjadi perempuan yang ingkar janji. Memang sih, pas mau ijin lahiran, aku memang berjanji akan ngajar lagi.

Waktu itu ku bilang, insya Allah seminggu setelah lahiran akan kembali aktif. Tapi… Olalaaaa punya anak itu sungguh menyakitkan, melelahkan, dan meruntuhkan fisik serta psikis. Aku memang telah pulih kala itu. Tetapi, kondisi anak yang tiap malam masih ngajak melek dan begadang, serta pagi hingga sorenya masih sering pip pup, jelas membuatku tak bisa langsung beraktivitas seperti sedia kala. Almost whole of my energy was needed for my baby, though.

Dengan penuh rasa malu dan mengharap pengertian, ku meminta maaf pada orangtua yang datang menengok anakku. Sungguh, bukan bermaksud diriku ingkar janji. Tapi… Daripada memaksakan diri memenuhi janji sedangkan kondisi yang ada sangat berat, sebaiknya aku meminta penangguhan sampai awal semester. Toh bulan desember kan tinggal UAS dan sebentar lagi libur semester. Alhamdulillah mereka mau mengerti dan paham kondisiku. Pernah punya bayi juga soalnya 😄

Lalu, awal semester pun tiba. Aku kembali membantu anak-anak belajar. Tujuh puluh persennya anak TK dan SD kelas satu dengan jam belajar pukul 10 pagi hingga 12 siang. Maasyaa Allah… Ternyata anakku anteng dan terlihat senang ketika ku letakkan di sampingku saat mengajar. Dia sangat gembira ketika mendengar anak-anak berceloteh. Oleh karena itu, ku biarkan anakku yang usianya baru dua bulan itu bersamaku. Ooh bahagianya 😍

Namun, ada satu kondisi tertentu yang membuatku harus menitipkan sementara pada kerabatku. Paling sejam dua jam. Tempat tinggalnya dekat, hanya berjarak satu rumah. Jika anakku nangis ingin tidur atau minta minum, ku antarkan dirinya pada bulekku. Aku cukup memberi satu botol ASIP dan dot. Lalu, aku bergegas kembali mengajar. Anakku ku jemput lagi setelah selesai solat dan makan siang sekitar pukul setengah satuan.

Semuanya terlihat berjalan baik. Hingga kemarin, alangkah hancurnya hatiku melihat anakku digendong dekat perokok. Dia yang ku coba rawat sebaik mungkin dan ku hindarkan dari asap rokok, justru sedang berdampingan bersama perokok aktif. TIDAKKK!!!!

Aku pernah berkata pada bulekku agar jangan pernah membawa anakku dekat dengan perokok. Bahkan mertuaku saja ku jauhkan dari cucunya ketika sedang merokok. Mungkin bulek berpikir kalau asap rokok tidak berbahaya. Beberapa kali sudah ku peringatkan masih saja sama. Aku pun berpikir ulang, kembali mengingat tulisan Wina Risman bahwa anak adalah anugerah Allah yang dititipkan pada rahimku. Mengapa harus dititipkan lagi pada orang lain?

Sungguh, pada awalnya aku berpikir tak apa menitipkan sebentar. Toh anakku tidak rewel, hanya pada masa wonder weeks saja dia menangis lebih kencang dan terlihat banyak maunya. Namun, bulekku selalu bisa mengatasi. Jauh lebih baik dariku, sehingga aku tak ragu menitipkannya.

Tapi sekarang… Nampaknya aku akan memikirkannya kembali. Pakdeku saja rela berhenti menjadi perokok ketika melihat cucunya diemong keluarga perokok. Masa aku sebagai ibunya tak bisa mengambil langkah tegas?

Ku ingin memenuhi janji, mengaplikasikan ilmu pada orang lain agar bermanfaat. Tetapi, tak harus dengan cara mengorbankan anakku bukan? Mungkin ini petunjuk agar aku bisa lebih memberi perawatan dan perhatian ekstra pada titipan-Nya.

Walau akan lebih lelah.

Ceritaku · Pengalaman

Anak Kami, Urusan Kami

Hajatan mitoni selesai sudah. Ku dengar ada beberapa kekurangan, antara lain ada tetangga yang tidak kebagian nasi berkat, muridku yang tak diantar rujak, dan awug-awug yang harusnya pakai beras ketan, tetapi dimasak dengan tepung beras.

Namun dari itu semua, ada yang bertanya, “Epik kenapa bisa bikin acara mitoni yang mirip sunatan begitu? Duit dari mana dia?”

Ku dengar bulekku menjawab “Ya mungkin dikasih ibu sama mertuanya.” Di sinilah ku perlu memberi penjelasan pada bulekku.

Ku katakan padanya, bahwa semua biaya ditanggung olehku dan suami. Memang, aku meminjam uang ibuku untuk talangan kalau kurang. Tetapi alhamdulillah, kami bisa langsung mengembalikannya.

Apakah masih kurang, statusku dan suami yang sama-sama bekerja dan kami punya usaha jualan popok yang dalam sebulan mampu menjual puluhan karton? Dan di akhir kata, ku tegaskan satu hal : ini anak kami, urusan kami.

Tak ada hubungannya dengan simbah-simbahnya. Hak dan kewajiban mereka hanya memberi kasih sayang. Aku tak pernah meminta uang pada kedua belah pihak orangtua. Kalaupun butuh uang, selalu ku pakai akad hutang dengan tempo pelunasan secepat-cepatnya.

Entah, ku pikir kali ini aku terluka. Kesan kami tidak mampu melakukan hal besar untuk buah hati sangat menyinggung harga diriku. Kerap ku katakan pada siapapun, “Dua tahun kami menanti anak ini. Kami capek-capek kerja, menabung, buat apa kalau tidak untuk membahagiakannya?”

Mungkin inilah yang disebut sebagai harga diri orangtua. Atau bisa juga dibilang sebagai gengsi. Apapun itu, kami bersyukur bisa melaksanakan acara syukuran yang layak untuk buah hati tercinta. Semoga kami pun mampu memenuhi segala kebutuhannya dan membuat hidupnya berkecukupan kelak. Tentunya tanpa terlalu dimanja.

Pendidikan · Rumah Belajar

Belajar Adab 1 : Etika Bertamu

Hari ini aku mencoba mengajari anak-anak soal etika bertamu. Sebelum masuk materi, ku berikan story telling sebagai sarana penyampaian pesan. Tabarakallah berhasil. Mereka bisa diam mendengarkan dan antusias mengikuti apa yang ku ajarkan.

Dari hasil belajar, ku sadari bahwa sebagian besar anak kurang mengerti etika bertamu. Mereka kaget waktu ku bilang jangan masuk sebelum disuruh masuk, atau jangan duduk sebelum disuruh duduk oleh penghuni rumah.

Mereka pikir, kalau sudah dibukakan pintu, maka bebas bisa apa saja di dalam rumah. Termasuk duduk dan membuka toples sajian. Lalu ada pertanyaan “Kalau di rumah saudara, kita bebas ngapain aja kan? Bisa langsung masuk tanpa ngucap salam?”

“Ya gak gitu. Salam itu doa. Kalau kita bilang assalamu’alaikum, itu artinya kita doa buat diri sendiri dan penghuni rumah. Masih inget gak, kalau kita dari luar, kadang ada setan yang ikut. Nah, salam itu kita ucapkan biar setan gak bisa masuk rumah.”

“Aku biasa masuk rumah saudara tanpa bilang apa-apa Bu. Tapi gak pernah dimarahin.”

“Ya mungkin karena saudara kamu belum tau manfaat salam. Mulai sekarang, kalau mau main pun biasakan minta ijin dan bilang salam biar orangtua di rumah tenang”

Selain etika mengetuk pintu, mengucap salam, duduk dan makan, ku juga ajarkan anak-anak sedikit tentang boso kromo. Maklum, karena di sini masih bumi Jawa, ada kalanya orangtua pasti bertanya apa tujuan datang ke rumah.

“Usahakan jawab pake kromo. Kalau gak tau, sedikit aja kromonya. Dan jangan pernah panggil orangtua temen kita dengan panggilan ‘mbak’. Panggil saja ‘bu’. Soalnya bu epik sering dengar anak-anak ditanya orang yang lebih tua, pakainya sapaan mbak. Itu kurang sopan ya.”

Lalu, materi berbasis cerita yang ku berikan kurang lebih 15 menit itu berakhir dengan praktek. Alhamdulillah, semua mendengarkan dengan baik, jadi prakteknya sukses semua. Sesi belajar kami tutup dengan pembacaan ayat kursi yang diiringi adzan Isya setelahnya 😊

Semoga ku juga konsisten bisa mengajarkan hal baik yang diriku sendiri sudah menerapkannya. Agar tak hipokrit tentunya 😄

Ceritaku · Pengalaman

Mitoni : The End

Tabarakallah, acara mitoni selesai sudah. Banyak tetangga, saudara, dan rekan kerja suami yang hadir. Turut pula teman-temanku datang ikut memeriahkan acara slametan alias syukuran berbasis hajatan kecil ini.

Tak bisa dipungkiri, dana yang dikeluarkan cukup besar. Jauh berbeda dari rencana awal yang hanya mau mengundang ibu-ibu pengajian, bagi berkat + rujak yang sudah diplastiki. Tetapi, karena ada banyak kepala yang turut memberi masukan, jadilah acara ala orang kampung.

Yang menggembirakan, banyak orang suka dengan rasa rujaknya. Teman kerja suami, tetangga, dan tamu yang hadir semuanya bilang enak. Alhamdulillah!

Ku ucapkan banyak terima kasih kepada tim masak dan bantu-bantu yang super.

Mbak Lasih, bulekku yang mengatur hampir 80% pembelian kebutuhan, mengajak orang-orang untuk membantu alias rewang, pokoknya jadi mandor acara.

Mbak Ninis yang mau direpoti belanja bareng Mbak Lasih, wira-wiri ke pasar, dan mengatur belanjaan.

Mae Kis yang mau menunggui dan bantu-bantu repot di dapur sejak Sabtu pagi serta memberi pencerahan padaku tentang asas kepatutan.

Bu Suminah, Dhe Mini, Alvi, Lik Win, Lik Eni, Lik Raini, dan Mak Ti yang jadi tim dapur super sibuk selama dua hari sejak Jumat pagi hingga Sabtu sore. Terima kasih karena mau repot datang subuh untuk menyiapkan rujak dan memasak.

Rujaknya enak, gudegnya Bu Suminah mantab, dan yang menggembirakan, semua lauk, sayur, kolak, rujak, habis. Top! Bahkan suguhan palawija dan nasi ambengan di tampah pun ludes tak bersisa. Orang-orang memang tak makan di tempat, tetapi mereka membawa pulang karena sebelum ngaji di tempatku, mereka sudah makan di acara satunya lagi yang diselenggarakan hari itu juga.

Yang menarik, orang-orang di dapur mencoba menebak jenis kelamin anakku dengan cara melempar irig, perkakas dapur dari anyaman bambu. Dan… Dalam lima kali lemparan, hasilnya lima kali pula perempuan. Semua tertawa. Aku pun hanya senyum, karena hasil usg saja kadang bisa beda 😄

Paling suka kalau bikin acara, tapi sisa bahannya cuma sedikit. Hanya cabe dan bawang saja, itupun tak banyak. Sedangkan gula dan mie masih ada beberapa kilo dan dus, itu bisa dibagi atau jual kembali.

Untuk 300 porsi rujak kemarin, menghabiskan bahan-bahan sebagai berikut :

Gula jawa 20 kilo

Mbawang alias bacang 60 buah

Nanas 35 buah

Bengkoang 5 kilo

Parijoto 1 kilo

Delima 6 buah

Jeruk bali 10 buah

Tambahan lain :

Gula pasir 100 kilo

Mie 20 karton

Tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah hadir. Semoga Allah memberkahi kalian semua.

Sekarang ku mau fokus pada persiapan persalinan. Beli baju dan perlengkapan bayi lainnya, serta lebih serius dalam perbaikan gizi agar tidak letoy pasca lahiran 😂 soalnya selama ini makannya mulai tidak teratur. Malas makan sayur dan lebih sering beli lauk matang. Duh!

Tips

Ketika Ada yang Batal Beli

Namanya jualan, ada yang gak jadi beli ya wajar. Kalem aja. Kami juga biasa ada yang pesen banyak, nanti prakteknya pesennya dikurangi. Tapi, ndilalah bin qadarullah, ada orang lain yang beli lebih banyak. Jadi bisa menutupi ‘kerugian’ yang disebabkan pikiran plin plan calon pembeli.

Dulu jaman modal masih dikit memang terasa nyeseknya. Harusnya kan uangnya bisa dipakai beli yang lebih cepet laku, jadi gak ada penumpukan barang. Sampai kami berpikir jika ada yang mau beli banyak, wajib melakukan pre order dulu.

Lalu kami ingat hadits, janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki. Oleh sebab itu, sistem PO itu pun kami hapus. Tabarakallah masa itu udah lewat. Mau ada orang pesan berapapun, insya Allah kami siap.

Mungkin yang jadi masalah adalah ketika mak jualan barang dropship. Pesenin orang dulu, nalangin dulu, terus calon pembeli kabur tanpa kabar. Jadikan aja pengalaman pahit itu sebagai motivasi biar mak bisa punya stok sendiri. Karena sungguh, jualan tanpa ada barang itu bagai berjalan dalam gelap. Bisa gerak, tapi tak bebas.

Ku pernah mengalami jadi dropshipper. Ketika ada yang pesan, ribet harus tanya ketersediaan barang dulu ke pemilik. Iya kalau calon pembeli sabar. Ada juga yang tak sabar. Setelah transaksi selesai pun, masih harus memikirkan resi.

Bandingkan kalau barang itu kita miliki. Ada orang tanya, bisa langsung kita jawab. Cek stok, apakah yang dicari ada. Setelah orangnya transfer, kita ke ekspedisi, resi pun bisa langsung diberikan. Enak, mak.

Tak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang sukses jadi dropshipper. Bahkan, ku pernah mengikuti kelas online marketing, ada orang yang hanya jualan dropship saja bisa dapat 10 juta perbulan. Jumlah itu cukup besar loh, untuk kategori pemasukan sampingan.

Tapi, sampai kapan mau bergantung pada pemilik barang? Lebih baik kita sedia stok sendiri jadi lebih asik dalam melayani. Ku doakan mak sekalian bisa dicukupkan modalnya untuk memiliki barang di rumah. Syukur-syukur, malah jadi produsen langsung 😄🙏

*note : soal hadits di atas, bukan berarti dropship haram. Halal kok, selama memenuhi syarat dan rukun jual beli.