Uncategorized

Tentang Aiko dan Janji Surga Untuknya

Aiko adalah nama anak pertama kami, setelah sebelumnya saya dan suami tau apa jenis kelaminnya. Dia saya lahirkan di usia 14 minggu, dengan bentuk gumpalan darah. Ada haru yang menyelinap di hati ketika mengingat putri pertama kami.

Waktu itu, saya selalu mengalami mimpi buruk. Di dalam mimpi, saya hendak dibunuh oleh orang yang belakangan saya tahu oknum pengirim sihir. Aiko datang menghalau dan mengajak saya bermain. Saya pun menuruti permintaannya.

Di dalam mimpi, hati saya bergumam. Ya Allah, alangkah cantiknya anak ini. Putih, mancung, matanya berbinar, dan sangat cerdas.

Lalu, anak kecil nan manis itu pamit. “Aku mau pulang. Aku mau bobo.”

Seketika saya terbangun. Darah mengalir deras disertai dengan gumpalan darah. Hati saya mendung. Kalut, mengingat kalimat terakhir anak kecil di dalam mimpi itu.

Saya ingin menelepon suami yang sedang kerja, tapi saya tahan sebab tak ingin membuatnya panik. Mata saya bersimbah air mata, bercucuran tiada henti.

Sore hari ketika suami pulang, saya langsung mengajaknya ke dokter. Dalam kondisi kepayahan, saya tanya pada tetangga kos di mana dokter kandungan terdekat?

Teman saya menunjukkan tempat praktek dokter Krisna di Jatingaleh. Saya dan suami pun segera meluncur ke sana.

Pukul 18.00, kami sampai di lokasi. Masih sepi. Akhirnya, saya dan suami memutuskan solat dulu. Selesai solat, kami kembali ke tempat tadi dan sudah ada sepasang suami istri. Hmm alhamdulillah, gakpapa lah jadi yg kedua walau tadi datang duluan 😃😃

Lama kami menanti. Antrian makin panjang, bahkan sampai ada yang pulang karena jam buka molor terlalu lama dari yang seharusnya.

Pukul 20.00 kurang, pintu dibuka. Rasa sakit yang mendera bagian bawah tubuh saya amat mencengkeram. Saya memandang suami, matanya sayu kelelahan. Tapi kami memutuskan menunggu dengan sabar.

Setelah sekian lama, kami dipanggil. Dokter melakukan USG, dan… Terlihat rahim saya kosong. Suami terlihat pias. Saya tabah, sudah duluan sedih ketika bangun tidur tadi.

“Anak kita sudah pamit padaku tadi. Dia anak yang sangat cantik. Dia juga baik, karena telah menyelamatkan ibunya dari gangguan jin. Tak sia-sia kita bacakan surah Maryam dan Yusuf untuknya setiap hari”

Suami saya terdiam. Menangis tanpa air mata.

Kalau bukan karena janji surga untuknya, saya pun pasti masih akan menangisi putri cantik kami.

Advertisements
Ceritaku · Pengalaman

Anak Kami, Urusan Kami

Hajatan mitoni selesai sudah. Ku dengar ada beberapa kekurangan, antara lain ada tetangga yang tidak kebagian nasi berkat, muridku yang tak diantar rujak, dan awug-awug yang harusnya pakai beras ketan, tetapi dimasak dengan tepung beras.

Namun dari itu semua, ada yang bertanya, “Epik kenapa bisa bikin acara mitoni yang mirip sunatan begitu? Duit dari mana dia?”

Ku dengar bulekku menjawab “Ya mungkin dikasih ibu sama mertuanya.” Di sinilah ku perlu memberi penjelasan pada bulekku.

Ku katakan padanya, bahwa semua biaya ditanggung olehku dan suami. Memang, aku meminjam uang ibuku untuk talangan kalau kurang. Tetapi alhamdulillah, kami bisa langsung mengembalikannya.

Apakah masih kurang, statusku dan suami yang sama-sama bekerja dan kami punya usaha jualan popok yang dalam sebulan mampu menjual puluhan karton? Dan di akhir kata, ku tegaskan satu hal : ini anak kami, urusan kami.

Tak ada hubungannya dengan simbah-simbahnya. Hak dan kewajiban mereka hanya memberi kasih sayang. Aku tak pernah meminta uang pada kedua belah pihak orangtua. Kalaupun butuh uang, selalu ku pakai akad hutang dengan tempo pelunasan secepat-cepatnya.

Entah, ku pikir kali ini aku terluka. Kesan kami tidak mampu melakukan hal besar untuk buah hati sangat menyinggung harga diriku. Kerap ku katakan pada siapapun, “Dua tahun kami menanti anak ini. Kami capek-capek kerja, menabung, buat apa kalau tidak untuk membahagiakannya?”

Mungkin inilah yang disebut sebagai harga diri orangtua. Atau bisa juga dibilang sebagai gengsi. Apapun itu, kami bersyukur bisa melaksanakan acara syukuran yang layak untuk buah hati tercinta. Semoga kami pun mampu memenuhi segala kebutuhannya dan membuat hidupnya berkecukupan kelak. Tentunya tanpa terlalu dimanja.

Pendidikan · Rumah Belajar

Belajar Adab 1 : Etika Bertamu

Hari ini aku mencoba mengajari anak-anak soal etika bertamu. Sebelum masuk materi, ku berikan story telling sebagai sarana penyampaian pesan. Tabarakallah berhasil. Mereka bisa diam mendengarkan dan antusias mengikuti apa yang ku ajarkan.

Dari hasil belajar, ku sadari bahwa sebagian besar anak kurang mengerti etika bertamu. Mereka kaget waktu ku bilang jangan masuk sebelum disuruh masuk, atau jangan duduk sebelum disuruh duduk oleh penghuni rumah.

Mereka pikir, kalau sudah dibukakan pintu, maka bebas bisa apa saja di dalam rumah. Termasuk duduk dan membuka toples sajian. Lalu ada pertanyaan “Kalau di rumah saudara, kita bebas ngapain aja kan? Bisa langsung masuk tanpa ngucap salam?”

“Ya gak gitu. Salam itu doa. Kalau kita bilang assalamu’alaikum, itu artinya kita doa buat diri sendiri dan penghuni rumah. Masih inget gak, kalau kita dari luar, kadang ada setan yang ikut. Nah, salam itu kita ucapkan biar setan gak bisa masuk rumah.”

“Aku biasa masuk rumah saudara tanpa bilang apa-apa Bu. Tapi gak pernah dimarahin.”

“Ya mungkin karena saudara kamu belum tau manfaat salam. Mulai sekarang, kalau mau main pun biasakan minta ijin dan bilang salam biar orangtua di rumah tenang”

Selain etika mengetuk pintu, mengucap salam, duduk dan makan, ku juga ajarkan anak-anak sedikit tentang boso kromo. Maklum, karena di sini masih bumi Jawa, ada kalanya orangtua pasti bertanya apa tujuan datang ke rumah.

“Usahakan jawab pake kromo. Kalau gak tau, sedikit aja kromonya. Dan jangan pernah panggil orangtua temen kita dengan panggilan ‘mbak’. Panggil saja ‘bu’. Soalnya bu epik sering dengar anak-anak ditanya orang yang lebih tua, pakainya sapaan mbak. Itu kurang sopan ya.”

Lalu, materi berbasis cerita yang ku berikan kurang lebih 15 menit itu berakhir dengan praktek. Alhamdulillah, semua mendengarkan dengan baik, jadi prakteknya sukses semua. Sesi belajar kami tutup dengan pembacaan ayat kursi yang diiringi adzan Isya setelahnya 😊

Semoga ku juga konsisten bisa mengajarkan hal baik yang diriku sendiri sudah menerapkannya. Agar tak hipokrit tentunya 😄

Ceritaku · Pengalaman

Mitoni : The End

Tabarakallah, acara mitoni selesai sudah. Banyak tetangga, saudara, dan rekan kerja suami yang hadir. Turut pula teman-temanku datang ikut memeriahkan acara slametan alias syukuran berbasis hajatan kecil ini.

Tak bisa dipungkiri, dana yang dikeluarkan cukup besar. Jauh berbeda dari rencana awal yang hanya mau mengundang ibu-ibu pengajian, bagi berkat + rujak yang sudah diplastiki. Tetapi, karena ada banyak kepala yang turut memberi masukan, jadilah acara ala orang kampung.

Yang menggembirakan, banyak orang suka dengan rasa rujaknya. Teman kerja suami, tetangga, dan tamu yang hadir semuanya bilang enak. Alhamdulillah!

Ku ucapkan banyak terima kasih kepada tim masak dan bantu-bantu yang super.

Mbak Lasih, bulekku yang mengatur hampir 80% pembelian kebutuhan, mengajak orang-orang untuk membantu alias rewang, pokoknya jadi mandor acara.

Mbak Ninis yang mau direpoti belanja bareng Mbak Lasih, wira-wiri ke pasar, dan mengatur belanjaan.

Mae Kis yang mau menunggui dan bantu-bantu repot di dapur sejak Sabtu pagi serta memberi pencerahan padaku tentang asas kepatutan.

Bu Suminah, Dhe Mini, Alvi, Lik Win, Lik Eni, Lik Raini, dan Mak Ti yang jadi tim dapur super sibuk selama dua hari sejak Jumat pagi hingga Sabtu sore. Terima kasih karena mau repot datang subuh untuk menyiapkan rujak dan memasak.

Rujaknya enak, gudegnya Bu Suminah mantab, dan yang menggembirakan, semua lauk, sayur, kolak, rujak, habis. Top! Bahkan suguhan palawija dan nasi ambengan di tampah pun ludes tak bersisa. Orang-orang memang tak makan di tempat, tetapi mereka membawa pulang karena sebelum ngaji di tempatku, mereka sudah makan di acara satunya lagi yang diselenggarakan hari itu juga.

Yang menarik, orang-orang di dapur mencoba menebak jenis kelamin anakku dengan cara melempar irig, perkakas dapur dari anyaman bambu. Dan… Dalam lima kali lemparan, hasilnya lima kali pula perempuan. Semua tertawa. Aku pun hanya senyum, karena hasil usg saja kadang bisa beda 😄

Paling suka kalau bikin acara, tapi sisa bahannya cuma sedikit. Hanya cabe dan bawang saja, itupun tak banyak. Sedangkan gula dan mie masih ada beberapa kilo dan dus, itu bisa dibagi atau jual kembali.

Untuk 300 porsi rujak kemarin, menghabiskan bahan-bahan sebagai berikut :

Gula jawa 20 kilo

Mbawang alias bacang 60 buah

Nanas 35 buah

Bengkoang 5 kilo

Parijoto 1 kilo

Delima 6 buah

Jeruk bali 10 buah

Tambahan lain :

Gula pasir 100 kilo

Mie 20 karton

Tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah hadir. Semoga Allah memberkahi kalian semua.

Sekarang ku mau fokus pada persiapan persalinan. Beli baju dan perlengkapan bayi lainnya, serta lebih serius dalam perbaikan gizi agar tidak letoy pasca lahiran 😂 soalnya selama ini makannya mulai tidak teratur. Malas makan sayur dan lebih sering beli lauk matang. Duh!

Tips

Ketika Ada yang Batal Beli

Namanya jualan, ada yang gak jadi beli ya wajar. Kalem aja. Kami juga biasa ada yang pesen banyak, nanti prakteknya pesennya dikurangi. Tapi, ndilalah bin qadarullah, ada orang lain yang beli lebih banyak. Jadi bisa menutupi ‘kerugian’ yang disebabkan pikiran plin plan calon pembeli.

Dulu jaman modal masih dikit memang terasa nyeseknya. Harusnya kan uangnya bisa dipakai beli yang lebih cepet laku, jadi gak ada penumpukan barang. Sampai kami berpikir jika ada yang mau beli banyak, wajib melakukan pre order dulu.

Lalu kami ingat hadits, janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki. Oleh sebab itu, sistem PO itu pun kami hapus. Tabarakallah masa itu udah lewat. Mau ada orang pesan berapapun, insya Allah kami siap.

Mungkin yang jadi masalah adalah ketika mak jualan barang dropship. Pesenin orang dulu, nalangin dulu, terus calon pembeli kabur tanpa kabar. Jadikan aja pengalaman pahit itu sebagai motivasi biar mak bisa punya stok sendiri. Karena sungguh, jualan tanpa ada barang itu bagai berjalan dalam gelap. Bisa gerak, tapi tak bebas.

Ku pernah mengalami jadi dropshipper. Ketika ada yang pesan, ribet harus tanya ketersediaan barang dulu ke pemilik. Iya kalau calon pembeli sabar. Ada juga yang tak sabar. Setelah transaksi selesai pun, masih harus memikirkan resi.

Bandingkan kalau barang itu kita miliki. Ada orang tanya, bisa langsung kita jawab. Cek stok, apakah yang dicari ada. Setelah orangnya transfer, kita ke ekspedisi, resi pun bisa langsung diberikan. Enak, mak.

Tak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang sukses jadi dropshipper. Bahkan, ku pernah mengikuti kelas online marketing, ada orang yang hanya jualan dropship saja bisa dapat 10 juta perbulan. Jumlah itu cukup besar loh, untuk kategori pemasukan sampingan.

Tapi, sampai kapan mau bergantung pada pemilik barang? Lebih baik kita sedia stok sendiri jadi lebih asik dalam melayani. Ku doakan mak sekalian bisa dicukupkan modalnya untuk memiliki barang di rumah. Syukur-syukur, malah jadi produsen langsung 😄🙏

*note : soal hadits di atas, bukan berarti dropship haram. Halal kok, selama memenuhi syarat dan rukun jual beli.

Ceritaku · Pengalaman · Uncategorized

Road to Mitoni 2

Pagi masih baru menyapa. Wangi mbawang atau di sebagian daerah disebut bacang, menyeruak mesra menembus penciumanku. Ku tau, sejak semalam nafsuku mendorong untuk membuka kardus yang berisi butiran-butiran buah dalam keluarga mangga ini. Tetapi, karena mau dipakai untuk acara mitoni, aku urung.

Iya, insya Allah Sabtu ini buah yang telah diberi sejak dua hari lalu itu akan dikupas. Dicampur bersama nanas, kedondong, bengkoang, delima, jeruk bali, mangga, dan tentunya buah kesuburan : parijoto.

Kemarin, aku memasrahkan semua uang belanja pada bulek. Berdua bersama bulek satunya yang merupakan istri omku, mereka membantuku membeli semua keperluan hajatan. Aku hanya duduk diam di rumah, sebab kondisi perut yang sudah besar begini tak memungkinkanku untuk turut serta memilah-milih barang di pasar.

Sore harinya, suamiku dan mas Yadi memasang terpal di belakang untuk tempat masak orang-orang yang akan rewang. Rencananya, hari ini mereka akan mulai merebus air, menyiapkan kuah rujak, dan mengupas buah-buah.

Di musim hajatan seperti ini, harga buah rujakan melambung tinggi. Tak apa. Yang penting semua ada. Lengkap. Agar enak rasa rujaknya. Dan pagi ini, sejak pukul 06.30 beberapa orang yang membantu di acara hajatan sudah datang. Memulai masak. Melihat kemeriahan dan hiruk pikuk di kebon belakang membuatku antusias dan melupakan besarnya biaya yang kami keluarkan.

Orang Jawa bilang, sing penting rahat 😄

Ceritaku · Pengalaman · Uncategorized

Road to Mitoni 1

Sebentar lagi, insya Allah aku dan suami punya hajat. Sebut saja mantu cilikan untuk acara mitoni, tingkeban, atau syukuran tujuh bulan. Tadinya, ku pikir mau buat acara pengajian dan walimah sederhana. Ringkas. Praktis. Tapi… Nyatanya, berkenaan dengan satu bayi yang merasa dimiliki simbah-simbahnya, akhirnya acara pun membesar.

Bujet yang tadinya hanya sekian, berubah menjadi berkali-kali lipat. Rujak yang hanya mau bikin 100 kantong, membengkak lagi jadi 300. Itupun digadang-gadang akan kurang. Belum mie instan yang ku pikir hanya butuh empat dus, kini berubah jadi 20 dus. Kata bude wajar, karena aku tinggal di kampung. Kalau di kota, berkat bisa diganti roti. Di kampung, berkat ya harus komplit ada telur, daging/ayam, sambel goreng kentang, dan nasi dalam porsi banyak dalam besek.

Dalam hati aku membatin “Wow, sebegini meriah perayaan kehadiranmu, nak.”

Memang dari awal, suami ingin tetap ada acara rujakan. Ditambah dengan simbah-simbahnya yang mendorong agar semakin banyak orang tau, semakin banyak pula yang mendoakan. Sebagai ‘direktur keuangan’ rumah tangga, pasti aku memilih untuk hemat. Lalu, lambat laun aku mencoba memahami kondisi psikologis orang-orang terdekatku.

Suamiku..

Ibuku..

Bapakku..

Mertuaku..

Mereka ingin merayakan keselamatan cucunya tujuh bulan di kandungan. Tentunya dengan teriring doa agar bisa lahir dengan selamat. Maklum, ini anak kedua yang ku kandung setelah yang pertama gugur. Ditambah aku dan suami merupakan anak pertama, jadi insya Allah dia akan jadi cucu pertama pula di keluarga kami.

“Wis, ora sah bingung. Mitoni ki ngko awake dewe insya Allah entuk pahala sedekah bagi-bagi panganan karo nek ono rejeki yo mesti podo nyumbang. Sing penting ono wong ngaji diundang neng omah.” Kata Bapak. (Sudahlah, tak usah bingung. Mitoni tuh insya Allah jadi sarana kita bersedekah lewat makanan yang dibagi. Selain itu, kalau ada yang nyumbang, lumayan bisa jadi tambahan rejeki. Yang penting ada orang ngaji diundang.)

Aku dan suami pernah berkali-kali membahas masalah ini. Apakah sebegitu pentingnya mitoni? Lalu dia pun menjawab “Yang cari uang aku. Aku mau bikin acara buat anakku. Kamu atur aja semuanya. Jangan mikir apa-apa. Masalah uang tinggal bilang.”

Simbah-simbahnya pun maju. “Nek duite kurang, ngomong.”

Akhirnya, aku pun tenang. Yaaahhh bagaimanapun juga, bikin hajatan pasti berurusan dengan duit kan maak 😂. Menjelang masa lahiran gini, pasti fokusnya uang yang ada buat jaga-jaga biaya persalinan, beli perlengkapan bayi, dan juga printilan lainnya. Toh habis lahir nanti pasti ada acara aqiqah, bayar dukun beranak, jamu, dan uba rampe lainnya.

Kelihatannya ribet ya? Tapi ku menikmatinya mak. Pertama kalinya dalam hidup, aku menyukai kegiatan melakukan hajatan dengan biaya besar yang melibatkan tetangga kanan kiri ikut rewang 😄👍

Yang penting, dalam acara syukuran nanti aku konsisten tak ada sound system yang berisik, atau acara-acara yang kurang perlu lainnya. Intinya hanya bagi rujak, ngaji, lalu bagi besek ke tetangga di kampung. Beres 👍

Pendidikan · Pengalaman · Rumah Belajar

Ngajar, Manajemen Diri dan Amal

Diam-diam, ku coba kalkulasi jumlah jam mengajar selama semester ganjil tahun lalu dan sekarang. Mengapa tahun lalu? Karena saat itu aku sering jatuh sakit kecapean. Ternyata hanya selisih dua jam. Pada bulan Agustus-Desember 2017 aku mengajar 30 jam dalam seminggu, sedangkan tahun 2018 ini 28 jam. Tapi kok, capeknya beda ya?

Aku coba mengingat kembali. Dulu, jumlah anak yang belajar di tempatku ada 28 orang. Sekarang 25 orang, di luar yang ngaji. Kalau ditotal, lebih banyak sekarang, yaitu 32 orang.

Dulu, aku mengajar Senin-Jumat. Sekarang pun sama, hanya bedanya untuk jadwal ku selang-seling dan ku bagi harinya. Setiap kelas hanya 3x pertemuan dalam seminggu. Dulu, semua kelas jadwalnya sama : Senin-Jumat.

Dan… Inilah yang paling penting menurutku. Dulu, aku masih mencampur kelas. Sekarang semuanya ku pisah. Satu kelas hanya ada lima anak. Sisanya, kalau mau privat.

Sistem begitu sebetulnya sudah lama ku pikirkan. Tetapi, kata suami sebaiknya jangan dibatasi. Biar semua anak yang mau belajar di sini bisa bergabung. Karena banyak juga anak-anak kurang mampu yang ingin turut belajar.

Awalnya ku ikuti, tapi lama-lama aku berpikir. Beramal tuh gak segitunya. Masih banyak cara-cara baik dan cerdas untuk peduli pada sesama. Berhubung aku menyediakan jasa bimbel, ya harus fokus sama anak-anak yang memang punya minat belajar. Bukan hanya untuk mereka yang berpikir “Belajari di Bu Epik yuk, orangnya menyenangkan.”

Yah, nak. Kalau hanya sekedar menyenangkan kalian, tanpa di kelas pun kita masih bisa interaksi. Sebab itulah, aku memutuskan membuat sistem belajar yang lebih baik. Ada yang bolos lebih dari 3x, ku sms orangtuanya. Pokoknya lebih ketat dan terkontrol.

Pemikiran seperti ini sama seperti akhirnya ku memutuskan resign dari sekolah. Aku merasa bukan orang yang bisa berada pada tempat dengan hasil kecil, tapi dituntut suatu pekerjaan besar. Bicara amal dan keikhlasan, kembali lagi. Masih banyak cara untuk melakukan kebaikan. Lagipula, kalau uangku sedikit, maka sedikit pula lah yang bisa ku bagi.

Saat itu usiaku masih 25 tahun. Untuk sertifikasi agar bisa dapat gaji dua kali lipat seorang guru tetap, setidaknya harus mengajar minimal 5 tahun. Jika benar aku bertahan di sekolah, maka usiaku 29 tahun saat bisa mengajukan sertifikasi guru. Itupun aku harus kuliah lagi dengan jurusan keguruan. Biaya lagi, berkorban waktu, pikiran, dan tenaga lagi. Demi gaji sekian?

Berapa gajinya setelah sertifikasi? Ternyata bisa ku peroleh bersama suami setelah menikah di usia 28 tahun. Tanpa harus lama menanti 5 tahun, dan dengan tambahan biaya kuliah lagi untuk pendidikan keguruan. Itulah, aku selalu merasa salut pada kawan-kawan guru yang mampu bertahan. Mereka melawan segala gejolak jiwa antara ingin keluar dan bertahan. Tetapi, pada dasarnya diriku bukan orang yang suka terkungkung pada suatu tempat dengan aturan ketat.

Tidak, bukan sekolahnya yang bermasalah. Dibanding sekolah lain, yayasannya cukup baik. Sepupuku yang lebih dari 5 tahun ngajar malah belum diajukan sertifikasi. Sedangkan di sekolahku dulu, guru yang telah 5 tahun mengabdi langsung diajukan. Memang tuntutan guru jaman sekarang sungguh berat. Tak sebanding dengan gaji yang hanya cukup untuk seperlima kebutuhanku dalam sebulan pada masa itu.

Terpikir bahwa setelah anak lahir, mungkin aku ingin mengurangi jam ngajar. Tetapi, mengingat cita-cita ini pun telah pernah ku miliki dan ternyata tidak terealisasi (pengen ngajar sedikit malah jadi banyak), akhirnya aku hanya bisa berjanji pada diri sendiri : yang penting gak sampai kecapean ngajar, biar bisa ngasuh bocah.

Jadi, untuk semester depan insya Allah aku akan membuka kelas maksimal 5 saja. Siapa cepat, dia dapat. Tapi kalau jadi banyak, ya pikir-pikir dulu kondisi buah hati gimana. Anak anteng ibu ajar semua, anak rewel ya ibu ngajar sedikit saja 😆

Tips

Pro Kontra Promosi Jualan Lewat Japri (Whatsapp/Inbox/DM)

Di era digital ini, ada banyak cara memasarkan barang. Salah satu tips yang biasa digembar-gemborkan marketer yang naik level jadi master adalah promosi lewat japri. Entah itu whatsapp, inbox, ataupun DM.

Tak bisa dipungkiri, cara ini ada baiknya, tapi ada juga buruknya. Dulu, tiap kali ada teman menawari barang pasti ku beli. Lama-lama jengah juga. Seringnya ku cuekin, bahkan langsung delete message tanpa membacanya. Biarlah, kalau temanku itu jadi baper.

Seharusnya, setiap penjual juga memahami psikologi masing-masing calon konsumennya. Bagi yang pernah belajar kewirausahaan atau membaca buku-buku teorinya, pasti akan menemukan bahwa ada beberapa tipe konsumen, antara lain :

1. Maunya ditawari. Tipe ini tak akan membeli kalau tidak kita sodori barangnya. Jadi, meskipun tiap hari kita menjual sana-sini, mereka akan bergeming dengan alasan “Aku gak ditawari kok, ya gak mau beli.”

2. Tidak suka ditawari. Tipe ini cocok untukku. Aku tipikal orang yang tak pernah membeli barang karena penawaran. Biasanya hanya rasa tidak enak saja pada penjualnya, misalnya karena kenal. Tapi untuk repeat order, sudah dipastikan tak akan pernah terjadi. Yang penting sekali saja aku beli, untuk menyenangkannya.

3. Tipe yang selalu mau ditemani. Calon konsumen ini biasanya belum punya keputusan mau membeli. Kitalah yang mengarahkan mereka harus beli barang mana. Kalau kita pintar, mereka bisa memborong produk kita. Sebaliknya, kalau kita bersikap tidak memuaskan, mereka pun akan melenggang.

4. Tipe yang tau segalanya. Untuk yang terakhir ini, calon konsumen sudah tau mengenai barang yang akan dibelinya. Contohnya dia hanya mau popok celana merk Fluffy. Ketika ditawari Mamamia atau merk lainnya, bahkan dengan promosi gratis coba pun, dia berkilah “Anak saya cuma cocok pake Fluffy. Kalo diganti lainnya langsung iritasi.” Nah, untuk yang tipe begini kita hanya bisa melihat stok. Ada barang terjadi penjualan, kalau tak ada ya berarti harus rela calon konsumen tersebut pergi.

Demikian. Jadi, tak melulu menjual itu asal punya banyak kontak di hape, lalu kita japri satu per satu. Apalagi dapat nomornya cuma dari grup. Mereka belum kenal kita. Siapa elo pake nawarin barang ke gue?

Sebelumnya, ku minta maaf pada teman-teman yang sering kirim pesan promo tapi ku cuekin. Sungguh, aku ini paling malas ditawari barang. Pernah ada yang kesal padaku karena aku keukeuh tidak membeli di saat ibu-ibu lainnya tergoda untuk beli. Padahal aku sudah ditawari diskon hingga program nyicil. Tapi karena ku pikir tak butuh barangnya, jadi tak ku beli.

Jika jualan online, lebih baik kalian upload atau update saja di sosmed lengkap dengan deskripsi dan harga, kalau suatu saat aku butuh, aku pasti menghubungi.

Semoga bermanfaat ya. Ingat, tak semua orang suka saat hapenya berbunyi ternyata yang masuk cuma pesan promosi jualan. Berhubung aku orangnya tak enakan nolak, lebih baik aku tak berinteraksi atau membalas pesan daripada membeli barang yang jelas-jelas tidak ku butuhkan 😄

Ceritaku

Pantai Rahasia Kami

Pantai itu masih bersih. Pasirnya memang tidak putih. Tetapi saat di sana, kita akan ingat pada pantai yang ada di film-film Hollywood tentang adegan manusia terdampar di pulau terpencil. Sepi. Damai.

Ada pandan berduri yang bergerombol di tepi. Bebatuan besar tersebar di sepanjang bibir pantai, ditingkahi dengan kerumunan udang kecil yang sering dicari para pembuat terasi. Untuk mencapai ke sana, harus melewati bibir pantai yang terendam air setinggi lutut dengan bebatuan karang di bawahnya.

Di lokasi yang cukup jauh dari pemandangan manusia itu, aku dan suami pernah bermadu kasih. Muehehehe jangan mikir jorok ya. Kami di sana hanya melakukan adegan basah-basahan. Nyebur ke pantai, siram-siraman air, foto selfie yang hanya tersimpan di memori (karena fotonya sambil basah 😆), dan duduk di tepian sambil ngemil jajan yang dibeli di minimarket selama perjalanan.

Tetapi, kini pantai itu telah tiada. Terakhir kami ke sana, kapal-kapal besar dan garis larangan mendekat telah terpasang. Petugas keamanan berpatroli di sekitar sana dan meminta siapapun untuk menjauh. Ah… Pantai yang indah itu telah sirna. Padahal, aku sempat berangan. Kelak jika punya anak, kami akan piknik di sana. Menggelar tikar, bermain air dan pasir sambil menikmati bekal dari rumah.

Khayalan itu sirna sudah. Sempat, aku dan suami menemukan lokasi baru. Sebuah tempat sepi. Hanya sedikit manusia yang ke situ. Namun, kini pun telah ramai. Warung sudah berdiri di sana dipenuhi pemuda yang kerjanya hanya nongkrong dan mengepulkan asap dari mulutnya. Hufh, sumber polusi yang tak ku sukai.

Begitulah. Aku telah malas ke pantai. Titik-titik tersembunyi yang lebih suka ku nikmati dalam sepi kini telah tiada. Berganti dengan ramai dan hiruk pikuk manusia lainnya.