Uncategorized

Tentang Aiko dan Janji Surga Untuknya

Aiko adalah nama anak pertama kami, setelah sebelumnya saya dan suami tau apa jenis kelaminnya. Dia saya lahirkan di usia 14 minggu, dengan bentuk gumpalan darah. Ada haru yang menyelinap di hati ketika mengingat putri pertama kami.

Waktu itu, saya selalu mengalami mimpi buruk. Di dalam mimpi, saya hendak dibunuh oleh orang yang belakangan saya tahu oknum pengirim sihir. Aiko datang menghalau dan mengajak saya bermain. Saya pun menuruti permintaannya.

Di dalam mimpi, hati saya bergumam. Ya Allah, alangkah cantiknya anak ini. Putih, mancung, matanya berbinar, dan sangat cerdas.

Lalu, anak kecil nan manis itu pamit. “Aku mau pulang. Aku mau bobo.”

Seketika saya terbangun. Darah mengalir deras disertai dengan gumpalan darah. Hati saya mendung. Kalut, mengingat kalimat terakhir anak kecil di dalam mimpi itu.

Saya ingin menelepon suami yang sedang kerja, tapi saya tahan sebab tak ingin membuatnya panik. Mata saya bersimbah air mata, bercucuran tiada henti.

Sore hari ketika suami pulang, saya langsung mengajaknya ke dokter. Dalam kondisi kepayahan, saya tanya pada tetangga kos di mana dokter kandungan terdekat?

Teman saya menunjukkan tempat praktek dokter Krisna di Jatingaleh. Saya dan suami pun segera meluncur ke sana.

Pukul 18.00, kami sampai di lokasi. Masih sepi. Akhirnya, saya dan suami memutuskan solat dulu. Selesai solat, kami kembali ke tempat tadi dan sudah ada sepasang suami istri. Hmm alhamdulillah, gakpapa lah jadi yg kedua walau tadi datang duluan 😃😃

Lama kami menanti. Antrian makin panjang, bahkan sampai ada yang pulang karena jam buka molor terlalu lama dari yang seharusnya.

Pukul 20.00 kurang, pintu dibuka. Rasa sakit yang mendera bagian bawah tubuh saya amat mencengkeram. Saya memandang suami, matanya sayu kelelahan. Tapi kami memutuskan menunggu dengan sabar.

Setelah sekian lama, kami dipanggil. Dokter melakukan USG, dan… Terlihat rahim saya kosong. Suami terlihat pias. Saya tabah, sudah duluan sedih ketika bangun tidur tadi.

“Anak kita sudah pamit padaku tadi. Dia anak yang sangat cantik. Dia juga baik, karena telah menyelamatkan ibunya dari gangguan jin. Tak sia-sia kita bacakan surah Maryam dan Yusuf untuknya setiap hari”

Suami saya terdiam. Menangis tanpa air mata.

Kalau bukan karena janji surga untuknya, saya pun pasti masih akan menangisi putri cantik kami.

Advertisements
Seksologi

Ramuan Alami Memperbesar Payudara

Tips ini ku peroleh dari seorang yang sukses membesarkan ukuran asetnya. Mudah, murah dan tak perlu konsumsi obat-obatan. 

Caranya : tumbuk kacang panjang secukupnya, tambahkan minyak VCO (Virgin Coconut Oil) satu sendok makan. Balurkan ke aset kita, tunggu 30 menit, lalu bersihkan.

Semoga bermanfaat 😀

Ceritaku · islam · riba · Uncategorized

Kisah Kami Menghindari Riba : Keajaiban Itu Nyata

Kami jualan popok bayi yang diambil langsung dari pabriknya sejak Oktober 2016. Di bulan februari 2017, kami mengalami kesulitan penambahan modal. Karena saat itu, seluruh uang yang kami punya DIPAKSAKAN untuk BAYAR UTANG. Awalnya kami mau mencicilnya, tapi ternyata tak kunjung terlaksana. Daripada hidup bergelimang utang, aku dan suami nekat memakai seluruh uang modal dan tabungan untuk membayar utang.
Alhamdulillah, uang hanya sisa 300 ribu di awal bulan tapi masya Allah hati rasanya tenang. Benar-benar ajaib. Padahal ketika punya banyak uang, pikiran kami kalut. Serasa ada banyak kebutuhan yang belum terpenuhi. Ketika aku dan suami sudah mau pinjam ke bank untuk modal usaha, aku menemukan ayat larangan riba. Kami mundur dan banyak istighfar.
Keajaiban datang lagi. Ada kerabat yang menitipkan uang pada kami untuk dibelikan stok popok. Alhamdulillah, kami bisa jualan lagi. Dan kurang dari sebulan, uang kerabat kami sudah bisa dikembalikan 100%.
Allahu akbar! Itulah sebabnya sekarang kami yakin, manut Allah = sukses! Kita bisa memenuhi kebutuhan tanpa harus memaksakan diri berhutang. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dunia akhirat.

Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah Bagian 4 : Sebuah Petunjuk

Pekatnya langit malam ini mulai memudar. Bintang gemintang masih setia menghias cakrawala yang gelap. Kokok ayam jantan mulai terdengar di seluruh penjuru kompleks, berbarengan dengan gema azan subuh. Tubuh gadis itu menggeliat. Telinganya serasa mendapat bisikan gaib untuk bangun. Dia pun terkerjap. Bergegas bangkit sekaligus takjub. 

Aku bisa bangun saat azan subuh?

Sesaat dia tak percaya pada dirinya sendiri. Hampir tiga dasawarsa hidup, dirinya tak pernah sanggup bangun membersamai panggilan menghadap Tuhannya. Masa kecilnya selalu lelap oleh lelah karena membantu ibunya membuat jajan pasar. Ketika remaja, dia pun kalah oleh penat tubuhnya melakukan pekerjaan sambilan berjualan keliling desa. Dan ketika dewasa, rutinitas kantor membelenggunya untuk tetap di atas tempat tidur dengan mata terpejam. 

Tak pernah genap solatnya selama ini. Bahkan setelah berkawan dengan Dinda yang alim pun, Nasya masih bolong-bolong ibadahnya. Agaknya hari ini ada semangat yang berbeda. Entah mengapa. Semalam sebelum tidur, dilakukannya dulu qiyamul lail. Dinda pernah bilang, solat malam tak haruslah di sepertiga malam terakhir. Namun, waktu terbaik untuk berdoa memang di saat itu karena Allah sedang turun ke langit dunia.

Nasya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kakinya yang jenjang dilangkahkan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lantas diraihnya mukena yang selama ini selalu tergantung di sudut kamar. Dia pun solat. Melakukan kewajibannya sebagai seorang hamba.

Ketika solat, seluruh tubuh Nasya bergetar. Selama ini, dia selalu cemburu pada Reva. Namun, tak disangka sosok yang dianggapnya sebagai rival itu justru sangat peduli padanya. Teringat obrolan kemarin, ketika Nasya bertanya mengapa Reva memilih dirinya sebagai kandidat untuk kakak sepupunya. Jawaban Reva membuatnya terkejut dan dia pun langsung memalingkan wajah karena malu.

“Aku tau kamu itu baik. Kamu pekerja keras, tegas, dan sayang keluarga. Mas Bimo adalah orang yang cukup keras kalau berhadapan sama orang. Tapi di dalam, kadang dia suka bimbang. Ketegasan kamu insya Allah cocok untuk melengkapi kekurangannya.” Reva menjelaskan alasannya dengan tenang dihiasi bibir penuh senyum.

Nasya merasa malu. Ternyata Reva memiliki penilaian yang baik tentang dirinya. Minggu pagi itu pun mengubah sikap dan pandangan Nasya terhadap Reva. Dia menghapus segala kecemburuan pada Reva. Kini tak ada lagi Reva yang lebih beruntung. Sekarang yang ada, Reva calon adik sepupunya.

Mengingat pikiran itu, pipi Nasya memerah. Wajahnya terhias bahagia dari khayalan yang diciptakannya sendiri. Aaah belum tentu kakak sepupunya mau sama aku.

Bicara soal mas Bimo, Reva telah memberikan nasehat bijak. “Mulai malam ini kamu solat ya, Sya. Minta petunjuk sama Allah. Kalau memang kalian berjodoh, semoga disegerakan. Kalau enggak, ya semoga nanti pas ketemu, Allah tunjukkan hal yang membuat hati kamu gak sreg.”

Itulah sebabnya, semalam Nasya sudah bersimpuh mengharap petunjuk. Sekaligus memohon ampun atas ketidaksukaannya pada Reva selama ini.

Selesai solat, Nasya meraih ponselnya. Masih belum ada kabar tentang Rio. Nasya tak peduli. Jika diingat-ingat foto di galeri milik Reva, mas Bimo nampak lebih gagah dibanding Rio. Wajahnya lebih berwibawa. Entah karena usia yang memang sangat matang atau karena karakter mas Bimo lah yang membentuk aura magnetik bagi Nasya.

Dengan wajah penuh senyum membayangkan mas Bimo, Nasya membuka Facebook. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika melihat tampilan pada home feeds. Di sana, terpampang foto Rio bersama seorang perempuan. Dari sosoknya, Nasya tau perempuan itu bukan mantan istri Rio ataupun saudaranya. Mana ada saudara yang berfoto mesra dengan baju seksi?

Hati Nasya serasa dihantam palu godam. Memang, bukan Rio yang meng-Upload foto itu. Dirinya hanya ditandai oleh si perempuan. Tertulis caption di sana “Dua hari yang sangat menyenangkan bersamamu, sayang.”

Sayang!! What? Dua hari? Jadi, tidak adanya kabar dari Rio karena dia pergi dengan wanita lain. Bukan Geby, anak hasil perceraian dengan mantan istrinya. Nasya merasa tertipu. Namun anehnya, dia tak merasa sakit hati. Segera dikliknya tombol save picture. Dibukanya whatsapp, lalu dikirimkannya gambar itu pada Rio.

“Kok Geby udah segede ini ya. Montok, seksi. Pantes papanya sampe lupa kasih kabar.” 

Pesan itu dikirimkannya pada Rio. Kemudian, dia menambahkan,”Oya, mulai hari ini lo gak usah hubungi gue lagi. Anggep aja kita gak pernah kenal.”

Sungguh hari yang penuh kejutan. Setelah Reva menyatakan ingin mengajak Nasya taaruf dengan kakaknya, Allah menunjukkan kuasa-Nya akan keburukan Rio. Dan anehnya, dia tak sakit hati.

Apakah ini petunjukmu, ya Allah?

Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah Bagian 4

Malam terus merangkak. Nasya masih gelisah di atas tempat tidur. Baju tidur babydoll-nya basah oleh keringat, sebab malam ini terasa lembab. Langit berkali-kali mengumandangkan guruh, tetapi hujan tak kunjung turun. Keadaan yang sesuai dengan suasana hati gadis berusia mendekati kepala tiga tersebut. Apa yang disampaikan Reva tadi pagi masih membekas dalam ingatan. 

“Sya, aku punya kakak sepupu. Usianya udah matang. Kelewat matang. Tahun depan dia udah seusia Nabi Muhammad waktu mendapat wahyu pertama kali. Tapi, dia belum pernah nikah kok. Jadi memang perjaka tua.” Reva berbicara dengan hati-hati, takut membuat Nasya tersinggung.

Wah jahat banget sih, sodara sendiri dibilang perjaka tua. Hahaha.” Nasya berusaha menimpali kalimat Reva dengan bercanda.

“Hehe.. Ya untuk menegaskan ke kamu aja. Nanti dikiranya dia udah punya istri atau duda gitu.”

Dinda hanya diam saja menyimak obrolan mereka berdua. Seminggu yang lalu, Reva telah mengungkapkan keinginan itu pada Dinda. Mencarikan istri untuk kakak sepupunya. Dinda yang juga ingin melihat sahabatnya menikah, langsung menyetujui. Apalagi, Dinda kenal Reva. Tak mungkin dia mencarikan calon yang buruk untuk sepupu dan temannya sendiri.

“Emang kenapa kok sampe sekarang belum nikah?” Nasya akhirnya tertarik untuk mengetahui latar belakang sepupu Reva.

“Dia itu workaholic. Sebetulnya dulu sempet mau nikah, tapi calonnya kabur dibawa orang. Sejak saat itu mas Bimo gak pernah lagi deket sama cewek.”

Nasya membayangkan wajah laki-laki di usia 40-an yang frustasi ditinggal kekasihnya. Pfff pasti jelek dan tua!

“Insya Allah mas Bimo udah sangat mapan, Sya. Kamu tinggal duduk di rumah pun dia bisa mencukupi kebutuhan kamu. Kalaupun kamu mau kerja, kalian diskusikan aja berdua. Aku udah bilang kamu ini wanita karir dan dia mengerti. Jaman sekarang gitu loh…”

“Mmm…” Nasya hanya menggumam.

Reva tanggap. Dikeluarkannya ponsel miliknya dan dia nampak scrolling dengan jarinya. Sejenak, dia tersenyum. “Ini foto mas Bimo, Sya. Lumayan kok tampangnya. Dinda aja sempet naksir.”

Dinda yang namanya tiba-tiba disebut langsung tersedak kacang bali yang sedang dikunyahnya. “Iiih Reva jangan kitu atuh. Kalo ayang beb misua tercinta tau, bisa ada aksi cemburu buta.”

Reva tertawa. “Gak papa Din, santai aja. Pandangan pertama itu anugerah. Berikutnya baru musibah.”

Dinda manyun, lantas ikutan tertawa. Sedangkan Nasya tertegun sambil memandangi wajah yang ada di galeri Reva. Benarkah itu mas Bimo? Wajah lelaki itu tak nampak sudah berusia 40 tahun. Tubuhnya terlihat cukup atletis dibalut kaos kerah Polo. Sorot matanya nampak tajam dan rahangnya kokoh. Kulitnya agak kecoklatan namun bersih terawat. Wajah Nasya memanas. Secara fisik, mas Bimo adalah tipe pria yang disukainya.

Reva menangkap perubahan wajah Nasya. Dia tersenyum paham. Sebagai sesama wanita, Reva tahu bahwa Nasya tertarik pada sepupunya itu.

“Oke, lihat muka Nasya yang ter-WOW ini, minggu depan aku atur jadwal kalian ya biar ketemu langsung. Kamu free kapan, Sya?”

“Haaah? K..kok cepet amat mutusinnya. Aku kan belum bilang mau.” Nasya makin memanas karena malu.

“Wajah kamu udah ngasih jawaban, tau. Kamu lupa ya aku suka jadi psikolog amatir.”

“Tapi… Apa mas Bimo udah kamu kasih liat fotoku?” Nasya mendadak ber-aku kamu. 

“Udah. Aku kasih liat foto pas kita bertiga makan-makan sebelum pernikahanku.”

Nasya merasa lega. Karena seingatnya, dia selalu memakai jilbab ketika jalan dengan kedua orang temannya itu. Kemudian merasa malu, kenapa kali ini dia ingin nampak alim di mata lelaki?

“Jadi, kamu bisanya kapan Sya? Biar aku atur jadwal ketemu mas Bimo.”

“Emm Minggu depan aja gimana? Malam minggu?” Nasya sengaja memilih malam minggu, karena untuk menguji apakah mas Bimo bisa atau tidak. Cowok seganteng itu gak punya gebetan? Gak mungkin! Malam minggu biasanya laki-laki tampang don juan begitu pasti punya jadwal kencan sama cewek.

“Oke, deal. Aku kabarin ya tempat dan waktunya di mana.”

Itulah percakapan antara mereka bertiga yang kini membuat Nasya gelisah. Dia baru sadar, ada Rio yang harus dipikirkan. Bagaimana dengan hubungannya? Bagaimana kalau akhirnya Nasya memilih mas Bimo? Maukah Rio ditinggal? Ugh! Nasya tak ingin dicap selingkuh.

Memikirkan Rio, Nasya baru sadar laki-laki itu belum menghubunginya sejak sabtu malam. Dia membuka ponsel. Tak ada sms ataupun miskol dari Rio.

Nasya tak peduli. Diletakkannya kembali ponselnya dan mencoba tidur. Baru kali ini dia bisa melewati malam tanpa kabar dari Rio dengan tenang. Baru kali ini, setelah hatinya terpana melihat sosok di galeri milik Reva.

Pendidikan · Rumah Tangga · Seksologi

Seksologi Suami Istri : Orgasme untuk Bahagia

Menurut majalah “Men’s Health”, berdasarkan survei, ditemukan kondisi bahwa:

94.7% pria tidak bisa memuaskan wanita di ranjang

91.7% wanita memanipulasi orgasme.

74.6% wanita hanya berpura-pura karena sebenarnya mereka tidak puas secara seksual.

Dunia telah berubah, banyak hal yang dahulu dianggap tabu untuk dibicarakan, namun sekarang demi kemashlahatan dan kesamaan hak dan kewajiban malah perlu dibicarakan dan didiskusikan. Termasuk di sini yang berkaitan dengan The Big “O”. The Big “O” merupakan bagian dari kehidupan suatu rumah tangga, bagian dari kehidupan pasangan suami istri. Nah, kalau ia merupakan kehidupan maka adalah tugas masing-masing kita untuk menghidupinya bukan?

Tidak ada keinginan untuk mendiskusikan masalah ini dalam rangka pornografi ditinjau dalam bentuk apapun juga. Diskusi ini hanya sebagai upaya untuk lebih menyadarkan kaum wanita bahwa mereka memiliki hak (dan tentu juga kewajiban) untuk mendapatkan The Big “O” dalam kehidupan mereka, begitu juga sebaliknya, kaum pria juga perlu menyadari bahwa pasangannya berhak untuk mendapatkan The Big “O” tersebut sebagaimana ia juga berhak mendapatkannya. Ya, pria dan wanita dalam konteks rumah tangga perlu menghidupi kehidupan itu, dan di sinilah kita perlu melihat bagaimana peran Ketofastosis dalam masalah ini.

Tadi telah disinggung selintas mengenai pengertian orgasme, bahwa orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

Di sini terlihat bahwa seharusnyalah orgasme itu dalam konteks hubungan suami istri menghasilkan perasaan puas dan relaksasi pada kedua belah pihak. Terkait dengan hal ini, maka ada beberapa pertanyaan yang mungkin sering muncul di pikiran. Dengan mengetahui konsep-konsep dasar sebagai penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, diharapkan muncul gambaran utuh mengenai hal-hal terkait dengan orgasme itu.

Apakah pria dan wanita mengalami sensasi yang sama saat orgasme?

Tidak ada jawaban yang pasti mengenai pertanyaan ini. Tiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda-beda dalam mendeskripsikannya. Tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa dalam orgasme, ada dua organ tubuh yang terkait yakni penis dan klitoris. Mengapa? Karena keduanya berasal dari jaringan yang sama saat embrio berkembang. Dan hebatnya lagi, selama kita hidup, syaraf tulang belakang (spinal cord) dan otak itu terhubung pada penis dan klitoris melalui rute syaraf yang sama (syaraf pudendal). Oleh karena itu, untuk jawaban pertanyaan ini, para peneliti mengatakan patut diduga, secara umum baik pria maupun wanita memiliki perasaan yang serupa.

Mengapa tidak semua orgasme mempunyai “rasa” yang sama?

Pada wanita (pertanyaan ini sering muncul pada wanita), menurut penelitian, organ intimnya dihubungkan ke beberapa pasang syaraf yang melayani pasangan syaraf yang berbeda. Oleh sebab itu, “rasa” suatu orgasme akan bergantung pada pasangan syaraf mana yang saat itu distimulasi. Untuk wanita, kualitas sensorik suatu orgasme tergantung dari organ mana yang terstimulasi, apakah klitoris, vagina atau serviks. 

Tiap organ berhubungan dengan syaraf pudendal, sehingga bisa dilihat suatu orgasme terjadi pada bagian apa. Sekalipun menstimulasi tiap bagian bisa menghasilkan orgasme, tidak tertutup pula kemungkinan adanya kombinasi stimulasi pada beberapa bagian yang lain, sehingga menghasilkan tingkat orgasme yang lebih hebat.

Pada pria, syaraf pudendal membawa rangsangan dari syaraf pada jaringan kulit penis dan skrotum. Selain itu, syaraf hipogastrik membawa rangsangan dari testis dan kelenjar prostat. Sama seperti wanita, stimulasi pada masing-masing bagian ini akan menimbulkan “rasa” yang berbeda.

Apa yang disebut dengan Multiple Orgasm?

Bila suatu orgasme terjadi berulang dalam periode yang sangat dekat mulai dari interval beberapa detik hingga beberapa menit, kejadian ini disebut dengan multiple orgasm atau orgasme berulangan. Umumnya, bila berbicara tentang orgasme berulangan, maka pihak yang sering dikaitkan dalam hal ini adalah wanita, sekalipun orgasme berulangan (meski jarang) bisa terjadi juga pada pria. Ada teknik dan pelatihan tertentu agar pria juga bisa mengalami orgasme berulangan.
Apa itu anorgasmia?

Anorgasmia merupakan situasi kurangnya atau menurunnya kemampuan orgasme. Pada pria sering disebut disfungsi orgasme yang disebabkan karena faktor fisik maupun psikologis. Dengan kata lain, terdapat gangguan kemampuan orgasmik entah itu orgasme yang tertunda, ketidakmampuan untuk ejakulasi hingga penurunan fungsi ejakulasi. Sedangkan pada wanita, dikatakan sebagai kurangnya kemampuan orgasmik yang ditandai dengan menurunnya intensitas sensasi orgasme, atau lamanya waktu pencapaian orgasme sekalipun telah dilakukan berbagai cara stimulasi.
Apakah Kemampuan Orgasme Menurun di Usia Tertentu?

Boleh jadi. Tetapi, dengan melakukan olah raga teratur serta mengonsumsi makanan dengan gizi yang cukup sebenarnya keadaan ini bisa ditunda. Pada pria biasanya gangguan kemampuan orgasme terjadi karena disfungsi ereksi, apalagi bila pada pria tersebut ditemukan gejala penyakit diabetes mellitus, karena kadar gula yang tinggi pada darah akan mengganggu pasokan darah ke organ reproduksi.
Pada wanita, kecendrungan penurunan terjadi saat memasuki masa menopause, dimana tidak lagi mengalami menstruasi, dan beberapa hormon seperti tidak lagi bekerja seperti seharusnya. Keadaan ini membuat vagina menjadi kering. Dengan stimulasi tertentu, sebetulnya kelenjar Bartholin masih mampu bekerja dan memasok pelumas untuk vagina.
Berapa Lama Waktu Untuk Bisa Mencapai Orgasme?

Tidak ada ukuran angka yang pasti, karena tiap pasangan berbeda-beda. Pada pria bisa tercapai mulai dari satu menit hingga 10 menit sejak melakukan penetrasi.  Pada wanita, pencapaian orgasme jauh lebih lama dibandingkan pria. Di sinilah letak pentingnya memahami hak dan kewajiban tiap pasangan, sehingga masing-masing merasa kewajibannya terlaksana tetapi juga mendapatkan haknya secara adil. 
Dalam keadaan normal, setiap pria dan wanita bisa mendapatkan dan meraih  atau menggapai orgasme itu. Sekali lagi, dalam keadaan normal. Normal di sini artinya, tidak ada kelainan-kelainan pada organ genitalia (internal maupun eksternal) pun tidak ada hambatan psikis yang membuat ketakorgasmean itu muncul.
Dengan struktur internal maupun eksternal yang berbeda, maka memang terdapat perbedaan tipe orgasme antara wanita dan pria. Tuhan menganugrahi wanita dengan tipe orgasme yang paling banyak, begitu juga dengan kemampuan multiple orgasmicnya, sedangkan pria lebih sedikit tipenya. 

Mungkin ini dikaitkan dengan posisi pria sebagai pemimpin bagi wanita dalam ajaran agama, sehingga dengan tipe orgasme yang tidak sebanyak wanita diharapkan ia lebih fokus dalam melaksanakan kepemimpinannya terhadap wanita, fisik maupun psikis. Sebaliknya, pada wanita karena “tugas” kerumahtanggaan yang banyak dan juga menjadi ladang pahala baginya, termasuk mengasuh anak, mengelola rumah tangga dan sebagainya, ia diberi “bonus” berbagai tipe orgasme yang bisa diraih sebagian maupun seluruhnya pada saat berhubungan suami istri.

Pendidikan · Rumah Tangga · Seksologi

Seksologi Suami Istri : Seks sebagai Anugerah

Tuhan menciptakan rasa dan nafsu yang melekat pada manusia secara instinktif, yang karena rasa dan nafsu tersebut, memunculkan keinginan untuk menyalurkannya dalam bentuk hubungan seksual.

Apakah hubungan seksual itu diharamkan? Tidak. Hubungan seksual sama sekali tidak diharamkan. Yang menjadikan haram adalah kriteria yang melekat pada subjek yang melakukan hubungan tersebut. Dalam konteks negara, maka hubungan tersebut baru bisa dilakukan bila pasangan tersebut terdaftar di Kantor Urusan Agama bagi yang Islam, atau di Kantor Catatan Sipil bagi masyarakat lain yang memilih untuk itu. Namun dalam konteks norma dan agama, kriteria bisa bertambah, misalnya hubungan dengan ibu, ayah, saudara sekandung dan sebagainya.

Mengapa hubungan seksual tersebut seolah dikerangkengi? Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia yang sempurna, diberi akal dan pikiran serta hati nurani, dan sangat-sangat berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya seperti binatang misalnya. Binatang, juga diberi nafsu seksual instinktif dan bisa menyalurkannya setiap saat dengan pasangannya atau pasangan yang dikehendakinya. Secara “keilahian”, Tuhan sudah memberikan sinyal bahwa kita sebagai manusia itu diberi kedudukan yang jauh lebih terhormat dibandingkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia diharapkan (pilihan) bisa menangkap dan memaknai sinyal tersebut dan memilih jalan yang seharusnya.

Hubungan seksual selain berfungsi sebagai suatu proses awal pembentukan makhluk lain untuk keturunan, sejatinya adalah juga untuk membersamai (!) pencapaian rasa kepuasan bagi kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Inilah yang sering tidak disadari oleh pasangan suami istri, karena walaupun tidak tertulis, namun dalam hubungan seksual tersebut timbul hak dan kewajiban bagi masing-masing, yaitu hak untuk dipuasi serta kewajiban untuk memuasi pasangannya. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, seringkali justru istri yang tidak terpenuhi haknya oleh suami.

Rasa kepuasan tersebut terkait dengan istilah orgasme (dalam beberapa literatur sering juga disebut dengan The Big “O”). Lalu, apa sebetulnya pengertian orgasme tersebut? Secara etimologi, orgasme berasal dari kata Bahasa Yunani “orgasmos” yang dalam kamus Oxford English Dictionary diartikan sebagai “to swell as with moisture, be excited or eager”. Bila merujuk ke Kinsey Reports, orgasme didefiniskan sebagai “The expulsive discharge of neuromuscular tensions at the peak of sexual response.” Deskripsi yang lebih teknis ditulis oleh Masters and Johnson, konsultan dan seksolog, bahwa orgasme adalah “A brief episode of physical release from the vasocongestion and myotonic increment developed in response to sexual stimuli.”
John Money, dan kawan-kawan, mendefinisikan orgasme sebagai: “The zenith of sexuoerotic experience that men and women characterize subjectively as voluptuous rapture or ecstasy. It occurs simultaneously in the brain/mind and the pelvic genitalia. Irrespective of its locus of onset, the occurrence of orgasm is contingent upon reciprocal intercommunication between neural networks in the brain, above, and the pelvic genitalia, below, and it does not survive their disconnection by the severance of the spinal cord. However, it is able to survive even extensive trauma at either end.”
Bila disimpulkan, maka orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.
Lalu, apa alasan saya merasa perlu membahas masalah The Big “O” dan mendiskusikannya? Bersambung.
*Seminar Ketofastosis by Hazil Aulia

Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah Bagian 3

Pagi itu masih menyisakan hujan semalam. Kepak burung dara milik pak kos terdengar riuh di jendela kamar Nasya. Tubuhnya masih dibalut selimut. Amat tenang menikmati kehangatan benda hadiah ulang tahunnya yang ke 28. Rasa kesal karena tak bisa bertemu Rio semalam ditebusnya dengan makan indomie goreng kesukaannya di warung depan kosan. Cara bahagia yang amat sederhana.

Nasya menggeliat. Diraihnya handphone di samping bantal. Masih pukul 07.42, terlalu pagi untuk bangun di hari Minggu seperti ini. Nasya hendak memejamkan mata kembali, ketika tiba-tiba didengarnya suara berisik di depan pintu.

“Assalamu’alaikum cyiiin. Ayo bangun doooong. Musim jomblo udah mau over nih.” 

Cempreng dan asal nyablak. Siapa lagi kalau bukan Dinda? Tak ingin mendengar kegaduhan lebih, dengan malas Nasya menghempaskan selimut dan bangkit dari tempat tidur. Rambutnya masih acak-acakan. Tank top bermotif garis dan celana pendek melekat pada tubuhnya. Perlahan, Nasya memutar knop pintu. Terkejutlah dia, karena di hadapannya tak hanya ada Dinda, tetapi juga Reva. Her trully rival on love life.

Nasya menyembunyikan rasa terkejutnya. “Eh, pagi banget kalian ke sini. Cepet masuk, ntar pak kos mupeng lihat aku pake baju begini.”

“Yeee lagian kamu teh kumaha? Udah dibilangin kalo pake baju tuh jangan sembarangan. Eta bangsa lelembut teh bisa lihat aurat kita. Kamu mau diperkosa jin?” Dinda langsung nyerocos tanpa ampun.

“Buset lo Din. Kalo ngomong kira-kira dong. Enak aja diperkosa jin. Enak kagak, rugi iya.” Dengan bersungut, Nasya membalas ucapan Dinda. Diperkosa jin? Membayangkannya saja malas. Nasya langsung duduk di tempat tidurnya sambil merapikan selimut. Dinda dan Reva duduk di atas karpet. Beberapa plastik bawaan mereka dikeluarkan isinya. Ada banyak makanan dan juga minuman. Dasar emak rempong. Main ke rumah orang bawaannya udah kayak piknik. Nasya geli melihat tingkah sahabatnya.

“Makanya, walau cuma di kamar, kamu tuh tetep harus pake baju sopan. Kan aku udah bilang. Nanti kalo ada jin yang beneran naksir bisa bahaya loh. Kamu bisa jadi perawan tua.”

“Idiiiih makin ngaco aja lu, Din. Pagi-pagi ke rumah orang bawa kabar hepi, kek. Malah ngomongin perawan tua. Iyeee gue belom laku kayak kalian berdua.”

Reva yang sedari tadi diam, akhirnya menimpali, “Sya, yang dibilangin Dinda bener. Aku pernah diganggu jin sampe rasanya pernah pengen cerai dari suami. Katanya jin nya… suka… liatin aku pake baju mini pas di kamar…”

Dengan tersipu malu, Reva menjelaskan itu pada Nasya. Yang diberitahu malah melongo. Hah? Gila! Ternyata bukan cuma laki-laki aja yang tergila-gila sama Reva. Bahkan bangsa demit pun demen. Nasya makin frustasi.

“Iya iya, bentar ya gue pake baju dulu.” Nasya akhirnya mengalah. Diraihnya cardigan dan celana training miliknya yang tergantung di dinding kamar. Dengan cuek Nasya memakainya di depan Reva dan Dinda. Melihat rambutnya yang bagai dijambak orang sekampung, Nasya mengambil sisir.

“Kalian kenapa ke sini? Kok gak ngasih kabar dulu? Gimana kalo pas kalian ke sini gue pergi?” Nasya melirik kedua tamunya dari pantulan cermin sambil merapikan rambutnya.

“Nasya… Ini tuh masih terlalu pagi buat kamu aktivitas. Makanya kami tau kamu masih di rumah. Tadi gak solat subuh ya?” Dinda kembali menanyakan hal tanpa basa-basi. Justru yang ditanya gelagapan. Untung dirinya sedang menghadap cermin, jadi tak ketahuan wajahnya yang memerah dan matanya yang berkelojotan panik.

“Gue… Lagi ngeflek nih.” Huff! Bohong lagi. Dalam hati Nasya menyesal, karena dia dulu pernah berjanji akan solat 5 waktu. Tapi, janji itu sering dilanggarnya.

“Kok ngeflek? Kamu sakit cyin? Apa kecapean?” Nada khawatir dalam suara Dinda justru membuat Nasya makin merasa bersalah.

“Gak kok, aku sehat-sehat aja. Kayak bocah abege aja kamu, Din. Denger orang ngeflek aja kaget.” 

“Kamu tuh orangnya suka sembarangan tau gak. Ngeflek tuh ada banyak sebabnya. Sini duduk! Kita ke sini mau ngomongin soal hidup kamu!”

Kali ini Nasya tercekat. Hari Minggunya yang ingin dilalui dengan santai justru berubah menjadi tegang. 

Ceritaku · islam · Pengalaman

Body Goals : As Sexy As J-Lo

Dear me, you have to remember that your body shape today is gotten by some efforts. You do food combining, some exercise everyday, and teach students every afternoon.

And the result is you can show your new shape to your husband proudly. Although your stomach is a little bit fatty, but your curve is perfect. If someday your body get fatter and sick, just remember this note.

Eat healthy food and do exercises. Read al matsurat and drink the dua water.

And… Don’t forget for being useful for the others. Those make your body and soul will be healthy like today.

Be happy and keep taqwa. Make your husband happier and loves you more and more everyday for your jannah.

Ceritaku · Pengalaman

Saat Susah Disimpan Sendiri, Saat Senang ya Begini Jadinya

Bulan ini pengeluaran kami sangat luar biasa. Beberapa orang saudara dan teman datang dengan permasalahan yang sama, yaitu uang. Padahal kami baru saja sangat gembira karena suami dapat banyak lemburan dan penjualan popok kami laris. Apa mau dikata, karena kami pernah dalam situasi terjepit yang membutuhkan uluran, maka uang yang selama ini kami harapkan bisa ditabung pun berpindah tangan. Itung-itung pengingat diri saat susah, walau dulu pas susah kami tidak merepotkan siapapun kecuali orangtuaku dan mertuaku 😀

Aku sampai bilang pada suami, “Apa Allah gak pengen kita hidup berlebih-lebihan yaang? Memang sih, dibanding tahun lalu, tahun ini keadaan kita jauh lebih baik. Utang tak punya, pekerjaan dan rejeki ada saja. Tapi… kapan kita bisa nabung banyak? Kamu rela kita gak punya rumah hasil jerih payah sendiri?”

Namanya perempuan maak, hal kecil kadang bisa jadi bahan keluhan yang panjang 😀

Seperti biasa, suami menjawab kalem, “Ya gakpapa, dibanding tahun lalu, mungkin sekarang kita udah jadi orang. Kalo dulu kita bukan apa-apa. Mau makan aja susah. Kalopun gak punya rumah gakpapa, yang penting bisa nolongin orang.”

Duh maaak. Bukan bermaksud hati pelit. Tapi membayangkan kami gak punya rumah sendiri rasanya mengerikan. Eits, sebetulnya kami sudah punya rumah warisan. Itu sempat terlupa dari benakku. Soalnya rumah itu masih ditempati salah seorang kerabat dan kami tak berniat ‘mengusirnya’. Biarlah nanti kalau saatnya tiba, kami akan mengelolanya.

Sekali lagi aku berpikir mak. Mungkin saat ini kami tidak punya tabungan banyak. Tapi aku sering lupa bahwa kami diberi kecukupan rejeki. Plus, bisa bantu orang. Sebetulnya bicara utang, aku ini sangat pelit mak. Berkali-kali aku dikhianati orang yang berutang. Teman dekat, tetangga dekat, semua sama saja. Melupakan amanah.

Makanya kalau butuh utang, jangan cari aku ya maak 😀

Mungkin gambar di bawah ini lebih tepat sebagai pengingatku mak. Bahwa sedikit tapi mencukupi itu lebih penting. Dan semoga kami bisa mencukupi tabungan untuk ke rumah-Nya as soon as possible. Because that’s our big goal !

Apa yang sedikit tetapi mencukupi

Ceritaku · Fiksi

Perawan-Perawan Telat Nikah bagian 2

Malam belum terlalu larut. Kawasan padat penduduk di belakang pasar induk tersebut masih amat ramai. Suara celoteh anak-anak dan kumpulan orang dewasa terdengar jelas dari dalam kamar berukuran 6×4 meter itu.

Hembusan udara dingin dari AC menyegarkan ruangan yang hanya dihuni oleh Nasya. Dia ngekos sendirian di Bekasi, meninggalkan keluarganya di Sukabumi. Pertemuan dengan Cici tadi sore membuat Nasya berpikir keras.

Cici memang baik. Dia selalu ada menemaninya. Gayanya juga biasa saja. Low profile meski menempati jabatan tinggi di kantor. Cici memang masih membiayai adik-adiknya sekolah. Menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal. Berbeda dengan teman-teman kantor Nasya yang sering membuatnya terintimidasi. Hp baru, tas bermerk, semua adalah makanan sehari-hari Nasya di tempat kerja. Mau tak mau, dia pun terbawa arus. Dia sering membobol tabungannya sendiri untuk ikut tampil gaya di hadapan teman kantornya.

Bahkan, berhutang. Nasya masih ingat ketika dia ditagih oleh debt collector karena tak mampu melunasi cicilan kartu kreditnya. Saat itulah dia meminta bantuan Dinda. Hutang Nasya beralih. Dari bank, berganti sahabat. Meski sudah dekat dengan Cici, Nasya tak pernah menampakkan kesusahan dirinya. Hanya pada Dinda lah dia berani tampil miskin. Bahkan, pernah berhutang hanya sekedar untuk makan. Gajinya sudah habis untuk membayar cicilan dan beli kamera.

Hanya pada Dinda, Nasya merontokkan seluruh harga dirinya. Dia tak berani menghubungi Reva dan terlihat susah di matanya. Meski mereka dekat, Nasya masih menganggap Reva sebagai saingannya. Reva yang selalu beruntung.

Terbayang Reva di matanya. Gadis itu sebetulnya sosok yang biasa saja. Namun, entah mengapa setiap Reva menatapnya, Nasya selalu merasa rendah diri. Reva disukai banyak lelaki. Dia tau bahwa tak sulit bagi Reva untuk berganti gandengan kapanpun dia mau. Otaknya pun cerdas. Dia melakukan pekerjaan freelance dengan skill-nya tanpa harus repot kerja 9 to 5 seperti Nasya.

Reva adalah gadis Jawa. Kulitnya lebih coklat dibanding Nasya. Namun, mata dan bentuk tubuh Reva adalah dambaan banyak pria. Ditambah dengan kecerdasannya, maka sempurnalah Reva di mata laki-laki. Sayangnya, Reva sama seperti perempuan kebanyakan. Terlalu setia hingga dikhianati pacarnya. Setelah itu, Reva mengikuti jejak Dinda untuk berjilbab. Dia pun tak mau lagi pacaran.

“Aku harap kamu juga segera nyusul kami, Sya. Aku tadinya awal make jilbab juga masih jilbab toples. Suka buka tutup. Tapi, kalo dirasa-rasa, kasih sayang Allah gak nanggung. Masa kita ngikutin perintah-Nya juga setengah-setengah?”

Itu adalah kalimat Reva saat mereka bertemu secara kebetulan di mal. Nasya yang saat itu sedang di gerai kopi dengan konsep terbuka, nyaris tersedak melihat seorang gadis berjilbab mendekatinya. Reva, si sintal cerdas itu telah menutupi tubuhnya.

“Kamu gak sayang bodimu ditutup gitu, Va?” tanya Nasya ketika akhirnya Reva bergabung dengannya. Segelas frappacino yang dipesannya sudah tandas. Dan dia memesan lagi segelas ketika Reva memilih untuk duduk dan ngobrol dengan Nasya.

“Enggak, Sya. Justru aku merasa nyaman sekarang. Kamu tau, dulu aku gak pernah sadar kalo aku ini seksi.”

Uhugh! Nasya nyaris tersedak mendengar pengakuan Reva. “Serius lo, Va? Terus kenapa sekarang lo bisa sadar?”

Pipi Reva bersemu merah. Dengan kulitnya yang kecoklatan itu, Reva terlihat mirip Irina Shayk sedang memakai blush on. “Awalnya aku pedekate sama cowok. Kami saling bertukar foto. Tapi aku kaget waktu dia bilang ‘kamu punya bodi yang bagus’. Aku gak percaya. Aku pikir dia gombal.”

“Terus kenapa sekarang jadi percaya? Lo masih hubungan sama cowok yang ngomong bodi lo seksi?”

Reva menggigit bibirnya. “Enggak lah. Dia terkesan mesum jadi aku hindari. Mmm aku kirimin dia foto full body hasil jepretan temenku. Terus aku liat semua foto temenku, memang lebih fokus ke bodiku. Aku malu, Sya.”

“Kenapa malu? Kan itu anugerah. Kamu jadi gampang dapet cowok. Gak kayak aku. Move on dari satu cowok aja susah banget. Tampangku biasa. Dadaku rata. Pinggul bukan bodi gitar. Makin susah nyari pelarian.”

Nasya mengenang laki-laki yang membuat statusnya bagai layangan. Dia bilang tidak bisa terikat dengan Nasya karena statusnya masih sebagai suami orang, tetapi di lain sisi, dia memperlakukan Nasya seperti kekasih. Kondisi ini membuat gadis berkulit langsat itu galau. Hatinya perih dipermainkan, namun justru karena rasa sakit itulah Nasya tak ingin kehilangan Rio, lelaki yang telah setahun menawan hatinya.

Hal yang jauh berbeda dibanding Reva. Meski tak satu kampus dengannya, Nasya tau bahwa Reva banyak didekati laki-laki. Di dalam komunitaspun, Reva banyak yang suka. Bahkan Andre, cowok ganteng berhidung mancung itupun kerap mendekati Reva secara terang-terangan. Namun, Reva bergeming. Justru meminta Andre menjauh karena tak ingin membuat pacarnya marah.

Maka, amat terkejutlah Nasya. Melihat Reva si magnet kumbang mulai menutup dirinya. Memang masih terkesan gaul. Reva memakai rok batik lebar dipadu dengan jump suit abu-abu. Jilbabnya yang berwarna coklat dimasukkan ke dalam jump suit. Tubuhnya yang bak gitar spanyol itu tenggelam dalam pakaian serba kebesaran. Dengan penampilan yang amat-tidak-aduhai ini, siapa yang mau melirik Reva?

Nasya masih mengamati her rival on sexiness-nya ketika dia melihat Reva tersenyum. Reva mendesah pelan, gadis yang memilih terjun dalam bisnis kuliner ini lalu berkata “Sya, apa gunanya kita menarik perhatian laki-laki lewat bentuk tubuh. Suatu saat, mereka bisa berpaling kalo ada yang lebih seksi dari kita. Mungkin selama ini aku yang bodoh. Aku pikir laki-laki tertarik pada diriku. Hatiku. Tapi kalo itu benar, kenapa mereka selingkuh?”

Nasya terdiam sejenak. Dia berpikir apa yang dikatakan Reva ada benarnya. “Tapi Va, yang nikah aja bisa cerai. Kita gak bisa mengharap hubungan penjajakan macam pacaran pasti langgeng dong.”

Nasya tercekat. Apa yang telah dikatakannya justru menohok dirinya sendiri. Apalagi dengan hubunganku yang statusnya gak jelas? Mau bubar susah, lanjut aja gak tau bisa apa gak. Hati Nasya meradang mengingat HTS (hubungan tanpa status) nya.

Lagi-lagi, Reva tersenyum. “Bener Sya. Hubungan yang dilandasi cinta saja, baik cinta karena tubuh, kecerdasan, atau lainnya, pasti berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Makanya perlu pondasi lainnya biar lebih kuat, yaitu karena Allah. Ini aku lagi usaha nyari suami, Sya. Aku gak perlu cinta orangnya, yang penting mau nikah lillah. Aku juga butuh partner buat ngelola kafeku.”

Nasya tersedak. Kali ini lebih hebat. Nikah tanpa cinta? Emang bisa? Nasya tak habis pikir dengan jalan pikiran Reva. Si idol among the men itu telah berubah total. Namun bagaimanapun, Nasya tetap menghargai keputusan Reva. Setidaknya, Reva bisa melupakan mantannya yang brengsek itu dan berubah menjadi baik. Berbeda dengan dirinya. Rio amat sayang untuk dilepaskan. Nasya merasa rugi harus melepaskan segala kenyamanan yang telah dia dapatkan dari Rio. Ada kalanya, rasa nyaman memang candu paling mematikan.

***

Im’a slave for you

I can not hold it

I can not control it

Lagu Britney Spears yang menjadi ringtone hpnya berbunyi. Nasya terlonjak dari lamunannya tentang Reva. Tertera nama Rio di layar. Huff.. Maybe im your real slave. Gumam Nasya dalam hati. Dia menekan tombol OK dan mendekatkan hpnya di telinga.

“Halo, Sayang.. Maaf ya hari ini aku gak bisa ajak kamu jalan. Geby nangis minta diajak main ke Kidzania. Kamu gakpapa kan?” Geby adalah nama anak Rio.

“Oh.. Gakpapa. Ya udah kita ketemu minggu depan aja. Kamu senengin Geby dulu sana.”

“Ok, love you honey. Bye

Nasya tercekat. Telepon itu sudah ditutup sebelum Nasya sempat membalasnya. Do you really love me, Rio? Hati Nasya terasa digesek sembilu mengingat lelaki yang katanya sedang dalam proses perceraian itu. Bukan, Nasya bukan penyebab Rio dan istrinya bercerai.

Dulu, mereka menikah karena kecelakaan. Tiga tahun setelah hasil perbuatan mereka lahir, istri Rio mengajukan cerai. Kini, mereka sudah pisah rumah. Oleh sebab itulah, Nasya sering dibawa Rio ke rumahnya. Mereka dulu berkenalan saat Nasya melakukan company visit ke perusahaan tempat Rio bekerja. Mereka bertukar nomor hp dan pin bbm, hingga akhirnya jadi akrab dan amat dekat.

Hati Nasya gamang. Meski dalam sedang proses cerai, tetapi Rio tak pernah mengajaknya menikah. Menggantikan istrinya yang sekarang. Bahkan, setiap kali Nasya membicarakan khayalannya tentang pernikahan, Rio terkesan menghindar.

Rio, cintakah kau padaku? Nasya menarik selimut dan menenggelamkan kepalanya. Mencoba tidur, melupakan Rio dan segala sakit yang dia rasa.